Raphinha dan 6 Pemain yang Kariernya Meledak setelah Ganti Posisi

Pergantian posisi menjadi tantangan bagi sejumlah pemain, tetapi perubahan peran justru membantu mereka menemukan performa terbaik dan berkembang menjadi sosok penting bagi tim.

BolaCom | Fauzi Ananta DharmawanDiterbitkan 24 September 2026, 08:00 WIB
Bola.net > Champions Hasil Barcelona vs Newcastle: Hancurkan Sang Tamu, El Blaugrana Tembus 8 Besar! Editor Serafin Unus Pasi Diperbarui: 19 Maret 2026, 02:44 WIB Hasil Barcelona vs Newcastle: Hancurkan Sang Tamu, El Blaugrana Tembus 8 Besar! Skuad Barcelona merayakan gol Marc Bernal ke gawang Newcastle, Kamis (19/3/2026) (c) AP Photo/Joan Monfort Bola.net - Wakil Spanyol, Barcelona mengunci tiket ke babak perempat final Liga Champions 2025/2026. Mereka berhasil membekuk wakil Inggris, Newcastle, di Camp Nou dengan skor telak 7-2. Pesta gol Barcelona ini dipersembahkan oleh brace dari Raphinha dan Robert Lewandowski plus masing-masing satu gol dari Marc Bernal, Fermin Lopez dan Lamine Yamal. Sementara Newcastle hanya bisa membalas berkat brace dari Anthony Elanga. (AP Photo/Joan Monfort)

Bola.com, Jakarta - Dalam sepak bola, perubahan posisi tidak selalu berarti mundur dari peran utama. Bagi sejumlah pemain, perpindahan posisi justru menjadi titik penting yang mengubah perjalanan karier mereka.

Raphinha menjadi satu di antara contoh terbaru. Setelah lebih dikenal sebagai winger, pemain Barcelona itu kini mendapat peran sebagai striker tengah di bawah Hansi Flick.

Advertisement

Namun, Raphinha bukan satu-satunya pemain yang sukses setelah berganti posisi. Sejumlah nama besar juga pernah mengalami perubahan peran dan justru tampil lebih menonjol setelahnya.

Ada pemain yang awalnya beroperasi sebagai winger kemudian menjadi striker, bek sayap yang bergeser ke lini tengah, hingga gelandang yang sukses bertransformasi menjadi bek tengah.

Berikut lima pemain yang mampu menemukan versi terbaik mereka setelah menjalani perubahan posisi di lapangan.


1. Thierry Henry

Thierry Henry - Bomber asal Prancis ini sempat membawa Arsenal mencapai partai final Liga Champions 2006 namun sayang ia gagal menjadi juara. Setahun berselang, Henry akhirnya pindah ke Barcelona dan pada musim keduanya ia bisa merasakan gelar Liga Champions. (AFP/Glyn Kirk)

Ketika Arsenal merekrut Henry dari Juventus pada 1999, ia merupakan seorang winger yang kesulitan memberikan dampak di Serie A.

Namun, Arsene Wenger memiliki rencana lain.

"Pada titik tertentu, saya ingin menemui Wenger dan memintanya untuk menempatkan saya kembali di posisi sayap," ujar Henry ketika mengenang masa-masa sulitnya setelah gagal mencetak gol dalam tujuh penampilan pertamanya di Liga Inggris.

"Kemudian, saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya harus bangkit, bahwa saya tidak boleh gagal untuk kedua kalinya, hanya beberapa bulan setelah pengalaman buruk di Turin," tambahnya.

Pelajaran sempurna tentang kegigihan. Henry kemudian mencetak 228 gol dalam 376 pertandingan untuk Arsenal.

Wenger tentu bisa merasa cukup puas dengan keputusannya tersebut.


2. Gareth Bale

Gareth Bale. Pemain sayap Wales berusia 32 tahun yang telah berseragam Real Madrid selama 8 musim sejak 2013/2014 ini telah mencetak 16 gol di Liga Champions bersama Los Blancos. Jumlah gol tersebut dicetaknya dari total 56 laga. (AFP/Franck Fife)

Sering dilupakan bahwa ketika menampilkan performa yang memperkenalkan Gareth Bale kepada dunia, yakni hattrick luar biasa di San Siro saat Tottenham kalah 3-4 dari Inter Milan pada 2010, pemain Wales yang melesat tak terbendung di sisi sayap itu masih mengenakan nomor punggung 3.

Saat itu, Bale masih lebih banyak dianggap sebagai bek kiri.

"Hal yang paling luar biasa adalah ketika kami menghadapi mereka di kandang, mereka membiarkan Maicon bermain sebagai bek kanan dan berhadapan satu lawan satu dengan Gareth," kenang Harry Redknapp pada 2015.

