Sukses


Seger Sutrisno, Pedagang Jersey Humoris dan Pencetak Sejarah di Persebaya U-17

Bola.com, Surabaya - Masyarakat Surabaya masih merasakan euforia keberhasilan Persebaya U-17 meraih trofi pertama tahun ini. Bajul Ijo cilik baru menjuarai Piala Suratin 2019 setelah menang 2-0 atas Persipan Pandeglang di Stadion Supriyadi, Blitar, Sabtu malam (9/2/2019).

Keberhasilan Persebaya U-17 menjuarai turnamen itu sekaligus mengobati dahaga gelar tim junior Persebaya. Sebab, itu merupakan gelar pertama setelah terakhir menjuarai Piala Suratin 2002.

Di balik kesuksesan itu, ada sosok pelatih bernama Seger Sutrisno yang membawa Persebaya U-17 meraih gelar juara. Dia selama ini dikenal sebagai legenda Persebaya. Pria yang kini berusia 53 tahun itu merupakan bagian integral Bajul Ijo saat menjuarai Perserikatan 1987-1998.

Seger dikenal sebagai pelatih kelompok usia. Namun, dia juga memiliki sumber penghasilan sebagai penjual jersey klub Eropa. Saat Bola.com berkunjung ke rumahnya di kawasan Surabaya Pusat, Senin (11/2/2019,) dia bahkan langsung berlagak menjajakan dagangannya.

"Ayo, mau jersey yang mana? Klub Inggris semua ada. Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal. Silakan dipilih," katanya sambil tersenyum begitu menyambut kedatangan Bola.com.

Tentu saja itu merupakan gurauannya. Sambil berbincang, dia kemudian menceritakan kesehariannya sebagai pedagang jersey. Semua produknya merupakan jersey grade ori buatan Thailand yang dia ambil dari Jakarta.

"Untuk menambah pemasukan keluarga. Kebetulan, anak saya bekerja di Jakarta dan di sana harga jersey murah. Saya jual ke kantor pemerintahan biasanya, bukan ke umum. Sebagai sampingan saja," ucap pria asli Surabaya itu.

Penghasilan yang didapat Seger dari menjual jersey sepak bola itu memang lumayan. Tetapi, dia sama sekali tidak mau disebut sebagai pedagang jersey.

"Jangan menganggap saya ini penjual jersey apalagi ditulis di media. Nanti suporter Inggris bisa-bisa antre beli jersey di sini," guraunya lagi.

2 dari 4 halaman

Jersey dan PDAM

Gara-gara jersey itu pula, Seger bisa memberikan motivasi kepada pemain Persebaya U-17. Berbagai jersey yang dijualnya itu menjadi andalannya untuk melakukan pendakatan dan memberi apresiasi kepada pemain.

Sebagai contoh, setiap ada pemain yang berhasil mencetak gol, dia akan memberikan satu jersey.

"Itu saya jadikan sebagai motivasi untuk pemain. Sebenarnya tidak hanya cetak gol, pokoknya main bagus saya apresiasi dengan jersey. Kalau dipikir-pikir, semua pemain saya pasti dapat," imbuhnya sambil tertawa.

Lewat cara itu, semangat pemain Persebaya U-17 jadi terlecut. Seger sangat memahami pemain berusia remaja masih sedang punya gairah tinggi mendukung klub Eropa. Kebetulan, dia jual jersey sehingga bisa menjadikan jualannya itu sebagai hadiah.

Namun, pekerjaan sehari-sehari Seger bukan berjualan jersey. Sampai hari ini, pria berbadan tambun itu masih tercatat sebagai karyawan PDAM Surabaya. Itu juga berkat kariernya sebagai pemain sepak bola dulu.

Status sebagai karyawan itu didapatnya setelah dia membawa Persebaya meraih posisi runner-up Perserikatan 1986-1987. Bersama beberapa pemain Persebaya lain, dia mendapatkan reward tersebut pada saat itu.

"Alhamdulillah, saya jadi punya pekerjaan tetap di PDAM. Saat itu, kami justru semakin termotivasi, makanya musim berikutnya juara. Saya masih bermain untuk Persebaya sampai beberapa musim berikutnya," tutur pria yang semasa bermain berposisi sebagai gelandang serang itu.

Seger membela Persebaya hingga 1996. Di Ligina 1996-1997, dia kemudian hijrah ke Assyabab Salim Grup Surabaya (ASGS). Sayang, saat itu ASGS menempati posisi ke-10. Klub itu kini sudah tidak muncul di kancah nasional.

Hanya semusim di ASGS, Seger kemudian memutuskan pensiun sebagai pemain. Dia memutuskan fokus pada pekerjaan sebagai karyawan PDAM. Namun, rasa kangen terhadap sepak bola muncul sehingga membuatnya kembali ke lapangan.

Hanya, statusnya kali ini menjadi pelatih. Seger beberapa kali melatih klub kelompok usia di berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk klub internal Persebaya. "Sulit jauh dari sepak bola. Hidup saya ini untuk dan dari sepak bola," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Serius Melatih

Sampai puncaknya menghampirinya pada 2017, saat Persebaya diakui kembali sebagai anggota PSSI. Di musim 2017 pula dia membawa Indonesia Muda menjuarai kompetisi internal Persebaya. Seger kemudian mendapat mandat melatih Persebaya U-17.

