Bos Ducati Akui Bertarung Melawan Masa Lalu dalam Perebutan Gelar Juara MotoGP 2026

General Manager Ducati Lenovo Team, Gigi Dall’Igna, mengakui persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 terasa personal baginya.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Oktober 2026, 11:45 WIB
Bos tim Ducati MotoGP, Gigi Dall'Igna. (Mirco Lazzari gp/Getty Images/AFP)

Bola.com, Jakarta - General Manager Ducati Lenovo Team, Gigi Dall’Igna, mengakui persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 terasa personal baginya.

Ia merasa tengah berhadapan dengan masa lalunya sendiri dalam dua hal, yakni merek Aprilia dan para pembalap yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Advertisement

Persaingan Ducati dan Aprilia semakin memanas menjelang lima seri terakhir MotoGP 2026. Kedua pabrikan tersebut terlibat pertarungan ketat dalam perebutan gelar juara dunia pembalap maupun konstruktor.

Di klasemen pembalap, Jorge Martin memimpin dengan keunggulan hanya dua poin atas Marc Marquez. Sementara itu, Marco Bezzecchi berada di posisi ketiga dengan selisih 46 poin dari pemuncak klasemen.

Situasi tersebut menciptakan persaingan yang sangat ketat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jarak antara dua pembalap teratas sekecil itu ketika kompetisi memasuki tahap akhir musim.

 


Aprilia dan Dua Mantan Pembalap Ducati

Pembalap Aprilia Racing asal Spanyol, Jorge Martin (kiri) dan pembalap Ducati Lenovo Team asal Spanyol, Marc Marquez (kanan), berkompetisi selama Grand Prix MotoGP Thailand di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 1 Maret 2026. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Bagi Dall’Igna, persaingan kali ini memiliki makna tersendiri. Sebelum bergabung dengan Ducati pada 2013, ia lebih dahulu menghabiskan waktu bersama Aprilia dan menjadi salah satu sosok penting di pabrikan tersebut.

Selain faktor merek, dua pembalap Aprilia yang kini bersaing di papan atas juga memiliki hubungan dengan masa lalunya di Ducati.

Jorge Martin merupakan juara dunia MotoGP 2024 bersama Pramac Racing menggunakan motor Ducati. Namun, ia kemudian memilih bergabung dengan Aprilia setelah Ducati lebih memprioritaskan Marc Marquez untuk mengisi kursi tim pabrikan.

Sementara itu, Bezzecchi sebelumnya membela VR46 Racing Team yang menggunakan motor Ducati. Ia akhirnya pindah ke Aprilia setelah tidak memiliki peluang untuk naik ke tim pabrikan Ducati.

“Benar. Pada akhirnya, ini adalah masa lalu saya karena mereknya. Ini juga masa lalu saya karena para pembalapnya, sebab kedua pembalap Aprilia pernah menjadi pembalap saya,” ujar Dall’Igna di Indonesia, seperti dikutip dari Crash, Sabtu (17/10/2026). 


Sudut Pandang Menarik

General Manager Ducati Lenovo Team, Luigi Dall'Igna (kanan). (Money SHARMA / AFP)

Dall’Igna mengaku tidak terlalu memikirkan hubungan tersebut sebelumnya. Namun, ia mengakui ini menjadi sudut pandang menarik dalam persaingan perebutan gelar juara dunia musim ini.

“Saya memiliki banyak teman di Aprilia. Tentu saja, jika ada yang harus mengalahkan kami, saya pikir akan lebih baik jika mereka adalah teman-teman kami. Jadi, begitulah,” lanjutnya.

Aprilia menghadapi lima seri terakhir dengan dua pembalap di tiga besar klasemen. Untuk saat ini, belum ada rencana menerapkan team order yang mengutamakan salah satu pembalap.

Sebaliknya, Ducati lebih banyak bergantung kepada Marc Marquez sebagai kandidat realistis dalam perebutan gelar juara dunia.

Meski demikian, Dall’Igna menilai memiliki lebih banyak pembalap yang bersaing di barisan depan justru menjadi keuntungan bagi sebuah tim. Ia berharap Ducati bisa memiliki lebih dari satu kandidat juara.

“Menurut saya, semakin banyak pembalap yang berada di depan, semakin baik. Jadi, saya ingin memiliki lebih dari satu pembalap,” tegasnya.

Dengan lima seri tersisa, persaingan Ducati dan Aprilia dipastikan semakin menarik. Martin, Marquez, dan Bezzecchi masih memiliki kepentingan masing-masing dalam perburuan gelar, sementara Dall’Igna harus menghadapi persaingan yang melibatkan dua sosok dari masa lalunya.

Sumber: Crash

Berita Terkait