Bola.com, Jakarta - Pembalap Yamaha, Alex Rins, berharap marshal yang terlibat insiden dengannya di MotoGP Mandalika 2026 juga menyampaikan permintaan maaf.
Perselisihan yang terjadi di Sirkuit Mandalika itu sempat memicu ancaman pembunuhan terhadap Rins melalui media sosial.
Insiden bermula pada Jumat lalu, ketika Rins terjatuh dan hendak kembali ke paddock.
Dalam sebuah rekaman video, pembalap asal Spanyol itu terlihat mengacungkan jari tengah kepada seorang marshal yang menolak mengantarnya kembali.
Rins menjelaskan, marshal tersebut awalnya memintanya naik ke skuter. Namun, marshal itu kemudian menyatakan tidak akan membawanya ke paddock. Dua marshal lainnya turut memprotes keputusan tersebut.
Ingin Akhiri Polemik
Crash melaporkan, Rins akhirnya meminta maaf atas reaksinya. Meski demikian, Rins juga mengungkapkan dirinya menerima ancaman pembunuhan dari sejumlah penggemar di media sosial setelah kejadian tersebut.
Seusai balapan MotoGP Mandalika pada Minggu, Rins ingin mengakhiri polemik yang berkembang akibat insiden tersebut. Ia menilai kejadian di Mandalika berlangsung dalam situasi yang sangat ekstrem.
"Situasinya benar-benar kacau. Tidak ada lagi yang perlu saya katakan. Saya sudah meminta maaf," ujar Rins kepada awak media, termasuk Crash.
"Saya berharap, saya benar-benar berharap, marshal itu juga meminta maaf karena situasinya sangat ekstrem. Namun, kita tidak perlu membuang waktu untuk membahas masalah ini. Itu saja," lanjutnya.
Rins sempat berbicara dengan para steward FIM setelah insiden, Jumat. Namun, ia tidak mendapatkan hukuman atas tindakannya.
Keluhkan Performa Motor Yamaha
Di luar polemik dengan marshal, Rins menghadapi kesulitan saat menjalani balapan utama MotoGP Mandalika.
Ia menyelesaikan lomba 27 putaran di posisi ke-15 dengan selisih waktu 31,6 detik dari pembalap terdepan.
Rins mengeluhkan kinerja pengereman mesin (engine braking) dan sistem kontrol traksi (traction control) pada motornya yang dinilai tidak konsisten sepanjang balapan.
Menurutnya, sensasi berkendara pada Minggu berbeda dibandingkan saat menjalani sesi pada Jumat dan Sabtu.
Perubahan kondisi lintasan juga dirasakan oleh seluruh pembalap, tetapi Rins menilai motornya tetap menghadapi persoalan tersendiri.
"Balapan kali ini memberikan sensasi yang sangat buruk. Rasanya jelas tidak sama seperti pada Jumat atau Sabtu," katanya.
"Kondisi lintasan berubah dan semuanya berubah bagi setiap pembalap. Namun, pengereman mesin pada motor saya tidak konsisten. Sistem kontrol traksinya juga mengalami hal yang sama," ungkap Rins.
Satu Kesatuan
Ia mengaku merasakan ketidaknyamanan sejak putaran pertama hingga balapan berakhir. Rins juga menyebut suhu ban yang terlalu tinggi kembali menjadi persoalan.
Sebelum balapan, Rins sebenarnya cukup yakin untuk menggunakan ban lunak, terlebih setelah menjalani sesi pemanasan. Namun, tim Yamaha berkali-kali menyarankannya untuk tidak menggunakan kompon tersebut.
Pembalap berusia 30 tahun itu tidak menyesali keputusan mengikuti rekomendasi tim. Ia menegaskan dirinya dan tim merupakan satu kesatuan, meski masih menyimpan kekecewaan terhadap motor yang dikendarainya.
"Saya sebenarnya cukup yakin untuk menggunakan ban lunak, terlebih setelah sesi pemanasan. Namun, tim benar-benar menyarankan saya untuk tidak memakainya," tuturnya.
"Saya tidak menyesali keputusan itu. Kami adalah sebuah tim. Hal yang saya sesali adalah motor yang kami miliki," ucapnya.
Sumber: Crash