Berkat pencapaian itu, Seger semakin termotivasi untuk mempersembahkan gelar juara untuk Persebaya U-17. Sayangnya, dia gagal membawa timnya melaju jauh pada Piala Suratin edisi 2017.

Lantaran keseriusannya berkarier sebagai pelatih, Seger kemudian berniat mengikuti kursus lisensi kepelatihan dengan level lebih tinggi. Sebelumnya, dia hanya mengantongi lisensi PSSI B yang kini tidak lagi dipakai dalam dunia sepak bola profesional.

"Saya kursus lisensi AFC C pada Maret atau April 2018. Pelatih juga perlu sekolah dan menambah ilmu. Meski usia saya tidak muda, saya masih punya keinginan untuk terus berkontribusi untuk sepak bola," kata pria kelahiran 4 November 1965 itu.

Di musim 2018, Seger masih dipercaya menangani tim itu. Dia kemudian membuktikan kualitasnya sebagai pelatih dengan membawa tim asuhannya menjuarai Piala Suratin zona Jawa Timur. Tiket juara itulah yang mengarahkan timnya masuk zona nasional pada 27 Januari hingga 9 Februari 2019.

Persebaya U-17 tergabung di Grup 1 bersama Persikos Sorong, Persido Donggala, dan Perseban Banjarmasin. Hasilnya, mereka berhasil menyapu bersih kemenangan dan lolos ke 16 besar dengan status juara grup.

Berikutnya, PSP Padang, Persigowa Gowa, dan Bali United menjadi korban sebelum mencapai final. Kemenangan paling fenomenal tercatat saat Persebaya U-17 menghajar Bali United dengan skor 5-0 di semifinal.

Di partai final, mereka menghadapi lawan tangguh, Persepan Pandeglang, yang juga berstatus tak terkalahkan sejak fase grup. Anak asuh Seger itu berhasil menggasak lawannya itu dua gol tanpa balas dan memastikan trofi juara.

Baginya, semua raihan itu tidak lain berkat kegigihan pemainnya sendiri. Sebagai pelatih, Seger berusaha untuk menerapkan pelajaran yang didapatnya di Persebaya saat masih bermain maupun melatih.

4 dari 4 halaman

Pesan Mendiang Rusdy Bahalwan

Dia juga masih terus mengenang pesan mendiang Rusdy Bahalwan, pelatih yang membawa Persebaya juara Perserikatan 1987-1998 dan Ligina 1996-1997.

"Pak Rusdy itu orangnya sangat ngemong dalam membina pemain muda. Almarhum orangnya sabar dan telaten menghadapi pemain. Saya juga begitu. Saya berusaha untuk sedekat mungkin dengan pemain untuk menjaga kekompakan tim," jelas Seger.

Cara yang dilakukan Seger adalah bergurau dengan pemainnya. Selama ini, Seger memang dikenal sebagai sosok yang humoris. Buktinya, dia langsung melontarkan candaan tentang jersey saat menyambut Bola.com.

"Saya ini tipe pelatih yang tidak keras pada pemain. Saya tidak akan menekan mereka karena saya tahu rasanya menjadi pemain dulu seperti apa. Saya lebih memilih mendekati pemain secara personal. Daripada dimarahi, lebih baik cerita lucu saja. Mereka justru lebih senang," ungkap Seger.

Satu di antara metode yang diterapkannya adalah membuat pemain untuk tidak lupa dengan orang terdekat, terutama keluarga. Dia selalu memberi kesempatan pemain untuk memberi kabar dan meminta doa kepada orang tua atau pacar.

"Pernah suatu ketika ada pemain yang terlihat main kurang bagus. Saya dekati dia dan bilang jangan lupa kalau punya pacar minta doa. Kalau juara, traktir pacarnya makan piza atau burger, jangan lumpia saja. Dia tertawa, tapi ternyata tidak punya pacar," kata Seger.

Cara semacam itu terbukti jitu. Dia senang melihat pemainnya riang gembira menjalani dan menikmati pertandingan. Tak ada beban muncul dari pemain. Seger pun juga nyaman menangani timnya tanpa beban.

Prestasi membawa Persebaya U-17 membuat Seger enggan jemawa. Dia justru semakin termotivasi untuk lebih giat melakukan pembinaan pemain muda. Satu di antara caranya dengan tetap menjaga status sebagai pelatih klub internal Persebaya.

"Dua tahun lagi, Desember 2021, saya pensiun sebagai karyawan PDAM. Saya bisa lebih fokus di sepak bola nanti. Kalau pensiun dari sepak bola sepertinya susah. Selama bisa ke lapangan, saya akan melatih," pungkasnya mengakhiri pembicaraan.

Wajah Tegang Pemain Timnas Indonesia U-22 di Piala AFF 2019

Tutup Video

Video Populer

Foto Populer