Bola.com, Como - Tagline pada profil media sosial Como 1907 yang berbunyi "The most beautiful football in the most beautiful location" bukan sekadar omong kosong.
Klub asal Italia yang bermarkas di tepi Danau Como ini tidak hanya menyajikan permainan sepak bola atraktif di Serie A, tetapi juga mencatatkan sejarah baru dengan melakoni debut di Liga Champions melawan RB Leipzig.
Pencapaian ini terbilang luar biasa mengingat Stadion Giuseppe Sinigaglia yang berkapasitas 13.000 penonton tersebut dulunya sempat memprihatinkan.
Sejak diambil alih oleh Djarum Group pada 2019, nilai klub yang awalnya berada di bawah 1 juta euro diperkirakan bakal terus melonjak hingga melampaui target 1 miliar euro.
Gagasan awal investasi ini bermula ketika Mola TV anak dari perusahaan Djarum yang berencana membuat dokumenter sepak bola di Italia.
Saat melakukan penjajakan di Milan, Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso, menemukan potensi besar pada Como yang kala itu baru promosi ke Serie C namun memiliki fasilitas dan infrastruktur yang terbengkalai dan kurang layak.
Tata Kelola Manajemen
Di bawah kepemilikan Budi dan Bambang Hartono, tantangan utama klub bukanlah pendanaan, melainkan tata kelola manajemen.
Klub kemudian menunjuk mantan gelandang Timnas Inggris, Dennis Wise, untuk membenahi seluruh operasional, mulai dari membangun fasilitas latihan, akademi, hingga menata manajemen keuangan.
"Saat saya datang ke sana, klub bahkan tidak memiliki lapangan latihan sendiri dan pernah mengalami bangkrut dua kali dengan penonton hanya sekitar 800 orang," ujar Dennis Wise.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil hingga Como berhasil naik kelas ke Serie B pada tahun 2021.
Langkah strategis berlanjut pada 2022 saat Cesc Fabregas bergabung sebagai pemain sekaligus pemegang saham.
Hadirnya Fabregas menjadi katalis penting yang mengantarkan Como kembali ke kasta tertinggi Serie A pada 2024 setelah menanti lebih dari dua dekade.
Model Bisnis Seperti Disney
Setelah promosi, Fabregas mengambil alih peran kepelatihan dan menjadi figur sentral pengembangan tim.
Manajemen menerapkannya dalam model bisnis terpadu dengan memadukan pengalaman sepak bola dan pariwisata Danau Como, yang berhasil mendatangkan jutaan wisatawan serta figur publik mancanegara ke stadion.
"Kami mengibaratkan model bisnis kami seperti Disney, klub dan pengalaman hari pertandingan adalah unit 'taman hiburan' kami yang terhubung dengan lini bisnis lainnya," jelas Mirwan Suwarso.
Strategi belanja pemain yang terukur dan pengembangan merek terbukti mendongkrak nilai pasar skuad Como secara signifikan.
Meski target nilai 1 miliar euro merupakan sasaran jangka menengah hingga panjang, konsistensi Como di ajang domestik dan Eropa menjadi fondasi utama.
Direktur Advisory Football Benchmark, Antonio Di Cianni, menilai bahwa perbaikan fasilitas stadion dan optimalisasi ekosistem bisnis telah berjalan di jalur yang tepat untuk membawa Como menjadi kekuatan baru sepak bola modern.
Sumber: Goal