"Dia kembali menghancurkannya. Itu menjadi titik buruk bagi Maicon. Dari yang sebelumnya dianggap sebagai bek kanan terbaik di dunia, dia sampai diejek suporter dengan teriakan, 'Taxi for Maicon'." imbuh Redknapp.


3. Cristiano Ronaldo

Striker Real Madrid, Cristiano Ronaldo, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Juventus pada laga final Liga Champions di Stadion Millennium, Cardiff, Wales, Sabtu, (3/6/2017). Real Madrid menang 4-1. (AP/Kirsty Wigglesworth)

Cukup menarik karena keberadaan Raul, Ronaldo tidak bisa mengenakan nomor punggung 7 favoritnya ketika bergabung dengan Real Madrid.

Ia pun menjalani musim pertamanya di Santiago Bernabeu dengan nomor 9.

Setelah pertama kali dikenal sebagai pemain sayap, Sir Alex Ferguson akhirnya tidak punya pilihan selain menggeser Wayne Rooney dan Carlos Tevez ke sisi lapangan untuk mengakomodasi Ronaldo sebagai penyerang tengah.

Melihat jumlah gol yang kemudian dicetak Ronaldo, Rooney dan Tevez tentu tidak perlu merasa terlalu keberatan.


4. Ousmane Dembele

Selebrasi Ousmane Dembele usai menjebol gawang Bayern Munchen, Kamis (7/5/2026) (AP Photo/Matthias Schrader)

Dembele tiba di Barcelona dengan reputasi sebagai salah satu winger muda paling menjanjikan di dunia. Namun, enam tahun kariernya di Barcelona diwarnai berbagai masalah cedera dan inkonsistensi dalam mencetak gol.

Satu di antara momen yang paling dikenang dari kariernya di Camp Nou adalah ketika ia gagal memanfaatkan peluang untuk membawa Barcelona unggul 4-0 atas Liverpool pada leg pertama semifinal Liga Champions 2019.

Tidak ada seorang pun di stadion malam itu yang mungkin memperkirakan bahwa pemain asal Prancis tersebut beberapa tahun kemudian akan menjadi penyerang utama Paris Saint-Germain.

Namun, ia justru berkembang pesat dalam peran tersebut di bawah asuhan Luis Enrique, dengan memenangkan dua gelar Liga Champions secara beruntun serta Ballon d'Or dalam dua tahun terakhir.


5. Ryan Giggs

Ryan Giggs (162 assist) - Giggs merupakan gelandang terbaik yang pernah dimiliki Manchester United. Tercatat, Giggs telah menghasilan 162 assist selama bermain di Premier League. (AFP/Paul Ellis)

Giggs merupakan gambaran klasik seorang winger sepanjang sebagian besar kariernya di Manchester United yang tajam, cepat, memiliki kemampuan teknik tinggi, serta mampu mencetak gol dan memberikan assist.

Gol terkenalnya melawan Arsenal pada semifinal Piala FA 1999 menjadi contoh sempurna dari kualitas yang diharapkan dari seorang winger kiri.

Namun, memasuki masa-masa akhir kariernya, Giggs menunjukkan kecerdasan dalam bermain yang membuatnya mampu menjadi sosok penenang di lini tengah Manchester United.

Ia bertugas mengalirkan umpan kepada para penyerang yang lebih eksplosif, termasuk Rooney dan Ronaldo.


6. Andrea Pirlo

Andrea Pirlo - Mantan pelatih Juventus ini berperan sentral mengantar AC Milan merengkuh trofi Liga Champions pada 2003 dan 2007. Pirlo merupakan pemain tengah jenius dengan kemampuan mendribel bola serta umpan-umpan berkelas yang memanjakan penyerang AC Milan kala itu. (AFP/Paco Serinelli)

Gelandang berjanggut yang menjadi favorit banyak orang ini dikenal sebagai salah satu deep-lying playmaker terbaik dalam satu generasi. Ia juga membuat penggemar sepak bola di seluruh dunia mengenal istilah regista.

Namun, Pirlo sebenarnya mengawali karier sebagai gelandang serang atau trequartista ketika bermain untuk Brescia, Inter Milan, dan Reggina.

Carlo Ancelotti kemudian menempatkan Pirlo di posisi yang lebih dalam saat keduanya berada di AC Milan.

"Dia mengubah karier saya dengan menempatkan saya di depan lini pertahanan. Kami berbagi beberapa momen yang tidak terlupakan. Kami memiliki masa lalu yang luar biasa bersama," kata Pirlo.

 

Sumber: Planet Football