Membongkar Kesalahan AS Roma yang Berujung Kekalahan dari Manchester United

Manchester United menang 3-2 atas AS Roma setelah bangkit dari ketertinggalan. Gian Piero Gasperini mengungkap faktor penyebab kekalahan timnya.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 04 November 2026, 09:38 WIB
Pemain AS Roma Matias Soule melakukan percobaan mencetak gol dalam laga Liga Champions antara Manchester United vs AS Roma di Manchester, Inggris, Selasa, 3 November 2026. (AP Photo/Jon Super)

Bola.com, Jakarta - Dua gol dalam 18 menit pertama seharusnya menjadi modal kuat bagi AS Roma untuk mencuri kemenangan di Old Trafford. Namun, keunggulan tersebut justru menguap setelah Manchester United menunjukkan reaksi luar biasa pada babak kedua dan menutup pertandingan dengan kemenangan 3-2.

Hasil pada matchday keempat fase liga Liga Champions 2026-2027, Rabu (4/11/2026) dini hari WIB, menjadi pukulan bagi tim asuhan Gian Piero Gasperini. Mereka gagal mempertahankan dominasi awal dan harus menerima kenyataan kebobolan tiga gol setelah turun minum.

Advertisement

Gasperini tidak menganggap kekalahan ini terjadi semata-mata karena kebangkitan lawan. Ia membongkar sejumlah kelemahan timnya sendiri, terutama setelah penalti Bruno Fernandes mengubah jalannya pertandingan. Ada tiga faktor utama yang membuat AS Roma kehilangan keunggulan di Old Trafford.


Gol Bruno Fernandes Membuka Jalan Kebangkitan

Pemain Manchester United, Bruno Fernandes, mencetak gol melalui penalti—gol pertama bagi timnya—dalam pertandingan fase pembuka Liga Champions antara Manchester United dan AS Roma di Manchester, Inggris, Rabu (4-11-2026). (Foto AP/Jon Super)

AS Roma sempat mengendalikan pertandingan melalui gol Matias Soule pada menit ke-11 dan penalti Donyell Malen enam menit kemudian. Tim tamu bahkan memiliki beberapa kesempatan untuk memperbesar keunggulan sebelum Manchester United menemukan momentum.

Namun, gol Bruno Fernandes dari titik penalti pada menit ke-58 mengubah situasi. Eksekusi pertamanya sempat digagalkan Devis Vasquez, tetapi wasit memerintahkan pengulangan karena terjadi pelanggaran berupa pemain yang memasuki kotak penalti terlalu cepat.

Gasperini melihat momen tersebut sebagai pemicu perubahan besar dalam pertandingan. Setelah gol itu, Manchester United mendapatkan suntikan kepercayaan diri dan tampil dengan energi yang jauh lebih besar.

Pelatih AS Roma tersebut membandingkan situasi ini dengan pertandingan melawan Real Madrid. Menurutnya, kebangkitan Manchester United kali ini lebih terasa karena perubahan momentum terjadi setelah penalti Fernandes.


Strategi Bertahan AS Roma Tidak Berjalan

Pemain Manchester United Matheus Cunha mencetak gol ketiga timnya dalam laga Liga Champions antara Manchester United vs AS Roma di Manchester, Inggris, Selasa, 3 November 2026. (AP Photo/Jon Super)

Faktor berikutnya adalah kegagalan AS Roma mempertahankan pendekatan permainan yang efektif pada babak pertama. Mereka tidak lagi mampu menekan para penyerang Manchester United seperti sebelumnya dan terlalu sering mundur ke area pertahanan sendiri.

Gasperini mengakui anak asuhnya kehilangan kemampuan menjaga lawan sesuai dengan pola permainan yang telah disiapkan. Kondisi tersebut membuat Manchester United lebih leluasa melakukan pressing sekaligus melancarkan serangan.

Ia menilai AS Roma seharusnya lebih banyak menggunakan umpan panjang ketika menghadapi tekanan tinggi. Selain itu, timnya perlu melakukan lebih banyak duel untuk memutus ritme permainan dan memperlambat tempo pertandingan.

Menurut Gasperini, Manchester United memang diperkirakan akan tampil lebih agresif setelah jeda karena tidak memiliki banyak pilihan selain mengejar ketertinggalan. Sayangnya, AS Roma gagal mengantisipasi perubahan tersebut.


Kehilangan Ketenangan Saat Keunggulan Terancam

Para pemain Manchester United bereaksi setelah laga Liga Champions antara Manchester United vs AS Roma di Manchester, Inggris, Selasa, 3 November 2026. (AP Photo/Jon Super)

Persoalan mentalitas juga menjadi perhatian Gasperini. Ia melihat para pemainnya cenderung kehilangan ketenangan ketika situasi pertandingan mulai berubah.

Hal serupa, menurutnya, pernah terjadi saat menghadapi Real Madrid. AS Roma kembali kesulitan mengatasi tekanan ketika keunggulan yang sudah berada dalam genggaman mulai terancam.

Dalam pertandingan melawan Manchester United, tanda-tanda perubahan terlihat setelah penalti Fernandes. Bryan Mbeumo kemudian membentur tiang gawang dalam waktu kurang dari satu menit setelah gol tersebut.

Situasi semakin buruk ketika Matheus Cunha mencetak dua gol pada menit ke-83 dan ke-86. AS Roma kehilangan keunggulan sekaligus harus menerima kekalahan, meskipun Cunha kemudian mendapat kartu merah pada menit 90+1.

Gasperini menilai timnya perlu belajar menghadapi tekanan tanpa terbebani keharusan meraih kemenangan. Ia juga menyebut kekalahan ini memberikan pelajaran lebih besar dibandingkan pertandingan melawan Real Madrid.

Baginya, AS Roma harus mampu melewati periode tekanan selama 15-20 menit ketika menghadapi tim kuat seperti Manchester United. Kegagalan mengatasi fase tersebut di Old Trafford menjadi bukti bahwa keunggulan awal saja tidak cukup tanpa konsentrasi dan kemampuan mengendalikan permainan hingga akhir.

Sumber: Football Italia


Klasemen

Berita Terkait