Mengapa Tiket Liga Champions Jadi Kunci Masa Depan MU

Mengapa kembali ke Liga Champions sangat penting bagi MU.

Bola.com, Jakarta - Kembali ke Liga Champions bukan sekadar soal prestise bagi Manchester United. Bagi manajemen klub, itu adalah target strategis yang menentukan arah masa depan klub.

Usai menjalani musim 2024/25 yang dianggap katastrofik, para petinggi klub menyusun peta jalan pemulihan. Targetnya jelas dan bertahap.

Musim pertama: kembali ke kompetisi Eropa, kemungkinan lewat Liga Europa, dengan finis di posisi keenam Premier League.

Musim kedua: menembus Liga Champions, dengan posisi empat besar dipandang sebagai pencapaian realistis untuk musim 2026/27.

Logikanya sederhana. Setelah dua gelombang pemutusan hubungan kerja, pemangkasan biaya di berbagai departemen, serta pengawasan lebih ketat terhadap pengeluaran, Sir Jim Ratcliffe dan tim manajemennya berhasil menekan kerugian klub secara signifikan, dari minus 113,2 juta menjadi laba 13 juta paun dalam laporan kuartal pertama hingga 30 September 2025.

Finis di posisi keenam musim ini, dibandingkan peringkat ke-15 musim lalu, hampir cukup untuk menutup kerugian pendapatan akibat absen dari kompetisi Eropa, yang baru kedua kalinya terjadi sejak larangan klub Inggris tampil di Eropa dicabut UEFA pada 1990.

Namun, suntikan dana dari Liga Champions berada di level yang berbeda.

Pada laporan kuartal pertama, MU memproyeksikan pendapatan musim finansial 2025/26 berada di kisaran 640-660 juta paun. Jika mereka bermain di Liga Europa, tambahan pendapatan diperkirakan hanya 10-35 juta paun, tergantung performa.

Sebaliknya, tampil di Liga Champions bisa memberi pemasukan minimal 50 juta paun, bahkan berpotensi menembus 100 juta lebih paun.

Itulah sebabnya MU meyakini bahwa jika rencana berjalan sesuai skenario, total pendapatan klub bisa melampaui 800 juta paun pada 2028.

Kemenangan 1-0 atas Everton pada Senin lalu, yang mengangkat mereka ke posisi keempat klasemen, menjadi sangat krusial dalam konteks tersebut.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Efek Domino Liga Champions

Dalam kontrak sponsor jersey terbaru bersama Adidas, MU akan kehilangan 10 juta paun untuk setiap musim mereka gagal tampil di Liga Champions. Sejak kompetisi itu diluncurkan pada 1992, MU belum pernah absen selama tiga musim berturut-turut.

Pada 4 Oktober, sebelum menang 2-0 atas Sunderland, peluang MU finis lima besar berada di titik terendah musim ini. Menurut data Opta, kemungkinan mereka finis empat besar hanya 3,1 persen, dan 5,8 persen untuk lima besar.

Ketika Ruben Amorim dipecat pada 5 Januari setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds, laga yang bisa dilihat sebagai bagian dari 10 pertandingan tanpa kekalahan atau sebagai satu dari tiga hasil imbang beruntun melawan tim papan bawah, tergantung sudut pandang, peluang itu naik tipis menjadi 5,9 persen (empat besar) dan 15,7 persen (lima besar).

Kini, setelah lima kemenangan dari enam laga di bawah pelatih interim Michael Carrick, angkanya melonjak menjadi 44,2 persen untuk empat besar dan 72 persen untuk lima besar.

Dengan koefisien klub-klub Inggris yang jauh unggul dalam perebutan dua slot tambahan Liga Champions, Portugal tertinggal 13 kemenangan, Jerman 16, Italia 19, dan Spanyol 22, posisi kelima hampir pasti cukup untuk lolos.

