Sukses


Deretan Pemain Asal Indonesia Timur untuk Laga Timnas Indonesia Kontra Timor Leste: Berkarakter Menyerang dengan Naluri Gol Tinggi

Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong telah merilis 27 pemain pilihannya yang dipersiapkan menghadapi Timor Leste pada laga matchday FIFA di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, 27 dan 30 Januari 2022 mendatang.

Belakangan, satu nama yakni Elkan Baggot batal bergabung pada pemusatan latihan skuad Garuda karena tak dilepas klubnya, Ipswich Town. Dari daftar nama pilihan Shin Tae-yong itu, ada lima pemain asal Indonesia Timur yang mendapat kesempatan unjuk kemmpuan bersama skuad Garuda.

Mereka adalah Ricky Kambuaya, Ramai Rumakiek, Yabes Roni, Irfan Jaya, dan Terens Puhiri. Menilik dari performa mereka bersama klub masing-masing, empat diantaranya berposisi penyerang sayap dan satu gelandang serang. Jumlah ini bisa bertambah andai Whitan Sulaiman dan Asnawi Mangkualam masuk dalam tim.

Ricky, Ramai, Yabes dan Irfan baru saja jadi bagian Timnas Indonesia yang menembus final Piala AFF 2020. Sedang Terens mendapat kesempatan dari Shin Tae-yong berkat aksi impresifnya bersama Borneo FC di BRI Liga 1.

Kecuali Ramai yang masih berusia 19, keempat pemain lainnya sedang berada dalam masa usia emas buat pesepakbola yakni 25 hingga 27 tahun. Berikut ulasan menarik tentang kiprah kelima pemain ini di klub dan Timnas Indonesia:

 

2 dari 6 halaman

Ricky Kambuaya

Ricky Kambuaya lahir di Sorong, Papua Barat, 5 Mei 1996. Sempat berlatih di Pro Duta, ia memulai karier profesionalnya dengan bergabung di PS Mojokerto Putra (PSMP) jelang musim 2017.

Satu musim bersama PSMP di Liga 2, Ricky mencetak 10 gol. Pencapaian yang lumayan buat seorang gelandang. Sukses ini membuat manajemen PSS Sleman merekrutnya pada 2018.

Dua musim bersama PSS, Ricky melanjutkan petualangannya di Persebaya. Di tim kebanggaan Bonek inilah, nama Ricky kian melejit setelah pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong memasukkan namanya dalam daftar skuad Garuda.

Kerja keras dan aksi impresifnya di lapangan hijau membuat Ricky jadi pilihan utama Shin Tae-yong pada Piala AFF 2020 dibandingkan Evan Dimas, idolanya. Gaya bermain Ricky di timnas Indonesia mirip pendahulunya dari Papua seperti Ronny Wabia, Yonas Sawor dan Rully Nere.

3 dari 6 halaman

Yabes Roni

Yabes Roni lahir di Alor, Nusa Tenggara Timur, 6 Februari 1995. Talentanya sebagai penyerang sayap cepat ditemukan oleh Indra Sjafri yang saat itu menangani timnas U-19.

Yabes pun menjadi bagian timnas U-19 pada 2013-2014. Pada 2015, Indra Sjafri membawanya ke Bali United yang kemudian jadi klub profesional pertamanya.

Bersama Bali United, Yabes tampil pada 81 laga dengan koleksi 5 gol. Bersama Serdadu Tridatu, Yabes meraih trofi juara Liga 1 2019. Di level timnas, Yabes membawa timnas U-23 meraih perunggu di Sea Games 2017 dan final Piala AFF 2020 bersama timnas senior. Kalau lebih fleksibel di lapangan, Yabes bisa mengikuti jejak pendahulunya sesama Indonesia Timur, Elie Aiboy.

4 dari 6 halaman

Irfan Jaya

Nama Irfan Jaya mulai dikenal ketika menjadi top skorer di Indonesia Soccer Championship U-21 2016 bersama PSM Makassar U-21. Namun, pria kelahiran Bantaeng, 1 Mei 1996 ini justru menjadikan Persebaya Surabaya sebagai klub pertamanya di level senior.

