Fremantle Buka Suara soal Minimnya Kemunculan Shin Tae-yong di Film The Longest Wait

Sakti Parantean menjelaskan alasan Shin Tae-yong hanya mendapat porsi terbatas dalam film dokumenter The Longest Wait.

BolaCom | Merisa AmandaDiterbitkan 05 November 2026, 15:15 WIB
Film dokumenter THE LONGEST WAIT siap tayang (Fremantle Indonesia and Beach House Pictures)

Bola.com, Jakarta - Minimnya kemunculan Shin Tae-yong dalam film dokumenter "The Longest Wait" menjadi sorotan banyak penonton.

Padahal, pelatih asal Korea Selatan itu memiliki peran signifikan dalam perjalanan Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026, khususnya menuju putaran ketiga.

Advertisement

Menanggapi sorotan tersebut, Executive Producer The Longest Wait, Sakti Parantean, menjelaskan porsi kemunculan seseorang dalam film berkaitan dengan keputusan editorial dan durasi yang tersedia.

Menurut Sakti, pertimbangan produksi juga mencakup ketersediaan materi serta aspek komersial dan legal.

Ia menegaskan, porsi yang terbatas bukan berarti peran seseorang dianggap tidak penting.


Pilihan Editorial dan Durasi Film

Reaksi STY menjadi perhatian, karena pria asal Korea Selatan (Korsel) tersebut memberikan gerak tubuh tak sepakat. (Bola.com/Ikhwan Yanuar)

Sakti menjelaskan, kemunculan maupun ketidakmunculan seseorang dalam film dokumenter merupakan bagian dari pilihan editorial. Tim produksi perlu menyesuaikan materi yang tersedia dengan durasi film.

"Kalau berbicara mengenai kemunculan atau ketidakmunculan seseorang dalam film, hal tersebut berkaitan dengan pilihan editorial dan durasi yang kami miliki," ujar Sakti, dalam wawancara bersama Bola.com, Kamis (5-11-2026).

Ia menegaskan, tidak munculnya seseorang dalam film bukan berarti sosok tersebut tidak memiliki peran penting.

Keputusan editorial diambil untuk menentukan materi yang paling sesuai dengan sudut pandang cerita.

"Bukan berarti seseorang yang tidak muncul dalam film ini tidak memiliki peran penting dalam sejarah Timnas Indonesia," kata Sakti.


Materi dan Aspek Legal Jadi Pertimbangan

Reaksi kecewa pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong saat menghadapi Irak pada laga Grup F putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Kamis (6/6/2024). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Selain keputusan editorial, Sakti menyebut proses produksi mempertimbangkan ketersediaan materi yang dapat digunakan. Materi yang relevan dengan cerita belum tentu seluruhnya dapat dimasukkan ke film.

"Selain itu, ada juga faktor komersial dan legal yang harus dipertimbangkan, seperti izin penggunaan materi, persetujuan dari pihak yang terlibat, serta ketersediaan materi," ujarnya.

Menurut Sakti, pertimbangan tersebut menjadi bagian dari proses produksi dokumenter.

Itulah mengapa, porsi kemunculan seseorang tidak hanya ditentukan oleh besarnya peran dalam perjalanan Timnas Indonesia, tetapi juga oleh materi yang tersedia dan dapat digunakan.

Seperti diketahui, di media sosial banyak netizen, yang juga suporter Timnas Indonesia, mempertanyakan porsi kemunculan Shin Tae-yong dalam "The Longest Wait".

Menurut mereka, kemunculan Shin Tae-yong sangat minim dibandingkan perannya di Timnas Indonesia.

Berita Terkait