Ritual Unik, Mengapa Pelatih Liverpool Andoni Iraola Selalu Membalut 2 Jarinya sebelum Pertandingan?

Andoni Iraola terlihat selalu membalut salah satu jari tangannya sebelum pertandingan dimulai.

BolaCom | Arif Anggara MulyaDiterbitkan 14 September 2026, 16:33 WIB
Manajer Bournemouth asal Spanyol, Andoni Iraola, memberikan tepuk tangan kepada para penggemar setelah pertandingan Liga Inggris antara Bournemouth dan Sunderland di Stadion Vitality di Bournemouth, Inggris selatan pada 28 Februari 2026. (Glyn KIRK/AFP)

Bola.com, Jakarta - Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, memiliki kebiasaan unik yang selalu dilakukan sebelum pertandingan. Ia membalut jari telunjuk tangan kanan dan jari tengah tangan kirinya menggunakan selotip putih.

Kebiasaan tersebut kembali terlihat setelah Liverpool menang 2-0 atas Ipswich Town pekan lalu.

Advertisement

Dalam video perayaan gol yang beredar di media sosial, Iraola terlihat menunjuk Milos Kerkez dan Cody Gakpo untuk mengapresiasi kontribusi keduanya dalam proses terciptanya gol.

Kerkez merebut bola yang kemudian berujung pada gol pembuka Alexander Isak, sedangkan Gakpo memberikan assist untuk gol kedua.

Di tengah perayaan itu, selotip yang melilit jari Iraola juga menarik perhatian.


Penjelasan Iraola

Manajer Bournemouth asal Spanyol, Andoni Iraola, memberikan tepuk tangan kepada para penggemar di akhir pertandingan Liga Inggris antara Bournemouth dan Crystal Palace di Stadion Vitality di Bournemouth, Inggris selatan pada 3 Mei 2026. (Glyn KIRK/AFP)

The Athletic mengulas khusus kebiasaan mantan pelatih Rayo Vallecano dan Bournemouth itu.

Ritual tersebut sudah dilakukan Iraola selama bertahun-tahun. Ketika masih menjadi pelatih Bournemouth pada September 2023, pria asal Basque itu mengakui bahwa kebiasaan tersebut hanyalah sebuah takhayul.

"Ini konyol, hanya takhayul. Kadang-kadang ketika masih menjadi pemain, wasit meminta saya melepasnya. Saya melepasnya dan tidak terjadi apa-apa. Namun, saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun sehingga terus melakukannya," kata Iraola kepada Daily Echo.

"Setiap pertandingan, bahkan pada pramusim, saya suka melakukannya. Saya sudah terbiasa, tetapi itu bukan sesuatu yang penting," lanjutnya.

Iraola diketahui sudah memiliki kebiasaan tersebut sejak berada di akademi Athletic Bilbao. Ritual itu kemudian terus dibawanya ketika menjalani karier sebagai pemain hingga beralih menjadi pelatih.


Bukan Hanya Iraola

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, berhasil membawa timnya menjuarai Piala Super Eropa 2019, setelah mengalahkan Chelsea lewat adu penalti dengan skor 5-4 (skor 2-2), di Vodafone Park, Istanbul, Rabu (4/8/2019). (AFP/Ozan Kose)

Takhayul bukan hal asing dalam sepak bola. Sejumlah pemain dan pelatih juga memiliki ritual masing-masing sebelum pertandingan.

"Mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, misalnya, pernah memiliki kebiasaan membelakangi lapangan ketika timnya mengambil penalti. Mantan kiper Liverpool, David James, juga pernah tidak berbicara kepada siapa pun sebelum pertandingan dan meludah ke dinding ketika masih bermain di Anfield," tulis The Athletic.

"Pepe Reina bahkan memiliki serangkaian ritual yang dilakukan sebelum pertandingan. Ia biasa minum segelas anggur dan menyantap dua roti panggang berisi keju serta ham pada malam sebelum laga," tambah media berbasis di California tersebut.


Apa Kata Psikolog Olahraga

3. Pepe Reina – Kiper berkepala plontos ini adalah jebolan asli La Masia. Delapan tahun berseragam Liverpool, pria asal Spanyol ini mampu menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang dan berhasil meraih berbagai trofi untuk The Reds. (AFP/Glyn Kirk)

Psikolog olahraga, Marc Sagal, menjelaskan takhayul sering terbentuk dari hubungan antara suatu kebiasaan dengan hasil positif yang terjadi setelahnya.

"Misalnya, seorang pemain membalut jarinya, bermain bagus, lalu otaknya menghubungkan kedua hal tersebut. Ketika hal itu terjadi beberapa kali, hubungan tersebut makin kuat menjadi sebuah takhayul," ujar Sagal.

Menurutnya, ritual juga dapat memberikan rasa nyaman, membantu fokus, serta menciptakan perasaan memiliki kendali dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti pertandingan sepak bola.

"Saya pikir, selama masih dalam batas yang wajar, takhayul cukup adaptif dan bisa berguna. Tindakan, perilaku, dan ritual yang sudah dikenal dapat memberikan kenyamanan serta membantu fokus. Semua itu juga memberikan perasaan memiliki kendali," katanya.


Bisa Jadi Masalah

Manajer AFC Bournemouth, Andoni Iraola, memeluk Lewis Cook seusai timnya berhasil mengalahkan Liverpool pada pertandingan Liga Inggris di Vitality Stadium, Minggu (25/1/2025) dini hari WIB. (Glyn KIRK / AFP)

Namun, Sagal mengingatkan ritual bisa menjadi masalah jika seseorang terlalu bergantung kepadanya.

Satu di antara cara melihatnya adalah dengan memperhatikan reaksi ketika ritual tersebut tidak dapat dilakukan.

"Jika ritual terganggu, hal itu bisa membuat seseorang tidak stabil dan terdistraksi. Fokus dapat beralih kepada kekhawatiran mengenai ritual yang terhenti, bukan kepada pertandingan," tutur Sagal.

Kebiasaan membalut dua jarinya pun tetap dilakukan Iraola ketika menangani Liverpool, termasuk saat timnya menghadapi Atletico Madrid di Liga Champions, Kamis (10-9-2026) dini hari WIB.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait