Internal FIFA Dihantui Rasa Malu usai Beri Peace Prize kepada Donald Trump

Muncul rasa malu di internal FIFA menyusul FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Presiden AS, Donald Trump.

Bola.com, Jakarta - Di internal FIFA, rasa tidak nyaman kian menguat. Sejumlah pejabat menengah hingga senior federasi sepak bola dunia itu disebut-sebut mulai merasa malu atas keputusan pemberian FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Trump menerima penghargaan tersebut dalam acara drawing Piala Dunia yang digelar di Washington DC, awal Desember lalu.

Saat itu, Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara langsung menyerahkan trofi tersebut seraya memuji Trump.

"Kami ingin melihat harapan, kami ingin melihat persatuan, kami ingin melihat masa depan. Inilah yang kami harapkan dari seorang pemimpin dan Anda benar-benar layak menerima FIFA Peace Prize pertama," ujar Infantino kepada Trump.

Namun, sejak momen tersebut, situasi politik global bergerak ke arah yang membuat banyak pihak di FIFA gelisah.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 4 halaman

Kontroversi Trump

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah di Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke AS.

Maduro kemudian dipenjarakan dan pada 5 Januari menjalani sidang perdana dengan menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkoba, senjata, serta narko-terorisme.

Di saat yang sama, Trump juga melontarkan ancaman akan menginvasi Greenland, dengan alasan Amerika Serikat sangat membutuhkan wilayah tersebut.

Kegelisahan di tubuh FIFA sejatinya sudah muncul sejak penghargaan itu diberikan. Kala itu, badan sepak bola dunia tersebut tidak pernah membeberkan secara terperinci proses seleksi penerima penghargaan.

3 dari 4 halaman

Internal FIFA Malu?

Kini, menurut seorang sumber senior FIFA, perasaan itu telah berubah menjadi "rasa malu yang mendalam".

Sejumlah pejabat lainnya juga menyampaikan keberatan mereka terhadap cara penghargaan tersebut diberikan dan dikelola.

Seorang pejabat berpengaruh FIFA, yang menolak disebutkan namanya, mengakui bahwa menggelar Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat akan menjadi periode yang "sangat sensitif" dan "sulit", baik pada bulan-bulan menjelang turnamen maupun selama kompetisi berlangsung.

Infantino disebut menjadi satu-satunya figur yang harus berhadapan langsung dengan urusan-urusan politik terkait Trump dalam konteks Piala Dunia. Pejabat-pejabat lain memilih menjaga jarak, karena khawatir keterlibatan itu dapat merusak reputasi mereka.

"Melibatkan diri dalam politik seputar Piala Dunia ini adalah sesuatu yang benar-benar saya hindari. Tugas saya hanya soal sepak bola di lapangan, tidak lebih dari itu," kata seorang sumber di FIFA.

4 dari 4 halaman

FIFA-Trump Solid

Meski demikian, FIFA tetap kukuh mempertahankan keputusannya. Federasi tersebut menegaskan tidak akan menanggapi kabar angin terkait kontroversi tersebut.

"FIFA sangat mendukung penghargaan perdamaian tahunan kami, sebuah penghargaan untuk mengakui tindakan luar biasa dalam memajukan perdamaian dan persatuan. FIFA mencatat bahwa penerima Nobel Perdamaian 2025, pemimpin oposisi Venezuelam Maria Corina Machado, telah menyerahkan medalinya kepada Presiden Trump," demikian pernyataan seorang juru bicara FIFA.

Juru bicara itu juga menegaskan hubungan FIFA dengan Trump tetap kuat.

"FIFA memiliki hubungan yang solid dengan Presiden Trump, serta para pemimpin dari sesama tuan rumah Piala Dunia, Kanada dan Meksiko. Hubungan ini menghasilkan kerja sama yang baik, termasuk di Amerika Serikat dengan dibentuknya White House Task Force untuk Piala Dunia," demikian pernyataan resmi FIFA.

 

Sumber: BBC

Video Populer

Foto Populer