5 Alasan Arsenal Bisa Akhiri Penantian Gelar Liga Inggris pada 2026

Lima alasan kenapa 2026 bisa jadi tahun Arsenal juara Liga Inggris.

Bola.com, Jakarta - Kemenangan telak 4-1 atas Aston Villa yang sedang berada dalam performa gemilang makin memperkuat harapan Arsenal meraih gelar Liga Inggris musim ini.

Banyak indikator yang menunjukkan bahwa musim 2026 bisa menjadi momentum Mikel Arteta dan para pemainnya mengakhiri paceklik gelar yang sudah lama dirasakan.

Selain performa gemilang di lapangan, konsistensi dan kedalaman skuad juga makin menunjukkan bahwa Arsenal siap bersaing hingga akhir musim.

Momentum positif ini memberi optimisme bagi para suporter yang telah menunggu lama untuk melihat tim kesayangan mereka mengangkat trofi Liga Inggris kembali.

Memasuki pertandingan sang rival, Manchester City, pada Hari Tahun Baru, Arsenal memimpin klasemen dengan selisih lima poin.

Berikut lima alasan yang membuat The Gunners layak dianggap kandidat juara musim ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 6 halaman

5. Statistik Menunjukkan Arsenal Tim Terbaik di Liga

Bagi penggemar analisis xG (expected goals), Aston Villa sempat menjadi sorotan. Secara angka, Villa berada di peringkat ketujuh terendah dalam hal xG yang dibuat, dengan 30 gol dari 21,8 xG yang diperkirakan. Mereka juga hanya kebobolan 23 gol, padahal xGA mereka 27,9.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa tren kemenangan Villa, meski impresif, sulit dipertahankan.

Hal yang sama berlaku untuk Arsenal, yang memimpin liga baik dalam xG maupun xGA.

Meski Gabriel Jesus menjadi mesin gol tim, Arsenal sebenarnya tidak memimpin statistik gol (37 berbanding 43 milik City), mereka unggul dalam keseimbangan antara menciptakan peluang dan mencegah lawan.

Contohnya, Manchester United berada di posisi ketiga untuk xG, tetapi di xGA mereka berada di urutan kesepuluh. Newcastle menempati posisi ketiga untuk xGA, tetapi hanya kesembilan untuk peluang yang dibuat.

Satu-satunya tim yang mendekati Arsenal adalah Man City, tetapi selisih pertahanan tetap signifikan: Arsenal kebobolan 13,3 xG sementara Man City 19,4.

Angka ini memperkuat kesan bahwa Arsenal adalah tim terbaik liga.

3 dari 6 halaman

4. Memiliki Gelandang Terbaik di Liga

Gelandang sering kali kurang diapresiasi dalam penghargaan akhir musim, kecuali Rodri. Namun, jika Arsenal meraih gelar musim ini, satu nama akan mendapatkan pujian lebih dari yang lain: Declan Rice.

Dibandingkan dengan lini tengah Arsenal terakhir kali juara pada 2003/04, yang dihuni Patrick Vieira, Robert Pires, dan Freddie Ljungberg, Rice bisa dikatakan menyatukan ketiganya dalam satu pemain.

Ia adalah gelandang paling lengkap di liga, bahkan mungkin dunia. Hanya Rayan Cherki yang menciptakan peluang lebih banyak musim ini.

Rice mencatatkan 1.435 sentuhan, masuk tiga persen terbaik, meski sempat absen satu pertandingan, dan berada di posisi ketiga untuk total ball carry di atas Elliot Anderson dan Jan Paul van Hecke.

Kedatangan Martin Zubimendi membuat Rice bisa bermain lebih maju sebagai No.8, meski dengan gaya sedikit berbeda, memanfaatkan fisiknya untuk ikut menyerang.

Saat menghadapi Aston Villa, absennya Rice membuat lini tengah Arsenal rentan, memberi Amadou Onana ruang leluasa.

Arteta berharap Rice hanya absen sementara, karena ia menjadi kunci di periode Januari yang padat ini.

4 dari 6 halaman

3. Kembalinya Gabriel Jesus

Kelemahan Arsenal musim ini tampak di lini depan. Rekrutan mahal 63,5 juta paun, Viktor Gyokeres, diharapkan menjadi solusi, tetapi belum menunjukkan kontribusi signifikan.

Kabar baiknya, Arteta kini punya Gabriel Jesus, yang kembali dari cedera ligamen.

Jesus tampil klinis melawan Crystal Palace di Piala Liga dan Aston Villa, mendapatkan pujian Jamie Carragher yang menilai "Jesus jelas lebih baik daripada Gyokeres".

Kehadiran Jesus memberi Arteta opsi lini depan yang lebih meyakinkan.

5 dari 6 halaman

2. Statistik Historis Mendukung ("Uncle Jeff's Coefficient")

Berdasarkan Coefficient yang membandingkan performa tim di pertandingan musim ini dengan musim sebelumnya, Arsenal saat ini unggul dibanding posisi mereka setahun lalu. Tahun lalu, pada titik yang sama, Arsenal mengoleksi 39 poin, musim ini 45 poin.

Dengan pola ini, Arsenal diprediksi finis dengan 86 poin, setara prediksi akhir Manchester City.

Ini menunjukkan Premier League musim ini bisa ditentukan oleh margin kecil seperti selisih gol, dan kunjungan Arsenal ke Etihad pada pertengahan April berpotensi menjadi penentu gelar.

6 dari 6 halaman

1. Kedalaman Skuad yang Mumpuni

Satu di antara faktor pembeda Arsenal musim ini dibanding sebelumnya adalah kedalaman skuad. Arsenal tidak lagi rentan kehilangan performa hanya karena satu cedera pemain kunci.

Di bawah mistar, David Raya jarang absen dan Kepa Arrizabalaga menjadi alternatif handal. Bek sayap seperti Ben White, Jurrien Timber, Riccardo Calafiori, dan Myles Lewis-Skelly siap menambal posisi.

Kendati Gabriel dan William Saliba sempat cedera, Christian Mosquera dan Piero Hincapie bisa menggantikan peran mereka.

Lini tengah Arsenal juga solid: Martin Odegaard, Zubimendi, Declan Rice, ditopang Christian Norgaard, Mikel Merino, dan Eberechi Eze.

Lini depan fleksibel dengan Bukayo Saka, Gabriel Jesus, Gabriel Martinelli, Viktor Gyokeres, Leandro Trossard, Noni Madueke, Ethan Nwaneri, atau Kai Havertz. Saat ini hanya Havertz, Mosquera, White, dan Max Dowman yang cedera.

Dengan kedalaman ini, Arsenal tak lagi bergantung pada satu atau dua pemain kunci, membuat peluang mereka menjuarai Premier League musim ini terasa lebih nyata.

 

Sumber: Planet Football

Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer