Inter Milan Terpuruk di Liga Champions: 6 Kekalahan dalam 7 Laga, Kontras dengan Keperkasaan di Serie A

Inter Milan kalah 1-2 di Bernabéu. Enam kekalahan dalam tujuh laga Liga Champions, pertahanan disorot, Chivu diminta memperbaiki organisasi tim.

BolaCom | Asad ArifinDiterbitkan 10 September 2026, 21:10 WIB
Pemain Inter Milan Lautaro Martinez berusaha menaklukkan kiper Real Madrid Thibaut Courtois dalam laga Liga Champions antara Real Madrid vs Inter Milan di Madrid, Spanyol, Selasa, 8 September 2026. (AP Photo/Bernat Armangue)

Bola.com, Jakarta - Inter Milan menelan hasil buruk di Liga Champions setelah kalah 1-2 dari Real Madrid di Santiago Bernabéu, Selasa (9/9/2026). Kekalahan tersebut memperpanjang tren minor Nerazzurri dengan enam kekalahan dalam tujuh pertandingan terakhir di kompetisi Eropa.

Situasi ini berbanding terbalik dengan performa Inter di Serie A. Di bawah asuhan Cristian Chivu, La Beneamata justru tampil meyakinkan dan menunjukkan produktivitas yang menjadi salah satu kekuatan utama mereka.

Advertisement

Enam kekalahan dalam tujuh laga terakhir Liga Champions menunjukkan persoalan yang tidak bisa lagi dianggap sebagai kebetulan. Terlebih, Inter hanya mencatat satu kemenangan dalam periode tersebut, yakni saat mengalahkan Borussia Dortmund 2-0.

Performa Inter di Madrid kembali memperlihatkan persoalan yang sama. Dominasi penguasaan bola tidak mampu menutup celah di lini belakang ketika mereka menghadapi tekanan dan kualitas pemain lawan.


Kekalahan dari Real Madrid Ungkap Masalah Inter

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu tampak gembira usai timnya menang atas Como dalam lanjutan Serie A, Senin (13/4/2026) dini hari WIB. (AFP/Cruciatti Piero)

Inter memang mampu menguasai bola di Santiago Bernabéu. Namun, Real Madrid tetap menciptakan sedikitnya enam peluang emas dan membuat lini belakang Nerazzurri berada dalam tekanan.

Inter bahkan harus mengandalkan Josep Martínez untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Kiper asal Spanyol tersebut beberapa kali menjadi penyelamat meski sempat melakukan kesalahan dalam pertandingan.

Jurnalis Stefano Pasquino dalam tulisannya untuk Tuttosport menyoroti perbedaan efektivitas pendekatan taktis Chivu di Serie A dan Liga Champions. Sistem ofensif yang bekerja ketika menghadapi lawan domestik justru membuka kerentanan ketika Inter berhadapan dengan tim elite Eropa.

Kemenangan dramatis 3-2 atas Napoli menjadi salah satu gambaran keberhasilan pendekatan tersebut di Serie A. Namun, ketika kualitas lawan meningkat di Liga Champions, persoalan keseimbangan tim saat kehilangan bola menjadi lebih mudah dieksploitasi.


Enam Kekalahan dalam Tujuh Laga Liga Champions

Pemain Real Madrid Vinicius Junior menggiring bola dikejar pemain Inter Milan Nicolo Barella dalam laga Liga Champions antara Real Madrid vs Inter Milan di Madrid, Spanyol, Selasa, 8 September 2026. (AP Photo/Bernat Armangue)

Perbedaan era Chivu dan Simone Inzaghi juga terlihat dari catatan di Liga Champions. Inzaghi membawa Inter ke dua final kompetisi Eropa dalam tiga musim dan hanya menelan sembilan kekalahan dari 44 pertandingan, sedangkan Chivu sudah mencatat enam kekalahan dalam 11 laga awalnya di kompetisi tersebut.

Rata-rata dua gol kebobolan per pertandingan menjadi catatan lain yang mempertegas persoalan Inter di bawah Chivu. Pendekatan menyerang belum sepenuhnya diimbangi struktur pertahanan yang solid ketika penguasaan bola berpindah kepada lawan.

Dalam tujuh pertandingan terakhir Liga Champions, Inter hanya menang sekali. Rangkaian tersebut dimulai dari kekalahan 1-2 melawan Atlético Madrid pada 26 November 2025 dan berlanjut hingga kekalahan terbaru dari Real Madrid.

Berikut hasil tujuh laga terakhir Inter di Liga Champions:

  • 09/09/2026: Inter 1-2 Real Madrid
  • 24/02/2026: Bodo/Glimt 2-1 Inter
  • 18/02/2026: Inter 1-3 Bodo/Glimt
  • 28/01/2026: Inter 2-0 Dortmund
  • 20/01/2026: Arsenal 3-1 Inter
  • 09/12/2025: Liverpool 1-0 Inter
  • 26/11/2025: Inter 1-2 Atlético Madrid

Jika Chivu tidak segera menemukan keseimbangan antara agresivitas menyerang dan organisasi pertahanan, Inter berisiko terus kesulitan ketika menghadapi lawan dengan kualitas tinggi di Liga Champions. Performa impresif di Serie A belum cukup menjadi jaminan jika masalah tersebut terus muncul di level Eropa.

Sumber: Football Italia

Berita Terkait