Carrick tentu tak akan melihatnya sesederhana itu, apalagi masih ada 11 laga tersisa.

Namun, dari posisi saat ini, hanya terpaut tiga poin dari Aston Villa di peringkat ketiga dengan selisih gol sedikit lebih baik, serta unggul tiga angka atas Chelsea dan Liverpool, tanpa gangguan kompetisi Eropa, eks bek Liverpool dan Inggris, Jamie Carragher, menyampaikan pandangannya.

"Manchester United sekarang hampir dijamin mendapat satu tempat di Liga Champions. Saya tidak melihat mereka gagal lolos," ujarnya.

Dampaknya bisa sangat besar.

Bisa Lebih Menjanjikan

Performa impresif dalam enam pekan terakhir juga memperkuat posisi Carrick sebagai kandidat pelatih permanen. Terlebih, beberapa opsi berpengalaman seperti Thomas Tuchel dan Carlo Ancelotti telah berkomitmen dengan Timnas Inggris dan Brasil melewati musim panas nanti.

Roberto De Zerbi telah dipecat Marseille, sementara Oliver Glasner berpotensi mengalami nasib serupa di Crystal Palace sebelum kontraknya habis. Namun, kredibilitas mereka mungkin tak akan terlihat lebih menarik jika Carrick mampu membawa Setan Merah kembali ke kompetisi elite Eropa.

Secara komersial, MU juga akan jauh lebih menjanjikan.

Di tengah pertanyaan mengenai kemampuan klub mengamankan kesepakatan bisnis serta belum adanya sponsor tempat latihan maupun perlengkapan, partisipasi di Liga Champions menjadi faktor penting.

Lebih jauh lagi, jika rencana pembangunan stadion baru benar-benar berjalan, pendanaannya akan sangat bergantung pada penjualan kursi premium dengan harga tinggi.

Dalam dokumen yang dikirim ke pemegang tiket musiman Oktober lalu, harga indikatif untuk kursi musiman di tier bawah tribune seberang bangku cadangan dipatok 4.830 paun.

Sementara untuk hospitality, satu boks privat besar berkapasitas 16 kursi di tier tengah tribune utama, sejajar garis tengah lapangan, bisa mencapai 424.800 paun.

Jelas, para suporter akan lebih bersedia membayar angka sebesar itu jika menyaksikan tim yang bersaing memperebutkan trofi besar, sesuatu yang belum benar-benar terjadi sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013.

Menyelesaikan Tugas

Di sisi lain, beban utang klub yang melampaui 1 miliar paun, termasuk kewajiban pembayaran transfer yang belum lunas, setidaknya tidak perlu bertambah jika pemasukan meningkat.

Meski demikian, Carrick berulang kali menegaskan dirinya tak ingin terlena oleh performa timnya.

Usai kemenangan atas Everton, ia ditanya apakah hasil tersebut meningkatkan keyakinan soal tiket Liga Champions, apalagi di akhir pekan ketika Aston Villa dan Chelsea sama-sama ditahan imbang, sementara Liverpool butuh gol injury time untuk menang di markas Nottingham Forest.

Jawaban Carrick tak secara langsung menanggapi inti pertanyaan tersebut. Ada logikanya: dalam sepak bola, hasil bisa dengan cepat mengubah narasi.

Saat mengambil alih Middlesbrough pada 2022, Carrick memenangi 15 dari 20 laga liga pertamanya, tetapi hanya tiga dari 12 pertandingan berikutnya.

Harapan promosi otomatis berubah menjadi laga play-off melawan Coventry, dan mereka kalah. Middlesbrough tak pernah lagi sedekat itu dengan promosi di bawah asuhan mantan gelandang Inggris tersebut.

Kini, ia tahu timnya berada di posisi ideal untuk memastikan tiket kembali ke Liga Champions.

Tugasnya tinggal satu: menyelesaikan pekerjaan itu.

 

Sumber: BBC

Video Populer

Foto Populer