Sukses


Cerita Unik Mantan Striker Timnas Indonesia yang Memperkuat Porto

Bola.com, Dili - Mantan striker Timnas Indonesia, Miro Baldo Bento, yang memutuskan gantung sepatu pada 2010 kembali ke gelanggang. Pemain yang kini berusia 40 tahun tersebut kini bermain di klub Porto.

Tapi, jangan salah sangka. Porto yang dimaksud bukan klub elite asal Portugal, melainkan FC Porto Taibesse asal Timor Leste. Tak hanya bernama sama, FC Porto Taibesse juga menggunakan kostum dengan corak sama (putih biru) seperti halnya Porto yang ada di Portugal.

Persamaan ini hal yang wajar karena Timor Leste memiliki hubungan yang amat erat dengan Portugal, yang pernah menjajah mereka. Klub yang dibela Miro Baldo Bento saat ini tengah berlaga di babak play-off Liga Timor Leste (Liga Futebol Amadora).

Federasi Sepak Bola Timor Leste (FFTL) untuk kali pertama menggelar kompetisi klub profesional pada 2016 ini. Kehadiran Bento, ikut membantu menarik animo penonton. Walau memutuskan jadi warga negara Indonesia pada 1995, Bento tetap jadi pujaan publik sepak bola Timor Leste yang memisahkan diri dari NKRI pada 20 Mei 2002.

Hal itu terbukti selalu ramainya penonton menyaksikan FC Porto Taibesse bertanding di laga play-off Liga Futebol Amadora di Stadion Nasional Dili. Sekalipun usianya sudah terhitung tua untuk ukuran pesepak bola profesional, penampilan Bento yang kelahiran 4 Juni 1975, masih tetap memukau.

"Proses saya bergabung dengan Porto tidak rumit. Sejak kecil saya sudah berlatih di klub ini. Dulu, nama asal Porto adalah Hiber (Hitam Bersaudara). Lapangan tempat kami berlatih hanya berjarak 200 meter dari rumah keluarga besar saya. Terus terang, pada awalnya, saya sudah berniat pensiun dari sepak bola ketika kembali ke Timor Leste, namun ternyata kini berubah," ungkap Bento dalam sebuah sesi wawancara dengan bola.com belum lama ini.

Miro Baldo Bento, jadi magnet kompetisi profesional di Timor Leste. (Bola.com/Dok. Pribadi)

Setelah gantung sepatu Bento menjalani pekerjaan baru. "Saya membantu bisnis keluarga yang memiliki depo minyak di Tibar, sebuah kecamatan yang ditempuh sekitar 30 menit dari Dili. Tapi, paman saya, Pedro Bayasa, yang melatih Porto mengajak saya bergabung. Saya tidak bisa menolak karena darah saya adalah sepak bola," tambahnya.

Badan pemain yang pernah jadi bomber andalan, Arseto Solo, Persija Jakarta, PSM Makassar, dan Perseden Denpasar, masih terlihat bugar. Hal yang sebenarnya tidak mengherankan karena pemain yang mengoleksi tiga gol buat Timnas Indonesia dari sembilan penampilan interval tahun 1998-2000 tersebut rajin bermain bola dan melakukan fitnes di waktu senggang.

Ia juga sesekali melatih pemain belia yang di kampung halamannya. Jadi bisa dibilang Bento tak benar-benar melupakan sepak bola setelah pensiun.

 

"Di Porto, saya bemain sebagai gelandang serang, bukan striker lagi. Menyenangkan bisa kembali bermain di pertandingan-pertandingan kompetititif," papar Bento.

Selain jadi pemain, Bento juga berstatus sebagai asisten pelatih kepala FC Porto Taibesse. Tak selalu tampil sebagai pemain utama, striker yang punya ciri khas kepala pelontos tersebut, tetap terlihat tajam. Ia kerap menyumbang gol buat klubnya. Ambil contoh kala FC Porto Taibesse mengalahkan Lica Lica FC pada 27 Desember 2015. Bento menyumbang sebiji gol buat timnya yang menang 4-1.

Menariknya, guna mengatrol prestasi di Liga Timor Leste (yang mulai dihelat pada bulan Maret), FC Porto Taibesse berencana menggaet pemain asal Indonesia. Pernyataan soal itu dilontarkan Miro Baldo Bento di akun Facebook pribadinya pada Rabu (20/1/2016).

"FC Porto Taibesse juga siap memburu pemain dari Indonesia," tulis sang pemain tanpa memerinci siapa-siapa saja pesepak bola yang jadi incaran.

FC Porto Taibesse agaknya tidak ingin kalah dengan pesaingnya Karketu Dili FC yang baru saja mendatangkan trio pesepak bola Indonesia, Titus Bonai, Patrich Wanggai, dan Abdulrahman. Ketiga pemain bakal menjalani debut di play-off Liga Timor Leste pada Kamis (12/1/2015) saat klubnya menjajal Nagarjo FC.

 

 

 

 

 

Video Populer

Foto Populer