Carrick Membuktikan Era Amorim di MU Hanya Menghabiskan Waktu?

Apakah Michael Carrick membuktikan masa jabatan Amorim di Manchester United adalah sebuah kesia-siaan?

Bola.com, Jakarta - "Perasaan terbaik."

Sejak pemecatan Ruben Amorim, banyak kata diucapkan soal upaya Manchester United kembali terhubung dengan DNA klub. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan apakah identitas itu benar-benar masih ada.

Namun, jika memang ada, momen inilah wujudnya. Gol penentu kemenangan yang lahir jauh di masa injury time, ketika kemenangan terasa hampir mustahil, seolah menjadi pengingat siapa MU sebenarnya.

Penilaian Michael Carrick seusai laga merangkum perasaan banyak orang.

Benjamin Sesko memang pantas merebut sorotan setelah mencetak gol dramatis penutup kemenangan 3-2 atas Fulham. Tetapi, ketika euforia mereda, sebagian pendukung Setan Merah mulai menoleh ke belakang, ke 14 bulan kepemimpinan Ruben Amorim yang berakhir tanpa arah, dan bertanya-tanya: apakah klub ini sejatinya membuang satu musim penuh?

Amorim juga pernah memimpin kemenangan-kemenangan seperti ini. Duel epik 5-4 melawan Lyon di Liga Europa April lalu bahkan terasa lebih gila, dengan dua gol tercipta di menit terakhir perpanjangan waktu.

Jika ditarik lebih jauh, Carrick pun pernah menjadi bagian dari momen serupa, masuk sebagai pemain pengganti di masa injury time sebelum Michael Owen mencetak gol legendaris di derbi Manchester 2009.

Baca selengkapnya ulasan BBC di bawah ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Tentang Rasa

Rasanya tak pernah berubah.

"Ini perasaan terbaik," ujar Carrick.

"Beberapa momen terbaik yang pernah saya alami di sini adalah saat emosi dan kegembiraan meledak seperti itu."

"Tidak ada tempat yang lebih baik, di depan Stretford End, dan rasanya jadi jauh lebih berarti," lanjutnya.

"Orang-orang pulang bukan hanya membawa kemenangan United. Ada lapisan emosi dan keterikatan yang menyertainya. Itulah alasan kami semua mencintai klub ini."

"Kegembiraan seperti itu adalah bagian dari klub ini. Memang bukan cara yang paling mudah. Kami tentu ingin menang dengan lebih nyaman."

"Tapi, saat momen seperti ini datang, rasanya benar-benar spesial," kata Carrick.

Membangun Ulang setelah Era Amorim

Mari luruskan beberapa fakta.

Kemenangan atas Fulham menjadi kemenangan ketiga beruntun MU di Liga Inggris, dan itu diraih dalam tiga laga pertama Carrick pada periode keduanya sebagai pelatih.

Amorim membutuhkan 36 pertandingan liga untuk mencapai tiga kemenangan beruntun, dan itu pun hanya terjadi satu kali sepanjang 14 bulan masa jabatannya.

Dengan merespons kemenangan Chelsea dan Liverpool sehari sebelumnya, MU kembali naik ke posisi empat klasemen. Amorim tak pernah membawa timnya berada setinggi itu di akhir satu pekan pertandingan.

Jika digabungkan dengan masa tugas singkatnya pada 2021, Carrick kini memenangi empat dari lima laga liga yang ia pimpin. Ia menjadi manajer ketiga Setan Merah yang mencatatkan rekor tersebut, mengikuti jejak Sir Matt Busby pada 1946 dan Ole Gunnar Solskjaer pada 2019.

Amorim membutuhkan 12 laga liga untuk meraih empat kemenangan, dan setelah itu hanya menang sekali dari 10 pertandingan berikutnya.

Rata-rata 1,23 poin per laga yang dicatat Amorim menjadi yang terburuk di antara seluruh manajer MU sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013.

Sistem dan Personel

Lalu ada soal sistem dan personel.

Masalah rapuh di lini belakang memang belum sepenuhnya terselesaikan, tetapi perubahan dari tiga bek ke empat bek tidak membuat MU makin buruk. Pergeseran taktik mendasar dari era Amorim ini justru membuka ruang bagi kembalinya Kobbie Mainoo.

Di bawah Amorim musim ini, Mainoo bahkan tak pernah sekali pun menjadi starter di liga, setelah dipaksa bersaing langsung dengan kapten tim Bruno Fernandes.

Kontra Fulham, Mainoo tampil dominan. Secara defensif, yang kerap disebut sebagai kelemahannya, ia tampil solid. Saat menyerang, distribusi bola dan kemampuannya mencari ruang menjadi kunci upaya MU membongkar pertahanan lawan.

"Penampilan Kobbie hari ini sangat bagus dalam banyak aspek," kata Carrick.

"Dia dan Casemiro punya pekerjaan besar di lini tengah, terutama tanpa bola, dan saya pikir dia luar biasa."

"Dengan bola, dan saya sudah sering mengatakan ini, dia tidak pernah terlihat gugup."

"Dia tahu apa yang dibutuhkan dan selalu menghadirkan momen berkualitas."

"Itu sudah jadi ekspektasi kami darinya, tapi kadang kita lupa betapa mudanya dia," imbuhnya.

"Masih banyak yang akan datang, dan melihatnya bermain dengan kepercayaan diri seperti itu adalah sebuah kenikmatan," ucap pelatih berusia 44 tahun itu.

Ujian Berikutnya dan Bayang-Bayang Masa Lalu

MU selanjutnya akan menjamu Tottenham. Pada laga final Liga Europa di Bilbao, Amorim gagal merancang rencana permainan untuk mengalahkan Spurs, yang tampil buruk sepanjang musim lalu dan tak banyak membaik di kompetisi domestik musim ini.

Tottenham datang dengan kepercayaan diri usai bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menahan imbang Manchester City akhir pekan lalu, hasil yang sedikit meredakan tekanan terhadap Thomas Frank, pengganti Ange Postecoglou, pelatih yang mengalahkan MU di Bilbao.

Kekalahan pada laga hidup-mati demi tiket Liga Champions musim lalu berdampak besar bagi MU, baik secara prestise maupun finansial. Amorim sejatinya bisa saja dipecat saat itu. Namun, klub memilih bertahan.

Sikap itu berubah setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds awal bulan lalu. Petinggi klub tak mau mengambil risiko absen dari kompetisi Eropa untuk musim kedua secara beruntun.

Dalam tiga pertandingan, Carrick mengantar MU ke posisi Liga Champions dan menciptakan jarak lima poin dari Brentford di posisi ketujuh. Posisi keenam sudah cukup untuk tiket Liga Europa, target minimum klub musim ini.

Perdebatan soal apakah Carrick pantas mendapat jabatan permanen mungkin masih berlanjut. Namun, kini hampir tak ada lagi yang memperdebatkan apakah Amorim seharusnya dipecat, yang dipertanyakan hanya satu: apakah ia seharusnya pernah ditunjuk sejak awal.

Seperti komentar seorang pengkritik yang lama mengikuti MU, "selain konferensi persnya, sebenarnya apa sih yang dia kuasai?"

 

Sumber: BBC

Video Populer

Foto Populer