Sukses


Evolusi Nike Hypervenom 3, Senjata Neymar hingga Lewandowski

Bola.com — Menyerang dan penetrasi. Kedua hal esensial itulah yang menjadi dasar Nike Football merilis Hypervenom 3 yang bakal dikenakan beberapa bintang sepak bola dunia, di antaranya striker Bayern Munchen, Robert Lewandowski, hingga bomber Manchester United, Marcus Rashford. 

Teknologi dalam sepatu bagi penyerang sepak bola bisa menjadi senjata ampuh untuk mencetak gol. Dengan sepatu yang didesain khusus, para pemain bisa memaksimalkan kemampuannya dengan penyesuaian ukuran kaki untuk membentuk kriteria dan kelebihan sepatu.

"Ini adalah sepatu sepak bola untuk pencetak gol. Setiap komponen sepatu ini dibuat untuk memudahkan pemain mencetak gol," ujar Max Blau, Vice President Nike Football Footwear, dalam rilis yang diterima Bola.com

Nike pertama kali meluncurkan Hypervenom pada 2013 dengan menunjuk Neymar, yang baru bergabung dengan Barcelona, sebagai ikon utama. Bomber asal Brasil itu secara perdana mengenakan Hypervenom pada ajang Piala Konfederasi sebelum tampil di ajang Piala Dunia 2014.

Bintang Barcelona, Neymar (kiri) bersama Footwear Product Line Manager Nike Global Football. Aik Leong LIM, pada acara launching Hypervenom I, di Bangkok, 2013. (Bola.com/Ary Wibowo).

Hypervenom untuk kali pertama mengenalkan teknologi Nikeskin yang terbuat dari perpaduan Mesh serta polyurethane tipis. Dengan Nike All Condition Control (ACC), perpaduan kedua teknologi tersebut diklaim membuat kontrol bola, saat berada dalam kondisi kering atau basah, terasa sama.

Nike Hypervenom I. (Nike.com).

Sejak awal pembuatan, Hypervenom khusus dirancang untuk tipe pemain cepat dan lincah. Oleh karenanya, pada bagian sol memiliki kandungan Nylon padat. Inovasi itu dimaksudkan agar lempengan sol sepatu berbobot 190 gram itu memiliki respons tinggi sehingga pemain dapat bergerak leluasa. 

Desain Nikeskin Hypervenom I. (Dok. Nike).

Inovasi kembali dilakukan dalam peluncuran Nike Hypervenom II. Dari bentuk, perbedaan mencolok terletak dengan adanya teknologi Dynamic Fit Collar (semacam kaos kaki yang menyatu dengan sepatu). Teknologi yang diklaim dapat membuat pergerakan kaki lebih nyaman karena engkel "terkunci" dengan sepatu itu hingga saat ini menjadi salah satu ciri khas dalam edisi lainnya, seperti Mercurial hingga Magista

Desain Nike Hypervenom II. (Dok. Nike).

Pada bagian sol dan bantalan kaki Hypervenom II juga dirancang dengan komponen yang lebih lembut ketimbang edisi pertama. Komponen dalam sepatu berbobot 209 gram itu diklaim dapat memudahkan setiap pemain yang ingin melakukan gerakan zig-zag untuk mengecoh lawan di lapangan. 

Nike Hypervenom II. (Dok. Nike).

Lantas, seperti apa teknologi baru dan inovasi yang terdapat dalam Nike Hypervenom 3? Berikut ini adalah ulasannya: 

2 dari 4 halaman

Flyknit - Poron Foam Pods

1. Flyknit dan Poron Foam Pods

Teknologi Flyknit sebenarnya sudah dipakai pada edisi Hypervenom II. Namun, pada edisi terbaru, teknologi tersebut menjadi dasar utama bagian atas sepatu (upper). Flyknit yang memiliki bahan dasar dari rajutan kain diklaim membuat bobot sepatu lebih ringan dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Sketchbook teknologi dalam Nike Hypervenom III. (Dok. Nike).

Hypervenom 3 juga tidak hanya menggunakan Flyknit, tetapi juga memadukannya dengan lapisan Poron foam pods dengan ketebalan 2mm. Lapisan itu pun membuat bobot Hypervenom 3 lebih ringan 17 persen dari edisi sebelumnya (196 gram).

"Kami ingin bagian upper Hypervenom 3 lebih fleksibel serta ringan dan kami tahu Flyknit adalah cara terbaik mewujudkan hal itu. Dengan mengurangi rancangan piksel, kami dapat mengikat tekstur pada tempat yang dibutuhkan," ujar perancang Nike Hypervenom 3, Dylan Van Atta.

3 dari 4 halaman

Flywire

2. Flywire

Teknologi Flywire sebenarnya sudah menjadi bagian dalam sepatu sepak bola keluaran Nike sebelumnya. Flywire memiliki fungsi untuk menyangga ukuran kaki agar dapat menyesuaikan sepatu dengan untaian tali berbahan fiber pada bagian kedua sisi samping.

Sketchbook teknologi dalam Nike Hypervenom III. (Dok. Nike).

Perbedaannya kini dalam Hypervenom 3 adalah penambahan panjang tali menjadi tiga meter, setelah sebelumnya pada Hypervenom II hanya satu meter. Inovasi Flywire ini pun menggunakan sistem ikat sehingga memungkinkan pemain dapat mengatur setiap lubang tali.

4 dari 4 halaman

Hyper-Reactive Plate

3. Hyper-Reactive Plate

Hypervenom 3 menjadi sepatu sepak bola keluaran Nike pertama yang menggunakan fitur teknologi Hyper-Reactive plate. Teknologi tersebut dipadukan dengan Pebax, yang biasanya menjadi material utama bagian bawah sepatu lari, serta nylon padat yang berfungsi sebagai penyangga.

Sketchbook teknologi dalam Nike Hypervenom III. (Dok. Nike).

Dylan Van Atta mengungkapkan, pihaknya telah mengembangkan teknologi Hyper-Reactive plate selama enam tahun. Menurut dia, teknologi tersebut terinspirasi dari Nike Free yang membuat kaki bagian depan lebih fleksibel, khususnya saat tumit terangkat ketika pemain ingin melakukan penetrasi.

"Kami juga meninggikan bagian hexagon studs (pul sepatu) untuk rotasi push off agar pemain bisa menggiring bola dengan percaya diri," Van Atta menuturkan.

Vice President Nike Football Footwear, Max Blau, pun memberi kesimpulan, "Kami telah membuat lebih dari 200 prototipe sebelum memperoleh hasil yang pas sesuai dengan yang diinginkan para pemain dengan beberapa teknologi yang terdapat dalam sepatu ini."

Sumber: Berbagai sumber

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, La Liga, Liga Champions, dan Liga Europa, dengan kualitas HD di sini

Ini 5 Supermodel Dunia yang Menjalin Hubungan dengan Atlet

Video Populer

Foto Populer