Sutiono Lamso, Sosok Penting di Balik Kesuksesan Persib Menggondol 3 Gelar Kasta Teratas Indonesia

Ya! Sutiono Lamso bukan sekadar nama tanpa makna. Ia adalah bintang di masanya, protagonis di balik kedigdayaan Persib Bandung.

Bola.com, Jakarta - Coba tanyakan kepada Bobotoh, siapa saja legenda sepanjang masa yang tak akan pernah luntur dari hati dan pikiran mereka? Satu di antaranya yang akan mereka sebut adalah Sutiono Lamso.

Ya! Sutiono Lamso bukan sekadar nama tanpa makna. Ia adalah bintang di masanya, protagonis di balik kedigdayaan Persib Bandung.

Meski lahir di Purwokerto, Sutiono Lamso justru jadi legenda di Tanah Pasundan. Pemain kelahiran 19 Agustus 1966 tersebut memperkuat Persib terbilang lama, dari 1988 hingga 2000.

Bersama Persib, tiga gelar berhasil disabet Sutiono Lamso. Dua gelar Perserikatan, 1989/1990 dan 1993/1994 serta Liga Indonesia 1994/1995.

Ketajamannya sebagai striker juga sangat ditakuti. Terbukti, pada musim 1994/1995 Sutiono Lamso mengukuhkan diri sebagai yang tersubur. Sebelumnya, pada musim 1993/1994, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik.

Tak mungkin memisahkan peran Sutiono Lamso dalam sejarah panjang nan gemilang Maung Bandung di kasta teratas Indonesia.

Soal loyalitas, juga totalitas, tak banyak yang seperti Sutiono Lamso. Meski telah lama menanggalkan jersey keramat Pangeran Biru, Sutiono Lamso tak pernah melewatkan satu pertandingan Persib, termasuk di era kepelatihan Bojan Hodak.

Ia pastinya bangga dengan torehan back to back yang disabet Marc Klok dan kawan-kawan, termasuk peluang hattrick musim ini yang sudah berada di depan mata.

Tak banyak yang tahu awal karier Sutiono Lamso di Persib, bagaiaman hingga akhirnya ia bisa bergabung dengan tim sebeken Maung Bandung.

Via kanal YouTube Bicara Bola, legenda murah senyum yang kini berusia 59 tahun, berkisah ihwal segepok kenangannya bareng Persib, klub yang telah melambungkan namanya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Langsung Promosi

"Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib," kata Sutiono Lamso.

"Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi," imbuhnya.

Banjir gol, aksi Sutiono Lamso diam-diam diperhatikan pelatih Persib kala itu, Nandar Iskandar. Melihat naluri golnya yang begitu mumpuni, Sutiono Lamso langsung promosi ke tim senior. Ia kaget, bahkan sampai tak percaya.

"Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antara percaya enggak percaya," kenang Sutiono Lamso serya tersenyum.

"Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,'Benar nih'. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu."

 

Sekarang Sudah Pensiun

Kepercayaan yang diberikan Nandar Iskandar tak dilewatkan begitu saja oleh Sutiono Lamso. Ia semakin menggila memburu gol. Ia menjadi pemain Persib yang paling ditakuti lawan.

"Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan," ujar Sutiono Lamso.

"Nah, baru waktu Perserikatan 1994, eh Piala Utama dulu. Kita dulu, sebelum ada liga, ada Piala Utama. Empat besar Galatama, empat besar Perserikatan. Kita waktu itu masuk final sama Pelita Jaya, tahun 1992".

Sukses jadi pencetak gol terbanyak, membuat Sutiono Lamso diganjar uang yang sangat banyak masa itu, tembus Rp15 juta.

"Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu. Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman," paparnya.

Lantas, apa sekarang kegiatan sang legenda? Pensiun dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), Sutiono Lamso tak lantas berpangku tangan. Ia kembali ke lapangan, membagikan ilmunya lewat jalur kepelatihan.

"Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS. Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun. Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola," tutup Sutiono Lamso.

 

Final Liga Indonesia 1994/1995 Tak Terlupakan

Dalam kesempatan ini, Sutiono juga mengenang salah satu momen spesial dalam kariernya. 

Final Liga Indonesia 1994/1995 tak akan pernah dilupakan oleh Sutiono Lamso, mungkin juga ribuan Bobotoh yang hadir di Stadion Utama Senayan Jakarta pada Minggu 30 Juli 1995.

Di partai puncak, Persib bertanding melawan Petrokimia Putra. Ini merupakan duel kedua setelah di babak penyisihan keduanya juga bersua dengan skor imbang tanpa gol.

Persib yang saat itu diarsiteki pelatih legendaris Indra Thohir sukses memenangkan duel 1-0 dan Sutiono Lamso menjelma menjadi pahlawan berkat gol tunggalnya pada menit ke-79.

Itu merupakan gelar spesial Maung Bandung di kasta teratas kompetisi domestik setelah penggambungan Galatama dan Perserikatan yang kemudian menjadi Liga Indonesia.

Tak mudah bagi Persib untuk merengkuh gelar juara, mengingat saat itu tak sedikit tim yang memakai jasa pemain asing, termasuk Petrokimia Putra. Persib murni diperkuat pemain lokal.

Lama berlalu, Sutiono Lamso kembali membeberkan di balik kesuksesan Maung Bandung di momen sejarah itu.

 

Kunci Kedidagyaan Persib

Melalui kanal YouTube Bicara Bola, legenda yang memperkuat Persib dari 1988 hingga 2000 itu mengatakan dua kunci krusial kedigdayaan Pangeran Biru. Meski minus pemain asing, Persib tetap sangar.

"Yang jelas, kita kan tanpa pemain asing. Mungkin kalau saya, ada pemain lokal ada pemain asing, masih bisa ngandalkan nih. 'Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya'. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing. Apa yang harus kita lakukan?" kata Sutiono Lamso.

"Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan. Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih. Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan," imbuh legenda yang kini berusia 59 tahun.

Tak minder dan gentar, Sutiono Lamso dan kawan-kawan tetap percaya diri bertarung, baik kandang maupun tandang.

"Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan. Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan," tandas kelahiran Purwokerto, 19 Agustus 1966.

"Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya. Satu sama lainnya sudah saling tahu."

Kesuksesan Persib juga tak lepas dari gelandang cemerlang yang mereka punya. Kendati bertubuh mungil, mereka tetap lincah dan licin serta jitu memberi umpan. Termasuk daya tahan di atas rata-rata.

"Terus ini lagi, gelandang kita kan kecil-kecil tuh. Ada Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, ada juga Yudi Guntara. Bisa ngalahin tim-tim yang pemainnya besar-besar dan tinggi-tinggi. Itu karena kita punya kecepatan, punya daya tahan," tandas Sutiono Lamso.

"Resep dan Pak Indra Thohir, latihannya memang physical-nya itu harus kuat. Saya kira itulah yang saya rasakan," tutup Sutiono Lamso.

 

Video Populer

Foto Populer