Pelatih Nigeria Singgung Permainan Dukun Usai Gagal ke Piala Dunia, Isu Mistis Kembali Mengiringi Piala Afrika

Timnas Nigeria memastikan langkah ke perempat final Piala Afrika, tetapi kegagalan lolos ke Piala Dunia musim panas nanti meninggalkan cerita lain yang tak kalah menyita perhatian.

Bola.com, Jakarta - Timnas Nigeria memastikan langkah ke perempat final Piala Afrika, tetapi kegagalan lolos ke Piala Dunia musim panas nanti meninggalkan cerita lain yang tak kalah menyita perhatian. Kekalahan dari Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) lewat drama adu penalti justru memunculkan tudingan tak biasa dari kubu Super Eagles.

Pelatih Nigeria, Éric Chelle, menyebut kekalahan tersebut tak lepas dari unsur “voodoo”. Pernyataan itu langsung memantik perbincangan luas, sekaligus menghidupkan kembali diskusi lama tentang praktik mistis, jimat, dan kepercayaan supranatural yang kerap melekat pada sepak bola Afrika.

Isu ini bukan hal baru. Sepanjang sejarah sepak bola di Benua Hitam, tudingan soal juju, sihir, hingga ritual tradisional kerap muncul, meski sering kali berada di wilayah rumor dan kepercayaan personal.

Namun, komentar Chelle membuat topik tersebut kembali mengemuka di panggung internasional, terutama di tengah sorotan besar Piala Afrika.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 6 halaman

Pengakuan Chelle dan Tuduhan ‘Voodoo’

Éric Chelle mengaku melihat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman saat adu penalti melawan DR Kongo. Ia menyebut adanya tindakan tertentu dari kubu lawan yang menurutnya berkaitan dengan praktik mistis.

Pelatih Nigeria itu bahkan memperagakan gestur yang diklaimnya ia lihat, seperti gerakan tangan menyiram atau memercikkan cairan ke udara.

“Selama adu penalti, orang dari Kongo itu melakukan semacam voodoo. Setiap kali, selalu seperti itu. Itu yang membuat saya gugup,” ujar Chelle.

 

3 dari 6 halaman

Mistik dan Sepak Bola Afrika

Tudingan soal voodoo, juju, atau sihir memang telah lama menjadi bagian dari folklore sepak bola Afrika. Mulai dari garam yang dilempar ke depan bus tim, pemain masuk lapangan dengan cara tertentu, hingga ritual di lokasi-lokasi yang dianggap sakral.

Pendeta Francis J. Botchway, penulis buku Juju, Magic and Witchcraft in African Soccer: Myth Or Reality?, menilai praktik tersebut lahir dari cara pandang budaya.

“Dalam banyak masyarakat Afrika, tidak ada pemisahan tegas antara kehidupan sehari-hari dan keyakinan spiritual. Tidak ada yang dianggap terjadi secara kebetulan,” ujarnya.

 

4 dari 6 halaman

Kesaksian Mantan Pemain

Legenda sepak bola Zimbabwe, Memory Mucherahowa, pernah mengungkapkan pengalamannya dalam autobiografi tahun 2017. Ia menyebut timnya rutin berkonsultasi dengan dukun sebelum pertandingan.

“Sebagai kapten, saya yang menjalankan apa pun yang diperintahkan sang dukun. Apakah itu benar-benar membantu, saya tidak tahu. Tapi tim lebih percaya pada juju daripada kemampuan pemain,” tulisnya.

Kesaksian serupa datang dari mantan pemain Zambia, Nchimunya Mweetwa. Ia menyebut tim sekolahnya pernah menggunakan minyak juju yang dioleskan ke kaki pemain.

“Mereka yang percaya merasa mendapat energi tambahan. Mereka yakin itu yang membuat tim menang, bukan latihan di lapangan,” katanya.

 

5 dari 6 halaman

Bukan Sekadar Soal Afrika

Pendeta Botchway mengingatkan agar isu ini tidak dilihat dengan sudut pandang merendahkan. Menurutnya, kepercayaan dan ritual berbasis iman juga lazim di sepak bola Eropa dan Amerika.

Ia mencontohkan kebiasaan pemain yang mengucap syukur kepada Tuhan usai mencetak gol, mengenakan kaus bertema keimanan, atau gestur religius saat selebrasi.

“Standar ganda sering diterapkan. Ritual iman di Eropa dianggap normal, sementara praktik serupa di Afrika langsung dicap mistis,” ujarnya.

 

6 dari 6 halaman

Upaya Mengubah Citra

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) sendiri telah lama berupaya menjauhkan turnamen dari citra mistis. Sejumlah insiden di masa lalu bahkan dinilai merugikan reputasi sepak bola Afrika di mata dunia.

Seorang juru bicara CAF pernah menegaskan, “Kami tidak ingin melihat dukun di lapangan, sama seperti kami tidak ingin melihat stereotip lain yang merugikan. Citra adalah segalanya.”

Pernyataan Éric Chelle pun kini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap Piala Afrika, sepak bola di benua ini masih kerap bersinggungan dengan warisan budaya, kepercayaan, dan persepsi global yang belum sepenuhnya sirna.

Sumber: BBC

Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer