Sukses


Membedah Kasus Bagus Kahfi Gagal Pindah ke Utrecht FC: Pentingnya Profesionalitas, Bisnis, dan Nasionalisme

Bola.com, Jakarta - Saga transfer Bagus Kahfi dari Barito Putera ke FC Utrecht berakhir antiklimaks. Tidak adanya kata sepakat dari kedua pihak perihal negosiasi transfer menjadi penyebabnya. Ada hal-hal krusial yang mesti diamati betul mengenai kegagalan tersebut, sebab ini soal profesionalitas, harga diri, dan nasionalisme.

Transfer pemain dalam sepak bola sejatinya adalah hal yang lumrah. Hanya saja, detail dalam negosiasi transfer seringkali menjadi hal-hal yang kemudian dihiraukan. Padahal, ada aspek penting menyangkut hak atau privilege pemain dan klub yang terlibat, terutama jika menyangkut pemain muda.

Buat ribuan atau bahkan jutaan anak muda di segala penjuru dunia pasti ingin bermain sepak bola di Eropa. Dilansir dari soccerinteraction.com, banyak pemain muda yang berasal dari benua Afrika, Amerika Selatan, dan Asia mengambil risiko apapun demi memenuhi mimpi tersebut.

Mimpi ini, lanjut laporan tersebut, sering dieksploitasi oleh agen dan atau organisasi yang mengirimkan pemain-pemain muda ke Eropa. "Sayangnya, persentase para pemain muda yang tak berhasil cukup tinggi. Banyak yang tidak mendapatkan kontrak profesional, tapi tetap bertahan di negara Eropa untuk mengadu nasib di luar sepak bola."

Guna mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, pada 2009, FIFA mengambil tindakan. Transfer pemain di bawah usia 18 tahun dilarang. Kecuali memenuhi tiga aspek berikut seperti yang tercatat pada Article 19 FIFA's International Transfer Regulations:

  • Orang tua anak pindah negara untuk alasan yang tidak berkenaan dengan sepak bola;
  • Transfer pemain terjadi di negara Uni Eropa atau Zona Ekonomi Eropa, dan pemain berusia 16-18 tahun;
  • Pemain dan klub yang dituju berlokasi tidak lebih dari 50 km dari perbatasan negara.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko pemain muda terbengkalai di luar negeri. Di sisi lain, klub-klub besar tetap mendatangkan pemain asing berusia muda dan mengabaikan hal tersebut.

Beberapa klub, sebut saja Barcelona, yang terkenal dengan akademi pemainnya ternyata beberapa kali melakukan hal ini. Tapi, karena mereka memiliki fasilitas olahraga yang menunjang, para pemain muda ini dianggap memiliki masa depan cerah. Kalau memang pada akhirnya 'tidak cukup berkualitas', Barcelona bisa melepasnya ke klub lain dengan label alumnus La Masia yang tentunya bakal dicetak tebal di CV-nya.

Intinya, negosiasi transfer tidak bisa dilakukan sembarangan dan seenak udel. Ada garis tegas yang mengatur mengenai hal ini. Dalam kasus Bagus Kahfi, Barito Putera meminta adanya deal-deal-an harga kepada FC Utrecht.

"Bagi saya, Barito Putera tidak salah. Ada aturan main melepas pemain yang masih terikat kontrak. Kompensasi harus tetap ada karena selama ini mereka yang menggaji Bagus," tegas mantan manajer Pelita Jaya, Lalu Mara Satriawangsa.

"SSB saja harus mendapatkan kompensasi ketika ada pemain yang diambil klub lain. Itu menjadi bagian dari apresiasi kepada pembina awal sang pemain," ujar pria yang juga pernah menjabat sebagai wakil manajer Arema ini.

Karena tidak deal terkait Bagus Kahfi, Barito Putera kena semprot banyak pihak. Komentar negatif pun bermunculan, sampai ada klaim bahwa tim asal Kalimantan itu tidak nasionalis. Padahal, aspek bisnis dengan segala risikonya dalam sepak bola adalah hal yang penting dan lumrah.

2 dari 8 halaman

Uang Solidaritas

Peraturan FIFA menyatakan, jika ada transfer pemain sepak bola profesional terjadi saat masih dalam kontrak, maka 5 persen dari total transfer, akan menjadi milik klub profesional pertamanya. Peraturan yang diberi nama uang solidaritas ini dibatasi hingga si pemain berusia 23 tahun.

Contohnya terjadi ketika Arjen Robben diboyong Bayern Munchen. Meski winger asal Belanda ini dibeli dari Real Madrid, Munchen tetap harus membayar uang senilai 500ribu euro kepada Groningen. Sebab, Robben dikontrak pertama kali secara profesional oleh klub asal Belanda tersebut.

