Susah Payah Imbangi Lazio, Spalletti: Juventus Harus Menikmati Tekanan dan Berani Diuji di Momen Sulit

Luciano Spalletti mengatakan Juventus harus menikmati momen sulit dan menguji diri mereka sendiri.

Bola.com, Jakarta - Luciano Spalletti menegaskan Juventus harus belajar hidup di bawah tekanan dan menikmati tantangan ketika berada dalam situasi sulit.

Pernyataan itu disampaikannya usai Bianconeri bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk memaksakan hasil imbang 2-2 melawan Lazio, Senin (9-2-2026) dini hari WIB.

Juventus melakoni duel tersebut dengan beban berat. Di tengah pekan, mereka disingkirkan Atalanta dengan skor telak 0-3 di perempat final Coppa Italia.

Ironisnya, dalam pertandingan itu Juventus justru lebih dominan dalam penguasaan bola dan jumlah peluang, sebuah pola yang kembali terasa saat mereka tertinggal 0-2 dari Lazio lewat gol Pedro dan Gustav Isaksen, meski permainan lebih dikuasai tim tamu.

Namun, respons Juventus kali ini berbeda. Sundulan Weston McKennie membuka asa, sebelum Pierre Kalulu mencetak gol penyeimbang dari jarak dekat di detik-detik akhir pertandingan untuk memastikan skor 2-2.

Secara statistik, Juventus melepaskan 33 tembakan sepanjang laga, berbanding hanya delapan milik Lazio. Meski begitu, ada catatan yang mengkhawatirkan: sepanjang musim Serie A ini, Juventus justru menjadi tim dengan jumlah kesalahan terbanyak yang berujung pada kebobolan gol.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Spalletti Bela Pemain Juventus

Menanggapi kritik atas kesalahan-kesalahan tersebut, Spalletti memilih membela para pemainnya.

"Ini mungkin kesalahan dari tuntutan yang saya berikan kepada para pemain," kata Spalletti kepada DAZN Italia.

"Dalam periode ini, saya meminta mereka untuk langsung memainkan setiap bola yang berhasil direbut, bukan membuangnya begitu saja. Jadi, kami harus mencoba membangun permainan dari bawah di bawah tekanan, sekaligus menambah kualitas permainan kami."

Menurut Spalletti, banyaknya instruksi yang diberikan menuntut pemain untuk terus membaca situasi dengan cepat.

"Ketika Anda membuat banyak permintaan seperti itu, artinya Anda harus mampu mengantisipasi situasi berbahaya, melihat potensi positif dan negatif dari setiap skenario secara bersamaan," ujarnya.

Ia juga menyinggung kesalahan individu yang kerap menjadi sorotan, termasuk yang melibatkan Manuel Locatelli.

"Kesalahan bisa saja terjadi. Locatelli adalah salah satu pemain terbaik kami musim ini, jadi kehilangan bola sekali tidak merusak segalanya. Setelah itu pun masih ada cara kami bertahan, bagaimana kami menutup ruang tembakan, lalu faktor ketidakberuntungan dari bola yang terdefleksi. Itulah sepak bola," jelasnya.

Cepat, tapi Jangan Kacau

Bagi Spalletti, hal terpenting dari laga ini adalah reaksi tim secara keseluruhan.

"Yang harus kami jadikan fondasi adalah reaksi tim dan performa secara umum. Ketika tempo meningkat dan kami mencoba bangkit dari ketertinggalan dua gol, kami tidak boleh menaikkan intensitas sampai menjadi terlalu frenetik."

"Kami memang perlu mempercepat tempo, tapi tidak boleh menjadi kacau. Hari ini, dalam beberapa situasi, kami masih terlalu tergesa-gesa padahal permainan bisa dikembangkan dengan lebih baik," lanjutnya.

"Mempercepat tempo tidak berarti harus tenggelam dalam kekacauan," tegas mantan pelatih Napoli dan Timnas Italia tersebut.

Menikmati Ujian di Level Tertinggi

Lebih jauh, Spalletti memaparkan filosofi sepak bolanya dan menilai Juventus harus belajar menikmati tekanan, terutama ketika rencana awal tidak berjalan sesuai harapan.

"Kami harus hidup di dalam tekanan. Itulah kenikmatan sepak bola, ketika Anda harus membalikkan keadaan dari skor 0-2 di awal babak kedua, sesuatu yang sama sekali tidak kami rencanakan," ucapnya.

"Di momen seperti itulah Anda menguji diri sendiri, melihat apakah Anda mampu menangani ketegangan di level tertinggi. Itu yang harus kami nikmati, untuk mengetahui apakah kami pantas berada di level ini atau tidak."

Menurutnya, karakter sejati sebuah tim terlihat saat segalanya berjalan buruk.

"Karakter berarti tetap berpikir jernih ketika semuanya tidak berjalan baik dan Anda harus membuat keputusan. Itulah yang membuat perbedaan. Tim ini berhasil membalikkan situasi yang sangat sulit dan menunjukkan performa yang hebat, jadi kami melangkah ke depan dengan perasaan lebih tenang," tutur pelatih berusia 66 tahun itu.

 

Sumber: Football Italia

Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer