Bola.com, Jakarta - Bagi publik yang tak pernah terlibat di internal klub pasti menilai manajemen klub di Indonesia terlalu kejam dan gampang memecat pelatih. Padahal bagi para pelaku sepak bola Nasional, terutama pelatih, tak heran lagi dengan fenomena ini.
Sebenarnya manajemen tak sembarang mengambil keputusan untuk menghentikan kerjasama dengan sang jurutaktik. Parameter dengan poin tertinggi adalah kegagalan seorang pelatih mengangkat performa tim yang berbuntut pada jebloknya prestasi.
Patokan lain, misalnya, si pelatih indisipliner dan melanggar pasal yang tercantum dalam kontrak yang telah disepakati bersama klub.
"Pemecatan pelatih bukan fenomena baru di sepak bola. Ini terjadi di seluruh dunia. Sejak dulu pelatih yang dinilai memenuhi target memang harus melepas jabatannya. Kebetulan Liga Indonesia dianggap terlalu mudah memecat pelatih di awal musim. Sehingga kompetisi kita dinilai sangat kejam," kata Gusnul Yakin.
Tergantung Klausul
Sosok yang pernah menukangi beberapa klub di Indonesia ini menjelaskan pemutusan hubungan antara klub dengan pelatih telah diatur di kontrak.
"Jadi menurut saya soal pemecatan pelatih ini tak perlu diperdebatkan lagi. Karena semua ada di kontrak kerja. Klub punya hak memecat. Pelatih pun tahu risikonya jika gagal harus berhenti bekerja. Kerja profesional memang seperti. Ada reward and punishment," jelasnya.
Soal pemecatan arsitek di BRI Super League 2026/2027 yang dialami Mario Lemos, Jean-Paul van Gastel, dan Marcos Santos, pengamat sepak bola senior asal Malang menduga ada klausul kesepakatan khusus dengan klub yang mereka tangani.
"Mungkin antara klub dan pelatih tersebut ada kesepakatan. Misalnya, jika beberapa kali kalah beruntun si pelatih harus dipecat. Atau target poin yang gagal dipenuhi sang pelatih dalam sejumlah pertandingan awal musim. Klausul itu mungkin saja ada. Tapi kita yang di luar sistem tak tahu klausul itu," paparnya.
Siapa pun Berhak Bersuara
Gusnul Yakin menyatakan teknologi informasi yang masif membuat siapapun berhak bersuara soal kinerja tim dan kasus pemecatan pelatih tersebut.
"Dulu teknologi digital belum maju, pemecatan pelatih tak pernah heboh seperti sekarang. Saya kira publik harus melek literasi lebih mendalam soal sepak bola. Sehingga tak terjadi pro kontra sampai viral seperti bola liar," tuturnya.