AS Roma juga membayar 45ribu euro kepada Freamunde ketika membeli Vitorino Antunes. Lalu ada Manchester City yang harus merogoh kocek sebesar 1,8 juta euro kepada Santos ketika memboyong Robinho.

Selain uang solidaritas, ada juga yang namanya biaya kompensasi latihan. FIFA tidak memiliki peraturan baku mengenai hal ini, sebab sifatnya diajukan dalam klausul antara klub dengan pemain saat penandatanganan kontrak. Dua peraturan ini hanya terjadi jika proses transfer terjadi saat si pemain belum berusia lebih dari 23 tahun karena pengembangan pemain umumnya dilakukan hingga U-23 (alih-alih tim cadangan, diberi nama development squad).

 

3 dari 8 halaman

Pelanggaran

Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid pernah melakukan pelanggaran mengenai transfer dan atau kepemilikan pemain muda. Barca misalnya, terbukti melanggar peraturan mengenai kepemilikan pemain muda dari Korea dan Afrika. Manajemen klub melakukan banding sehingga hukuman larangan transfer dicabut pada 2015.

Sementara itu, Real Madrid pernah dilarang melakukan manuver transfer pada dua periode tansfer windows karena melakukan pelanggaran serupa. Menariknya, kepemilikan pemain muda melibatkan anak Zinedine Zidane, Luka Zidane. El Real melakukan banding, hukuman pun dikurangi menjadi larangan transfer satu periode saja.

Dalam Article 19 FIFA, seperti yang telah disebutkan di atas, menyebutkan bahwa transfer pemain berusia antara 16-18 tahun dilarang. Kecuali memenuhi tiga kriteria umum dan satu kriteria khusus, yakni klub tersebut memiliki fasilitas sepak bola yang memadai, termasuk layanan pendidikan dan akomodasi sehari-hari yang cukup buat pemain muda.

FIFA, di sisi lain, tidak memiliki kontrol penuh terkait usia minimum. Spanyol misalnya, memiliki peraturan di mana kontrak profesional bisa diberikan kepada pemain yang telah berusia 18 tahun. Inggris memiliki scholarship agreement pada usia 16 tahun (istilah lainnya youth contract) sebelum diperbolehkan menandatangani kontrak profesional pada usia 17 tahun.

Dari sini, uang solidaritas dan kompensasi latihan mulai berlaku. Misalnya, Rodrygo yang dikontrak Real Madrid suatu hari dibeli oleh Chelsea saat usianya 21 tahun, maka The Blues wajib menyertakan sejumlah biaya solidaritas dan uang kompensasi kepada Madrid di luar nominal transfer.

Madrid kemudian bisa menetapkan klausul khusus dalam negosiasi transfer dengan Chelsea berupa persentase keuntungan penjualan berikutnya dan atau persentase penjualan berikutnya (total nominal transfer). Misalnya, Madrid dan Chelsea sepakat pada klausul 'fee percentage of profit of next sale' sebesar 35 persen. Jika Rodrygo dibeli Chelsea seharga 50 juta pounds, lalu musim berikutnya dijual ke Barcelona sebesar 70 juta pounds, maka 35 persen dari keuntungan 20 juta pounds wajib diberikan kepada Real Madrid.

Klausul itu tidak berlaku andai penjualan pemain di bawah dari harga beli. Namun, jika masih berusia di bawah 23 tahun, Madrid tetap berhak mendapatkan sejumlah uang solidaritas dan biaya latihan seperti yang telah diatur oleh FIFA.

 

4 dari 8 halaman

Hati-Hati dengan Pihak Ketiga

Awal November, nama Bagus Kahfi ramai diberitakan bakal bergabung dengan FC Utrecht. Manajemen Barito Putera sejak awal sudah menegaskan bahwa ada keterlibatan Garuda Select mengenai kabar tersebut.

Tim berjulukan Laskar Antasari itu pernah diminta oleh Garuda Select melalui Wakil Sekjen PSSI, Maaike Ira Puspita, untuk mengirimkan surat agar Bagus Kahfi dapat memperkuat FC Utrecht. "Ada permintaan dari Garuda Select. Jadi kami bicara dengan Bu Ira Puspita."

 

"Mereka membutuhkan surat dari kami agar Bagus Kahfi bisa diterima di FC Utrecht," kata Manajer Barito Putera, Mundari Karya awal November lalu.

 

Mundari mengatakan, pihaknya tidak pernah memberikan surat keluar kepada Bagus Kahfi untuk bergabung dengan FC Utrecht. Dia akan mencoba menghubungi Ira Puspita untuk menanyakan kelanjutan permintaan dari Garuda Select.