Keputusannya itu terbukti tepat. Selain membawa Persebaya promosi ke kasta tertinggi dengan status juara Liga 2 2017, Irfan juga menyabet gelar pemain terbaik musim itu.

Empat tahun bersama Persebaya, Irfan tampil dalam 71 laga dengan koleksi gol. Pada Liga 1 2019, ia membawa Bajul Ijo bertengger di peringkat dua klasemen akhir. Pada awal 2021, Irfan melanjutkan petualangannya di PSS Sleman.

Ia pun membawa PSS bertengger di peringkat ketiga Piala Menpora 2021. Irfan sempat jadi idola di PSS berkat penampilan trengginasnya dengan koleksi 6 gol dalam 10 laga.

Tapi, selepas Piala AFF 2020, ia membuat suporter Elang Jawa patah hati setelah dirinya menerima tawaran manajemen Bali United. Menilik aksinya di lapangan, Irfan mirip dengan Hanafing, penyerang sayap asal Makassar yang melegenda di Niac Mitra era Galatama serta membawa timnas Indonesia meraih medali emas di Sea Games 1991.

5 dari 6 halaman

Terens Puhiri

Terens Puhiri menimba ilmu sepak bola di SSB Numbay Star Papua. Bersama SSB nya itu, ia mewakili Papua tampil di Piala Danone 2008 yang merupakan turnamen pemain U-12.

Di ajang itu, Terens terpilih sebagai pemain terbaik dan top skorer pada putaran nasional. Berkat pretasinya itu, namanya pun masuk dalam daftar skuad timnas usia muda secara berjenjang.

Pada 2012-2013, nama pria kelahiran Jayapura, 13 Oktober 1996 ini masuk dalam daftar pemain muda tanah air yang menimba ilmu ke Uruguay dengan nama tim Deportivo Indonesia. Sepulang dari Uruguay, Terens bergabung di Persisam U-21.

Pada 2015, Terens direkrut Borneo FC yang merupakan klub pertamanya di level senior. Bersama klub Samarinda itu, ia sudah tampil dalam 118 laga dengan koleksi 23 gol. Terens sempat berkostum klub Thailand, Port FC pada 2018 dengan status pinjaman. Peluang Terens mendapatkan caps perdananya di timnas senior terbilang terbuka pada matchday FIFA nanti.

6 dari 6 halaman

Ramai Rumakiek

Ramai Rumakiek lahir di Jayapura, 19 April 2002. Karier profesional Ramai terbilang lancar dan mulus. Ia memulainya dengan menjadi pemain rekrutan anyar Persipura jelang BRI Liga 1.

Debutnya bersama Mutiara Hitam terjadi ketika menghadapi Persita Tangerang di Stadion Pakansari, Cibinong, 28 Agustus 2021. Pada laga itu, Persipura kalah dengan skor 1-2. Tapi, nama Ramai jadi sorotan berkat aksinya sebagai pencetak gol tunggal Persipura.

Tak lama setelah itu, nama Ramai masuk dalam daftar panggil timnas asuhan Shin Tae-yong. Ia pun tampil untuk kali pertama bersama skuad Garuda menghadapi China Taipei pada kualifikasi Piala Asia 2023, 7 Oktober 2021.

Seperti debutnya di level klub, Ramai juga melakukannya pada laga itu. Ia pun jadi pemain langganan timnas. Dimulai pada laga ujicoba menghadapi Afghanistan dan Myanmar di Turki serta menjadi bagian dari skuad Garuda di Piala AFF 2020. Di usianya yang masih 19, Ramai sudah mengantongi 10 caps dengan koleksi 2 gol.

Kalau tampil konsisten, Ramai bakal tetap jadi pemain langganan timnas era Shin Tae-yong. Minimal sampai kontrak pelatih asal Korea Selatan itu berakhir pada 2023. Menilik usianya yang masih muda, Ramai punya peluang mengikuti sukses seniornya, Boaz Solossa yang mencatat 50 caps bersama timnas Indonesia.

Video Populer

Foto Populer