Gagasan Besar Ruben Amorim, Kenyataan Pahit di MU

Ambisi besar Ruben Amorim di MU berujung realitas suram.

Bola.com, Jakarta - Sejak INEOS masuk sebagai satu di antara pemilik Manchester United, arah kebijakan klub diarahkan pada proyek jangka menengah. Tim rekrutmen yang dipimpin INEOS ingin mengombinasikan pemain yang sudah teruji di Premier League dengan talenta potensial dari Eropa daratan.

Dalam kerangka itu pula, Ruben Amorim dipandang sebagai bagian dari rencana yang membutuhkan waktu.

Sir Jim Ratcliffe secara terbuka meminta kesabaran. Dalam sebuah podcast bisnis The Times, ia menyebut Amorim sebagai sosok "baik" yang memerlukan waktu hingga tiga tahun untuk benar-benar membuktikan dirinya sebagai pelatih berkualitas.

Namun, jalannya musim 2025/2026 justru memperlihatkan masalah yang nyaris serupa dengan musim sebelumnya. Amorim dan MU bergerak tanpa arah yang jelas. Situasinya memang tidak sekacau musim lalu, tetapi performa tim tetap jauh dari meyakinkan.

Basis pendukung Setan Merah yang besar dan beragam belum melihat tanda-tanda bahwa masa-masa indah yang dijanjikan Amorim di akhir musim sebelumnya benar-benar sudah dekat.

Di tengah ketidakpastian itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah MU bertahan dengan Amorim karena keyakinan penuh bahwa ia akan berhasil, atau karena terlalu sulit untuk mengakui bahwa mereka telah memilih sosok yang keliru?

Berikut ulasan mendalam The Athtletic, selengkapnya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Kesan Buruk

Keraguan tersebut makin menguat karena Amorim dinilai enggan merefleksikan kesalahannya sendiri. Banyak pendukung berharap ia mau meninggalkan pendekatan taktik favoritnya dan beralih ke sistem yang lebih sederhana. Amorim menolak.

Pada September 2025, ia bahkan mengatakan bahwa tidak ada siapa pun, termasuk Paus, yang bisa membuatnya mengubah pendekatan tersebut.

Baru pada Desember lalu, Amorim akhirnya mencoba sistem empat bek. Namun, penjelasan yang ia sampaikan justru menimbulkan kebingungan.

"Saya tidak bisa berubah karena para pemain akan menganggap saya berubah karena tekanan kalian," ucap Amorim kepada wartawan, menjelang hasil imbang 1-1 di Old Trafford melawan Wolverhampton Wanderers yang saat itu berada di dasar klasemen, Desember lalu.

Pernyataan itu meninggalkan kesan buruk. Seorang pelatih di klub yang paling banyak disorot di dunia mengakui tetap bertahan pada rencana yang selama berbulan-bulan telah diantisipasi dan dipatahkan lawan, hanya karena tidak ingin terlihat mudah dipengaruhi di mata pemainnya.

 

3 dari 5 halaman

Kegagalan Amorim

Ada pandangan bahwa seseorang baru benar-benar belajar setelah merasakan dampak dari keputusannya sendiri.

Amorim begitu yakin pada metodenya hingga memilih terus mengujinya, berharap sistem tersebut akhirnya akan bekerja. Kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.

Ia pun meninggalkan MU sebagai satu di antara pelatih kepala dengan catatan paling tidak memuaskan. Amorim datang membawa ambisi besar, tetapi pergi dengan kesan bahwa gagasannya lebih meyakinkan di atas kertas ketimbang di lapangan.

Timnya sering menurunkan banyak pemain bertahan, tetapi jarang benar-benar solid. MU ingin bermain cepat dan presisi, tetapi kerap lambat merespons momen-momen krusial.

Keberanian Amorim dalam konferensi pers tidak sejalan dengan keberanian taktisnya di pertandingan penting.

 

4 dari 5 halaman

Bak Matryoshka

Masa kepemimpinannya menyerupai boneka Matryoshka, lapisan demi lapisan keputusan yang patut dipertanyakan.

Siapa eksekutif senior yang menilai Amorim sebagai pilihan tepat, meski Liverpool dan West Ham United disebut-sebut meragukan kemampuannya beradaptasi dengan Premier League?

Siapa pula yang memutuskan mempertahankannya setelah kegagalan di final Liga Europa? Arah seperti apa sebenarnya yang ingin dibangun INEOS di MU?

Para petinggi sepak bola kerap memperlakukan kegagalan sebagai kejadian tunggal. Namun, masalah MU tidak berdiri sendiri.

Amorim memang pelatih kepala pertama dalam struktur baru klub, tetapi ia tetap terjerat persoalan yang menimpa hampir semua manajer MU setelah era Sir Alex Ferguson. Pihak manajemen kembali mengulang kesalahan yang sebelumnya diakui Ratcliffe.

 

5 dari 5 halaman

Jauh dari Stabil

Dalam wawancara bersama Gary Neville di Sky Sports pada Maret, saat membahas kepergian Erik ten Hag, Ratcliffe berkata:

"Apakah performa yang tidak konsisten itu akibat Erik, atau akibat organisasinya?” ujarnya.

"Kami tidak benar-benar bisa menjawabnya dengan pasti, jadi kami memberi Erik keuntungan dari keraguan," lanjutnya.

 

Organisasi MU masih jauh dari stabil. Pada September 2024, Dan Ashworth dan Omar Berrada sempat memaparkan visi jangka panjang klub kepada media.

"Jika melihat tim-tim yang sukses secara konsisten selama bertahun-tahun, mereka punya pelatih yang tepat, merekrut pemain yang tepat, serta struktur yang mendukung pelatih dan pemain," kata Berrada.

"Anda harus mengambil keputusan yang tepat secara konsisten selama bertahun-tahun untuk menjadi klub yang berkelanjutan secara finansial dan mampu bersaing di setiap kompetisi," lanjutnya.

Di bawah Amorim, MU kesulitan mengambil keputusan yang tepat secara konsisten. Apa pun langkah berikutnya, klub ini membutuhkan arah yang jelas, keyakinan dalam bertindak, dan, yang paling penting, akuntabilitas.

 

Sumber: The Ahtletic

Video Populer

Foto Populer