"Masalahnya, setelah pembicaraan itu, tidak ada kontak lagi. Tiba-tiba ramai berita Bagus Kahfi bergabung dengan FC Utrecht. Saya akan berusaha menghubungi Bu Ira Puspita karena waktu itu dia yang fasilitasi pembicaraan kami," imbuh Mundari.

"Sekarang yang penting itu. Saya tidak pernah membuat pernyataan memberikan surat keluar Bagus Kahfi. Sampai sekarang ini belum ada bicara soal itu," jelasnya.

 

5 dari 8 halaman

Langkah Pencegahan

Barito Putera belajar banyak dari kasus Bagus Kahfi. Manajemen klub meminta pihak ketiga untuk jauh-jauh dari David Maulana, Bagas Kaffa, dan Alexandro Felix Kamuru.

Barito Putera mengikat Bagus Kahfi beserta saudara kembarnya, Bagas Kaffa dengan kontrak tiga tahun setelah tampil memikat di Timnas Indonesia U-16 dan U-19.

Bagus Kahfi justru sibuk dengan program akselerasi usia muda PSSI dan Mola TV, Garuda Select. Dia terpilih masuk skuad untuk angkatan pertama pada Januari-Mei 2019 dan angkatan kedua pada Desember 2020-April 2021.

FC Utrecht melakukan pendekatan ke Barito Putera melalui perantara yaitu Garuda Select. Uniknya, Garuda Select juga meminta bantuan kepada PSSI untuk berkomunikasi Barito Putera.

"Prinsipnya, untuk Bagus Kahfi saja nih kami kasih. Kami juga mendukung dia untuk berkembang. Untuk pemain-pemain muda kami seperti David Maulana, Bagas Kaffa, dan Felix Kamuru, tidak usah," kata manajer Barito Putera, Mundari Karya ketika dihubungi Bola.com, 5 November 2020.

Barito Putera khawatir para pemain mudanya digoda oleh pihak ketiga untuk mengikuti jejak Bagus Kahfi bermain di luar negeri. Masalahnya, David Maulana dan Bagas Kaffa juga berstatus jebolan Garuda Select.

David Maulana adalah alumnus Garuda Select angkatan pertama dan kedua. Sedangkan Bagas Kaffa terpilih pula untuk dua-duanya, namun menolak untuk ikut pada program yang kedua.

"Kami sedang membangun tim dengan pemain-pemain muda. Makanya saya berharap, Garuda Select jangan mengganggu pemain Barito Putera lagi. Sebab, kami juga berhak punya tim yang kuat ke depannya," jelas Mundari.

"Pemain Barito Putera yang lain jangan sampai lah, cukup di Bagus Kahfi saja. Pemain-pemain yang lain jangan diiming-imingi. Mereka pemain masa depan kami," terang Mundari lagi.

 

6 dari 8 halaman

Posisi Tawar

Barito Putera, seperti ditegaskan Mundari Karya, tidak pernah menutup mimpi Bagus Kahfi untuk berkarier di Eropa. Hanya saja, sebagai klub profesional yang mengontrak Bagus secara profesional, tentu harus ada cara-cara yang profesional pula terkait negosiasi transfer.

Terlebih, keterlibatan pihak ketiga, yakni Garuda Select pimpinan tim pelatih Dennis Wise, membuat ada persoalan yang tidak sepele. Oleh karena itu, karena Barito Putera dalam posisi tawar, lumrah ketika mereka mengajukan dua opsi.

Pertama, Barito Putera ingin adanya buy back clause. Maksud dari opsi ini bukan pembelian balik, melainkan Barito akan menarik kembali Bagus Kahfi jika sang pemain tidak lagi membela FC Utrecht.

Yang kedua, Barito Putera meminta kompensasi. Wajar saja, bodoh jika mereka membiarkan Bagus Kahfi hengkang secara cuma-cuma. Saat ini, bomber berusia 18 tahun itu adalah satu di antara pemain muda terbaik di Indonesia.

"Dia tidak bisa pindah. Masa tidak ada uang transfer atau surat pelepasan. Itu kan sudah aturannya," kata Mundari Karya, manajer Barito Putera ketika dihubungi Bola.com.

"Jangankan yang tingkat tinggi seperti ini, di level Indonesia saja klub tidak bisa mengambil pemain sembarangan," imbuh mantan pelatih Persikota Tangerang tersebut.

Usut punya usut, kepergian Bagus Kahfi ke Utrecht merupakan rekomendasi dari Direktur Teknik Garuda Select, Dennis Wise. Dia punya kerabat di Utrecht dan meyakinkan rekannya itu untuk menampung Bagus Kahfi sementara waktu.

