Petit Ungkap Bagaimana Zidane Seharusnya Balas Materazzi tanpa Menanduk di Final Piala Dunia 2006

Emmanuel Petit mengungkap bagaimana Zinedine Zidane seharusnya membalas Marci Materazzi dalam insiden "tandukan" di final Piala Dunia 2006.

Bola.com, Jakarta - Zinedine Zidane seharusnya tidak menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006, tetapi kalau memang ingin berhadapan dengannya setelah pertandingan, Emmanuel Petit akan jadi yang pertama mendukungnya.

Hal tersebut disampaikan Petit, mantan rekan setim Zidane di Timnas Prancis.

Petit juga menjelaskan kenapa perlakuan terhadap Zidane berbeda dengan David Beckham ketika keduanya menerima kartu merah di Piala Dunia.

Petit dan Zidane sama-sama mencetak gol di final Piala Dunia 1998 saat Prancis mengalahkan Brasil dan meraih trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Delapan tahun kemudian, Zidane berkesempatan membawa Les Bleus meraih gelar kedua ketika menghadapi Italia di final Piala Dunia 2006.

Di pertandingan terakhir sebelum pensiun itu, Zidane membuka skor lewat penalti Panenka, sebelum Materazzi menyamakan kedudukan. Tetapi, semua sorotan justru jatuh pada insiden di babak tambahan ketika Zidane menanduk Materazzi, menggeser perhatian dari gol-gol yang tercipta.

Wasit Horacio Elizondo mengeluarkan kartu merah untuk Zidane, dan Prancis akhirnya kalah adu penalti tanpa eksekutor andalan mereka.

Baru pada 2023, Materazzi buka suara soal apa yang memicu kemarahan Zidane. 

"Dia menawarkan jersey-nya, saya jawab, 'Tidak, saya lebih suka adik perempuanmu,'" ungkap Materazzi.

Kata-kata itu langsung memicu reaksi emosional Zidane.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 3 halaman

Seharusnya Zidane Fokus Bantu Tim

Dalam podcast talkSPORT "How To Win The World Cup", Emmanuel Petit membahas insiden Zidane dan Materazzi. Menurutnya, reaksi Zidane, menanduk Materazzi, jauh lebih besar dari yang seharusnya.

"Saya rasa itu terlalu berlebihan, maaf harus bilang begitu," kata Petit.

"Provokasi memang ada, tapi Anda tetap harus bisa mengendalikan diri. Dari seorang pemain sehebat Zidane, saya mengharapkan dia bisa bersikap lebih tenang. Tindakan itu jelas tidak sepadan dengan apa yang terjadi," lanjutnya.

Petit menekankan bahwa di lapangan, tekanan dan provokasi memang nyata, tetapi tetap ada batas, dan menurutnya, Zidane melewati batas itu saat menanduk Materazzi.

Petit menambahkan, daripada kehilangan kontrol, Zidane seharusnya tetap fokus membantu tim.

"Yang paling penting, saya lebih suka dia fokus membantu tim nasional memenangkan Piala Dunia kedua," kata Petit.

"Kalau memang mau berkelahi, lakukan nanti di ruang ganti, saya yang pertama ada di belakangnya. Ayo, kita ke ruang ganti Italia dan selesaikan masalah itu. Itu baru namanya loyalitas ke tim," ujarnya sambil tersenyum.

3 dari 3 halaman

Kenapa Zidane Diperlakukan Berbeda dari Beckham

Kartu merah di final 2006 bukanlah pertama kali Zidane dikartu merah di Piala Dunia. Sebelumnya, ia sempat diganjar kartu merah saat Prancis menang 4-0 atas Arab Saudi pada edisi 1998 karena menendang Fuad Anwar.

"Zizou memang terkenal punya temperamen tinggi," kata Petit.

"Dia biasanya tenang dan pendiam, tapi kalau terus diprovokasi, dia akan melawan. Ingat, 1998 dia juga pernah dikartu merah karena situasi serupa. Sepanjang kariernya, dia mungkin lebih dari 10 kali menerima kartu merah. Itu banyak," ujarnya.

Sementara itu, David Beckham juga dikartu merah di Piala Dunia 1998, yang masih menyisakan rasa kesal bagi beberapa pemain, termasuk Michael Owen.

Petit menekankan, masyarakat Prancis berbeda dalam memandang hal itu dibanding Inggris terhadap Beckham.

"Kami memaafkan Zidane. Bahkan Presiden Jacques Chirac pernah bilang di TV, 'Kami memaafkanmu karena kami mencintaimu.' Tidak ada kampanye kebencian, tidak ada patung yang dibakar. Semua orang menghargai apa yang telah dia lakukan untuk Prancis. Dia legenda, di dalam dan luar lapangan. Kita semua manusia, bisa melakukan kesalahan, dan bisa memaafkan," ucap Petit.

 

Sumber: Talksport

Video Populer

Foto Populer