Andrew Robertson Ungkap Sisi Kelam Liverpool setelah Diogo Jota Meninggal: Kami Tak Peduli Sepak Bola

Andrew Robertson mengungkap masa sulit Liverpool setelah kepergian Diogo Jota.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 23 September 2026, 08:30 WIB
Pendukung Liverpool membentangkan spanduk untuk penghoramatan mendiang Diogo Jota saat laga Liga Inggris 2024/2025 melawan Bournemouth di Anfiled, Liverpool, Inggris, Jumat (15/08/2025) waktu setempat. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Mantan bek Liverpool, Andrew Robertson, mengungkap dampak mendalam yang dirasakan skuad The Reds setelah meninggalnya Diogo Jota dalam kecelakaan mobil pada Juli 2025.

Jota meninggal dunia di Zamora, Spanyol, pada usia 28 tahun. Ia tewas bersama sang adik, Andre Silva, yang ketika itu berusia 25 tahun. Kepergian keduanya meninggalkan duka besar bagi keluarga, rekan setim, dan seluruh elemen Liverpool.

Advertisement

Robertson mengakui tragedi tersebut turut memengaruhi performa Liverpool di lapangan. Menurutnya, sepak bola bahkan menjadi hal yang tidak lagi dipikirkan oleh para pemain karena mereka masih berduka kehilangan salah satu sahabat terbaik di ruang ganti.

"Sulit untuk menggambarkan atau membicarakan apa yang kami lalui. Itu sangat mengerikan. Kami kehilangan salah satu sahabat terbaik di ruang ganti," ujar Robertson dalam podcast Stick to Football.


Beban Tinggi

Pemain Liverpool, Alexis Mac Allister, tampak lesu setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari Crystal Palace dalam laga putaran keempat Carabao Cup 2025/2026 yang digelar di Stadion Anfield, Kamis (30/10/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Jon Super)

Robertson juga merasa kasihan kepada para pemain baru Liverpool yang bergabung pada periode tersebut. Mereka datang dengan ekspektasi besar, tetapi harus beradaptasi dengan ruang ganti yang sedang diliputi kesedihan.

"Mereka datang ke klub yang sedang patah hati. Kami tidak peduli, kami tidak peduli dengan sepak bola. Itulah kenyataannya. Kami kehilangan salah satu sahabat terbaik di ruang ganti," katanya.

Menurut Robertson, kondisi tersebut membuat Liverpool kehilangan sisi kompetitif yang selama bertahun-tahun menjadi kekuatan mereka. Ia menyebut para pemain kehilangan keunggulan dan determinasi untuk tampil maksimal.

"Saya pikir musim lalu kami kehilangan keunggulan itu. Kami kehilangan sedikit determinasi karena terkadang kami berpikir, 'Untuk apa?' Lihat apa yang sedang dialami keluarga Jota, lihat anak-anaknya," tutur Robertson.


Kedekatan dengan Jota

Pemain Liverpool asal Portugal #20, Diogo Jota, merayakan gol ketiga timnya selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Fulham dan Liverpool di Craven Cottage di London pada 21 April 2024. Striker Liverpool Diogo Jota meninggal bersama saudaranya pada 3 Juli 2025 dini hari dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di barat laut Spanyol, kata Garda Sipil Spanyol. (BENJAMIN CREMEL/AFP)

Robertson memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Jota. Ia bahkan menghadiri pernikahan Jota hanya sepekan sebelum sang pemain meninggal dunia. Momen tersebut membuat tragedi yang dialaminya terasa semakin berat.

"Seminggu sebelum dia meninggal, saya berada di pernikahannya. Itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah Anda alami. Melihat dia di hari paling bahagia dalam hidupnya, lalu seminggu kemudian melihat keluarganya hancur," ujar Robertson.

Liverpool kemudian mengabadikan Jota dan Andre Silva melalui sebuah monumen permanen di Anfield. Patung tersebut diberi nama Forever 20, sebagai bentuk penghormatan terhadap Jota yang mengenakan nomor 20 selama memperkuat Liverpool.

Sumber: Empire of The Kop

Berita Terkait