Selain mengikuti rehabilitasi, Bagus Kahfi juga diajak berlatih oleh Jong Utrecht, tim junior Utrecht, yang berkompetisi di Eerste Divisie atau kompetisi kasta kedua dalam piramida sepak bola Belanda.

 

7 dari 8 halaman

Bukan Soal Nasionalisme, Ini Tentang Bisnis dan Harga Diri

Komentar-komentar miring terhadap sikap teguh Barito Putera yang enggan melepas Bagus Kahfi tanpa legalitas yang jelas, di sisi lain, adalah sesuatu yang wajar.

Mirwan Suwarso mengatakan, FC Utrecht sebetulnya tidak betul-betul tertarik dengan Bagus Kahfi. Ia menjelaskan bahwa Dennis Wise ingin 'menitipkan' Bagus di Utrecht. Barito Putera jelas membutuhkan kepastian.

"Bagus Kahfi ke Utrecht itu sebenarnya bukan diundang, tapi kami yang menitipkan ke sana. Jadi menurut saya, agak lugu kalau kita berpendapat bahwa pemain Indonesia sudah mampu masuk klub Eropa apa adanya," ujar perwakilan Mola TV selaku penggagas Garuda Select, Mirwan Suwarso ketika dihubungi Bola.com, Rabu (25/11/2020).

"Kondisinya sama sekali belum seperti itu. Cuma di tempat kami, kami ingin meningkatkan pertumbuhan pemain. Bagus Kahfi dan rekannya di Garuda Select, Brylian Aldama, mereka sudah mentok di kami. Sudah tidak bisa lagi karena angkatan berikutnya pasti lebih muda. Sudah waktunya mereka bermain dengan lawan yang lebih bagus," jelas Mirwan.

Selain itu, bilapun Barito Putera sepakat 'menitipkan' Bagus Kahfi di Utrecht, diperlukan kurang lebih setahun agar si pemain bisa mengeluarkan kualitas terbaiknya. Masalahnya, kontrak Bagus di Barito Putera, berdasarkan keterangan Transfermarkt, akan habis pada Desember 2021.

Ini akan merugikan Barito Putera sebagai pemilik Bagus Kahfi secara sah dan profesional. Sebab, FC Utrecht, jika terpikat dengan kualitas Si Kribo, bisa mendapatkannya secara gratis. Sedangkan Barito, sudah belum sempat menikmati servis Bagus di Liga 1, harus membayar gaji, kehilangan Bagus pula secara cuma-cuma ke klub Belanda yang katanya 'akrab' dengan Indonesia itu.

"Kami pilih lawannya dari luar negeri. Karena kebetulan Bagus Kahfi cedera dan dia perlu pulih dalam ruang lingkup klub. Kalau sudah pemulihan kan harus bermain sepak bola, lari, dan lain-lain. Lewat Wise, Bagus Kahfi dititipkan ke temannya di Utrecht. Wise bilang ke temannya, bisa tidak mereka membantu Bagus Kahfi untuk menjalani rehabilitasi," ucap Mirwan.

"Pada saat rehabilitasi, Wise bilang ke temannya itu, apakah dia keberatan untuk mengambil pemain ini untuk dikembangkan lagi. Karena Wise menjamin, kalau temannya dia ini memberikan waktu 8-10 bulan untuk Bagus Kahfi, si pemain bisa berkembang dan mungkin bisa menjadi pemain bagus untuk Jong Utrecht," tuturnya.

Ada kata 'mungkin' di situ, yang artinya, mungkin dikontrak secara profesional oleh FC Utrecht, mungkin juga tidak. FC Utrecht tidak rugi. Barito Putera lah yang akan merugi.

Mengacu pada peraturan FIFA, Barito Putera terancam tidak mendapatkan uang solidaritas dan biaya pelatihan jika FC Utrecht mengontraknya secara profesional karena Bagus besar kemungkinan direkrut sebagai free agent. Bagus Kahfi adalah aset bernilai, mutiara Indonesia, yang tidak bisa disepelekan oleh klub sepak bola terbaik sekalipun.

Bila ada komentar bernada negatif kepada Barito Putera mengenai nasionalisme, bisa dibilang Barito justru sedang berupaya agar Indonesia tidak dianggap enteng oleh negara lain. Ada harga diri dan bisnis yang sedang dijaga, dan itu adalah sesuatu yang wajar dilakukan klub sepak bola di manapun.

"Kalau sampai klubnya perlu biaya, yang pasti, saya tahu banget Utrecht tidak mungkin mau keluar uang. Tapi kalau misalnya mereka minta ganti rugi, kompensasi, dan angkanya wajar, mending bicara sama kami saja. Mungkin kami akan membantu," kata Mirwan, Rabu (25/11/2020).

8 dari 8 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer