Sukses


Cara Mantan Gelandang Manchester City Perangi Rasialisme di Sepak Bola

Bola.com, Manchester - Satu di antara permasalahan yang tak kunjung usai di dunia sepak bola ialah tindakan rasialisme atau rasisme. Beberapa pesepak bola kerap menjadi korban tindakan rasialis saat berada di lapangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kasus rasisme masih kerap terjadi di Eropa, terutama Serie A. Kondisi tersebut ternyata menjadi perhatian mantan pemain Manchester City, Yaya Toure.

Dilansir dari BBC, Jumat (20/11/2019), Yaya Toure berbicara dengan FIFA perihal rasisme karena hal tersebut sangat penting. Menurutnya fans sepak bola sekarang lebih bodoh ketimbang dahulu.

"Saya sudah mengobrol dengan FIFA karena ini adalah sesuatu yang sangat penting," kata Yaya Toure.

"Ini akan sulit karena cara untuk memenangkan kasus ini akan lama. Fans, orang-orang, sekarang terlihat lebih bodoh daripada sebelumnya

"Tentu saja mengejutkan karena kita berada pada 2019. Pada 2020, 2025 kita memiliki anak-anak yang datang, apa yang akan kita lakukan? Anda tidak bisa terus seperti itu," tambahnya.

Dalam beberapa bulan terakhir tindakan rasialisme banyak terjadi di sepak bola, teruma di Serie A. Rekan setim Toure di Manchester City, Mario Balotelli, mendapat perlakuan rasis dari suporter tuan rumah Hellas Verona November lalu.

Kemudian penyerang Inter Milan, Romelu Lukaku diteriaki suara monyet dari fans Cagliari. Tak sampai disitu, media lokal Italia, Corriere dello Sport, membuat headline yang berbau rasialisme jelang laga Inter Milan versus AS Roma dengan tajuk 'Black Friday' yang disertai foto Lukaku dan Chris Smalling.

 

2 dari 2 halaman

Kampanye Buruk Serie A

Serie A baru-baru ini berinisiatif memerangi kasus rasialisme yang terjadi di sepak bola Italia. Namun, kampanye yang dilakukan Serie A dinilai buruk.

Tak sedikit klub-klub Serie A hingga para pencinta sepak bola yang melontarkan kritikan karena kampanye yang buruk. Untuk memerangi tindakan rasialis, Serie A meluncurkan lukisan tiga monyet dengan warna berbeda karya Simone Fugazzotto.

Pemilihan monyet sebagai cara memerangi rasisme membuat banyak orang memberikan kritikan kepada Serie A. Meskipun sang pembuat lukisan tersebut sudah memberikan alasan mengapa memilih monyet sebagai simbol dalam memerangi rasisme di Serie A.

Fugazzotto menyebut ia ingin memberi tahu kalau semua orang pada dasarnya adalah monyet.

"Tugas seorang seniman adalah mengubah persepsi orang melalui karya seni. Tiga lukisan monyet ini menunjukkan kalau kita adalah makhluk yang kompleks, yang bsia saja sedih, senang, Katolik, Muslim, atau Budha. Tetapi pada akhirnya, bukan warna kulit yang menentukan segalanya," kata Fugazzotto.

"Jadi, ini merupakan metafora. Pada dasarnya kita semua adalah monyet. Kalau diperhatikan, ada monyet barat, monyet Asia, dan monyet hitam," tambahnya.

 

Sumber: BBC

Diego Simeone dan 7 Legenda Lazio yang Tak Boleh Dilupakan

Video Populer

Foto Populer