Bola.com, Jakarta - General Manager Ducati Corse, Gigi Dall'Igna, menyikapi kebangkitan luar biasa Marc Marquez di panggung MotoGP 2026 dengan sikap tetap membumi.
Kendati sang juara bertahan berhasil memangkas defisit 102 poin usai tampil gemilang di GP Misano dan kini mengambil alih puncak klasemen, pabrikan asal Italia tersebut enggan jemawa dalam perburuan gelar juara dunia.
Saat ini Marc Marquez mengoleksi poin setara pembalap Aprilia, Jorge Martin, sementara Marco Bezzecchi tertinggal 33 angka akibat terjatuh saat memimpin balapan pada hari Minggu lalu.
Situasi berbalik menguntungkan pihak Ducati, Dall’Igna menegaskan perjuangan timnya masih sangat panjang.
"Seperti biasa, Kejuaraan Dunia baru akan berakhir di Valencia, jadi hingga Valencia kita harus terus percaya dan tetap menekan," ujar Dall’Igna kepada Sky Italia.
Tenang dan Fokus
Dall'Igna membeberkan kunci sukses timnya dalam melewati masa-masa sulit di awal musim tanpa harus panik.
"Kami tahu kami menghadapi situasi yang agak unik pada awal tahun. Kami berusaha tetap tenang, tetap fokus, dan mencoba membaik tanpa membuat terlalu banyak kegaduhan, hal itu merupakan salah satu masalah yang kerap ditemui saat tekanan meningkat," ujarnya.
"Saya pikir kami melakukannya dengan baik. Marc juga tampil luar biasa karena dia sangat berpikiran jernih serta mampu melakukan apa yang diperlukan untuk kembali ke jalur persaingan. Namun ,ini belum selesai, masih ada tujuh balapan tersisa, sepertiga kejuaraan, dan segala sesuatunya masih belum pasti," tambahnya.
Ada keunikan tersendiri mengenai jumlah seri tersisa musim ini. Secara resmi masih ada delapan seri di kalender 2026 termasuk GP Qatar yang dijadwalkan ulang pada November.
Akan tetapi, keraguan besar menguat terkait kelangsungan balapan di Sirkuit Lusail tersebut, dan peryataan Dall'Igna yang secara spesifik menyebut 'tujuh balapan tersisa' seolah memberi sinyal bahwa GP Qatar berpotensi batal diselenggarakan.
Tantangan Berat Ducati dan Marquez
Kekhawatiran utama Ducati justru terletak pada masalah teknis, terutama menyangkut kelemahan cengkeraman roda belakang atau rear grip ketika berhadapan dengan konstruksi ban belakang yang lebih keras buatan Michelin.
Konstruksi kaku ini dijadwalkan bakal kembali digunakan pada seri-seri krusial mendatang, seperti di Red Bull Ring, Mandalika, dan Phillip Island.
Mengenai isu ban tersebut, Dall'Igna mengakui Ducati harus bekerja ekstra keras dibanding rival utamanya.
"Mengenai konstruksi ban, katakanlah kami cenderung sedikit lebih berjuang dengan cengkeraman belakang dibanding yang lain, jadi itu adalah sesuatu yang harus kami kerjakan. Namun, saya tetap positif dan percaya diri," ujar sang manajer.
Hormati Rival
Persaingan gelar juara dunia 2026 kini berpusat pada duel segitiga antara Marquez, Martin, dan Bezzecchi, akan tetapi Dall'Igna memilih untuk tetap terbuka dan menaruh rasa hormat kepada seluruh rival.
"Bagi saya, semua pembalap yang secara matematis masih berpeluang dalam persaingan championship adalah kompetitor dan berhak mendapatkan penghormatan tertinggi. Saya ulangi, menurut pendapat saya, syarat utama untuk mengalahkan lawan adalah dengan menghormati mereka," tegasnya.
Pria berpaspor Italia itu menutup keterangannya dengan menegaskan komitmen pantang menyerah demi meraih gelar juara dunia pembalap MotoGP kelima secara beruntun bagi Ducati.
Sumber: Crash