Kisah Dua Srikandi HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026: Asrama, Sarung Tangan, dan Mimpi yang Tak Pernah Padam

Ayla Dva Khala Ahisma dan Keysha Putri Dwi Arianti mencuri perhatian di HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 5-12 Juli 2026.

Bola.com, Kudus - Berada di lapangan hijau dengan panas yang menyengat, dua remaja putri ini tidak pernah mengeluh. Bagi mereka, keringat yang jatuh adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi.

Ayla Dva Khala Ahisma dan Keysha Putri Dwi Arianti, dua nama yang belum banyak dikenal publik, mencuri perhatianĀ di HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 5-12 Juli 2026.

Di balik jersey dan sepatu bola yang mereka pakai, tersimpan cerita tentang keluarga, waktu yang harus dibagi, dan cita-cita yang terus dipupuk sejak usia belia.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Meninggalkan Sleman ke Bogor demi Memperjuangkan Cita-Cita

Ayla Dva Khala Ahisma masih ingat betul bagaimana perjalanan sepak bolanya dimulai dari langkah sederhana. Berawal tampil di MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta Series 2 2024 bersama sekolahnya, SDN Nanggulan, ia kemudian bermain di MilkLife Soccer Challenge All-Stars edisi perdana pada Januari 2025.

Dari situlah bakatnya mulai terlihat, hingga Cipta Cendikia FA datang merekrutnya. Tawaran bergabung datang, dan tanpa pikir panjang, Ayla memutuskan bergabung.

Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Orang tuanya tetap tinggal di kampung halaman, Sleman, sementara Ayla merantau ke Bogor demi mengejar mimpinya. Di sana, ia tinggal di asrama, jauh dari pelukan keluarga yang biasa menemaninya setiap hari.

Namun, ada secercah harapan yang membuat setiap pengorbanan itu terasa sepadan. Ayla memperoleh beasiswa untuk bersekolah gratis di Sekolah Cipta Cendikia, Bogor, dan bergabung dengan Cipta Cendikia FA.

Kesempatan itu bukan hanya memberinya wadah untuk terus mengasah kemampuan di lapangan hijau, tetapi juga memastikan pendidikannya tetap terjamin.

Kehidupan di asrama punya ritmenya sendiri. Ada jadwal latihan yang padat setiap hari, ditambah sesi renang pada Senin dan yoga khusus pada Jumat untuk menjaga kelenturan tubuh. Namun, Ayla menjalaninya dengan senang demi kelak membuat orang tuanya bangga.

Ketika ditanya soal mimpi, jawaban Ayla jujur dan lugas. Ia ingin serius menekuni sepak bola. Sosok yang menjadi bahan bakar semangatnya adalah Cristiano Ronaldo. Bukan karena selebrasi ikoniknya, melainkan caranya bermain dan mengontrol bola yang menurut Ayla begitu memukau.

Menariknya, meski mengidolakan CR7, Ayla tak lantas meniru gaya selebrasinya di lapangan. Ia lebih memilih punya caranya sendiri untuk merayakan gol, sebuah tanda kecil bahwa meski terinspirasi orang lain, Ayla tetap ingin menjadi dirinya sendiri.

Dari Lapangan Voli ke Bawah Mistar Gawang

Jika Ayla menemukan sepak bola lewat sekolahnya, jalan Keysha Putri Dwi Arianti, yang kini menjadi penjaga gawang Arema FC Women U-18, justru berawal dari olahraga lain, yaitu bola voli.

Keysha sempat menekuni voli hingga disarankan mencoba peluang di sepak bola, tepatnya sebagai penjaga gawang.

Alasannya sederhana. Kiper perempuan dengan postur tinggi masih tergolong langka di Indonesia, dan postur Keysha menunjang untuk posisi itu.

Keysha mencoba peruntungan lewat seleksi untuk tim Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Jatim 2023 di Sidoarjo, dan berhasil lolos.

Perjalanan itu dimulai pada 2023, saat Keysha masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Bisa dibayangkan betapa beratnya masa-masa awal itu: Satu sisi ia harus fokus belajar untuk pendidikannya di sekolah, di sisi lain ia dituntut disiplin berlatih sebagai calon kiper profesional.Ā 

Meski hidupnya kini lekat dengan sepak bola, jiwa voli dalam diri Keysha tak sepenuhnya hilang. Ia mengaku voli tetap menjadi hobinya, semacam cinta lama yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.

Ada juga sisi lain dari Keysha yang mungkin tak banyak diketahui orang: Ia suka bernyanyi, meski dengan rendah hati mengaku suaranya "tidak enak" didengar, sebuah kejujuran anak muda yang membuatnya makin terasa apa adanya.

Satu hal yang cukup mengejutkan dari sosok Keysha adalah caranya menyikapi panas terik saat latihan atau bertanding. Alih-alih mengeluh, ia justru menyukainya. Panas matahari yang membakar kulit tak membuatnya gentar, malah menjadi semacam pemantik semangat tersendiri.

Namun, bukan berarti Keysha mengabaikan sisi feminimnya. Sebagai perempuan, ia tetap menjalankan rutinitas menggunakan skincare, dengan sunscreen sebagai senjata wajib, baik dalam keseharian maupun saat bermain sepak bola di bawah terik matahari, supaya kulitnya tidak terbakar.

Soal masa depan, tujuan Keysha jelas: ia ingin menembus tim nasional. Ia berharap suatu saat nanti penampilannya di lapangan bisa dilirik klub-klub besar yang lebih profesional, sebuah loncatan yang akan membawanya semakin dekat ke mimpi mengenakan seragam Merah Putih.

Dua Jalan, Satu Semangat

Ayla dan Keysha datang dari latar cerita yang berbeda. Namun, keduanya berbagi benang merah yang sama: keberanian meninggalkan zona nyaman, kedisiplinan membagi waktu antara sekolah dan latihan, serta mimpi besar yang terus mereka rawat di tengah keterbatasan usia dan pengalaman.

Dalam HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026, kisah mereka menjadi pengingat sepak bola putri Indonesia sedang tumbuh dari akar-akar yang sangat personal, dari asrama yang jauh dari rumah, dan dari keringat di bawah terik matahari.

Ayla dan Keysha barangkali baru berada di awal perjalanan, tapi semangat yang mereka tunjukkan cukup untuk membuktikan satu hal: masa depan sepak bola putri Tanah Air ada di tangan anak-anak muda seperti mereka.

Video Populer

Foto Populer