3 Alasan Kuat Spanyol Layak Berada di Final Piala Dunia 2026, Mampukah Rusak Hegemoni Argentina?

Berikut tiga alasan mengapa Timnas Spanyol sangat layak berada di final Piala Dunia 2026 menantang Argentina.

Bola.com, Jakarta - Timnas Spanyol akan bertemu Argentina di partai final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, AS, Senin (20-7-2026) mulai pukul 02.00 WIB.

Tim berjuluk La Furia Roja menatap partai final kedua di Piala Dunia, setelah memenangkan Piala Dunia edisi 2010 di Afrika Selatan.

Spanyol dalam tren memukau selama Piala Dunia 2026. Mereka selalu menang sejak ditahan imbang tim debutan, Tanjung Verde, di fase grup.

Rodri dkk. menghajar Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0) sebelum bertemu Argentina di final.

Tak hanya itu, Spanyol cuma kemasukan satu gol di Piala Dunia kali ini, saat dijebol pemain Belgia, Charles De Ketelaere di perempat final.

Serangkaian hasil dan performa menawan tersebut menjadikan tim Matador juga diunggulkan untuk bisa mengalahkan Argentina di partai puncak.

Berikut tiga alasan utama Spanyol pantas menjadi penantang serius Argentina dalam perebutan trofi Piala Dunia 2026.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Kolektivitas Tim

Tidak ada pemain Spanyol yang menyedot perhatian penggemar dan media sebesar Lamine Yamal. Pemain berusia 19 tahun ini punya andil mengantarkan Spanyol ke final Piala Dunia 2026.

Namun, pengaruhnya tidak sedominan peran Lionel Messi bagi Argentina, Harry Kane dan Jude Bellingham bagi Inggris, Erling Haaland bagi Norwegia, ataupun trio Prancis, yakni Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele.

"Kami bertanding melawan salah satu tim nasional terbaik, tapi mereka harus menghadapi tim yang sesungguhnya. Kami adalah sebuah tim," ujar Luis de la Fuente, pelatih Timnas Spanyol usai laga di semifinal.

Spanyol berhasil melaju ke final, meski Yamal hanya mencatatkan satu gol dan satu assist.

Sosok kunci dalam perjalanan menuju final ini justru ada pada Mikel Oyarzabal. Eksekusi penaltinya yang sukses saat melawan Prancis menjadi gol kelimanya di Piala Dunia 2026.

Padahal, penyerang Real Sociedad itu mungkin tidak akan masuk daftar sepuluh besar penyerang paling terkenal di dunia.

Begitu pula dengan Mikel Merino, supersub andalan tim Matador yang mencetak gol penentu kemenangan di menit-menit akhir saat melawan Portugal dan Belgia.

"Kami semua bekerja demi tujuan yang sama, bukan sekadar ambisi individu. Saya belum pernah merasakan kebersamaan dalam kelompok yang begitu luar biasa, baik di dalam maupun di luar lapangan. Selama 47 hari bersama, kami tidak mengalami satu masalah pun," ungkap de la Fuente.

Punya Pertahanan Kukuh

Hingga jelang laga final Piala Dunia 2026, Spanyol sejauh ini baru kebobolan satu gol.

Hasil imbang 0-0 pada laga pembuka melawan Tanjung Verde sempat menuai cemoohan. Namun, semua kini telah mengakui bahwa sang juara Eropa tersebut sedang menjalani turnamen dengan performa pertahanan yang luar biasa.

Hanya Belgia, di babak perempat final, yang berhasil memberikan tekanan kepada lini pertahanan Spanyol dalam beberapa kesempatan dan menjadi satu-satunya tim yang mampu mencetak gol ke gawang mereka.

Kiper Unai Simon mencatatkan rekor Piala Dunia dengan torehan 649 menit tanpa kebobolan, melampaui rekor milik Walter Zenga yang telah bertahan selama 36 tahun dengan selisih yang cukup jauh.

Selain kehebatan kper Athletic Bilbao itu, di depannya juga ada peran Rodri sebagai jenderal lini tengah, dan Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun, yang tidak membiarkan lawan menciptakan peluang di daerahnya.

Aura Juara Pelatih

Sejak mengambil alih jabatan pelatih pada Januari 2023, Luis de la Fuente telah memimpin 48 pertandingan internasional. Ia hanya menelan tiga kekalahan dan tidak satu pun terjadi di turnamen besar.

Sejak kekalahan 0–2 dari Skotlandia di kualifikasi Euro pada Maret 2023, Spanyol hanya kalah di final Nations League melawan Portugal musim panas tahun lalu, itu pun melalui adu penalti.

Dalam permainan terbuka, sang juara Eropa tetap tak terkalahkan selama lebih dari tiga tahun di bawah asuhan de la Fuente.

"Saya terus dibuat kagum oleh kemampuan tim ini. Kami terus berkembang, dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya," ujar de la Fuente.

"Ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah soal komitmen, bakat, pengorbanan, dan keinginan untuk menjadi versi diri kami yang lebih baik lagi," imbuhnya.

De la Fuente berperan besar dalam menanamkan pola pikir di timnya. Ia telah bekerja untuk Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) selama 13 tahun dan sebelumnya melatih banyak pemain timNAS saat ini di level usia muda. Ia menanamkan nilai-nilainya kepada mereka sejak mereka masih remaja.

Bersama Rodri dan Merino, misalnya, ia memenangkan Euro U-19 pada tahun 2015. Empat tahun kemudian, Oyarzabal dan Dani Olmo masuk susunan pemain utama saat tim U-21 Spanyol menjuarai kompetisi Eropa.

 

Sumber: DPA

Video Populer

Foto Populer