Palsukan Sertifikat Vaksin COVID 19, Granit Xhaka Terancam 5 Tahun Penjara, Ini Pengakuannya

Kapten Sunderland, Granit Xhaka, memalsukan sertifkat vaksinasi COVID-19 dan kini harus berurusan dengan hukum di negaranya, Swiss.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 22 September 2026, 10:15 WIB
Kapten Sunderland dan Timnas Swiss, Granit Xhaka. (Dok. Sunderland)

Bola.com, Jakarta - Kapten Sunderland, Granit Xhaka, buka suara terkait penyelidikan dugaan sertifikat vaksin COVID-19 palsu yang membuatnya terancam hukuman penjara hingga lima tahun di Swiss.

Laporan media Swiss pada akhir pekan lalu menyebut penyelidikan tersebut berkaitan dengan dugaan Xhaka memperoleh sertifikat yang menyatakan dirinya telah menerima vaksin COVID-19, meski sebenarnya belum pernah divaksinasi.

Advertisement

Xhaka juga dikabarkan akan menjalani pemeriksaan di kantor kejaksaan pada awal Oktober.

Kini, mantan gelandang Arsenal itu memberikan pernyataan mengenai persoalan tersebut.


Pernyataan Xhaka

Pemain Swiss Granit Xhaka berebut bola dengan pemain Argentina Nicolas Tagliafico selama pertandingan perempat final Piala Dunia antara Argentina dan Swiss di Kansas City, Mo., Sabtu, 11 Juli 2026. (AP Photo/Abbie Parr)

Dalam pernyataan yang dirilis Senin pagi dan dikutip Give Me Sport, Xhaka mengakui dirinya mengambil keputusan yang keliru ketika menghadapi persoalan vaksin COVID-19.

"Pada saat itu, saya merasa sangat tidak tenang dan memiliki keraguan serius terhadap vaksin COVID-19. Saya sangat tidak memercayai vaksin tersebut serta diliputi ketakutan dan ketidakpastian. Dalam kondisi seperti itu, saya memperoleh sertifikat vaksin alih-alih menyelesaikan pertanyaan yang masih saya miliki melalui jalur yang semestinya," ujarnya.

"Sekarang saya menyadari keputusan tersebut tidak tepat. Itu adalah sebuah kesalahan dan saya menyesalinya. Saya bertanggung jawab atas keputusan tersebut, siap menghadapi pemeriksaan fakta, serta bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang terkait," lanjut pemain berusia 33 tahun tersebut.


Jawaban Xhaka

Gelandang Manchester City Prancis #10, Rayan Cherki (kanan), menembak untuk mencetak gol kedua mereka selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester City dan Sunderland di Stadion Etihad di Manchester, barat laut Inggris, pada 20 September 2026. (PETER POWELL/AFP)

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Xhaka bungkam seusai Sunderland kalah dramatis 3-5 dari Manchester City pada Minggu sore atau malam WIB.

Media Swiss, NZZ, menanyakan kasus tersebut kepada Xhaka. Ia menegaskan ingin fokus pada penampilannya di lapangan.

"Saya tidak punya komentar mengenai hal itu. Saya bermain sepak bola hari ini dan itulah yang penting bagi saya sekarang," ujar Xhaka seperti dikutip Sport Witness.

"Tidak sama sekali. Saya pernah mengalami hal yang lebih buruk," jawab Xhaka ketika kembali ditanya apakah persoalan tersebut memengaruhinya.

Manajer Sunderland, Regis Le Bris, juga enggan membahas persoalan tersebut. Ia menegaskan fokusnya adalah sepak bola dan menyebut Xhaka sangat bagus dalam hal tersebut.


Perkembangan Penyelidikan

Granit Xhaka dari Sunderland (kedua dari kiri) berdebat dengan Ezri Konsa dari Arsenal (tengah depan) dalam pertandingan Liga Inggris antara Sunderland dan Arsenal di Sunderland, Inggris, Minggu (13-9-2026) dini hari WIB. (Foto AP/Ian Hodgson)

Xhaka pernah dinyatakan positif COVID-19 pada September 2022 sehingga harus absen dari pertandingan Timnas Swiss pada bulan tersebut.

Setahun kemudian, seorang dokter asal Lucerne diselidiki karena diduga menerbitkan sertifikat COVID-19 untuk para kliennya tanpa mereka menjalani vaksinasi.

Pengacaranya, Cornel Borbely, sebelumnya menyatakan bahwa dokter tersebut "memvaksinasi Xhaka".

Namun, setelah diketahui Xhaka ternyata tidak menerima vaksin, Blue News melaporkan hukuman terberat yang dapat dihadapi mantan pemain Arsenal itu adalah lima tahun penjara.

Jika dinyatakan bersalah atas pemalsuan dokumen berdasarkan Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jerman (StGB), Xhaka terancam hukuman penjara hingga lima tahun atau denda besar.

Hukuman serupa juga berlaku untuk pelanggaran memperoleh sertifikasi palsu berdasarkan Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait