Ban Michelin dan Performa Ducati di MotoGP Mandalika

MotoGP Mandalika 2026 menguji Ducati lewat ban Michelin berkonstruksi kaku. Catatan musim lalu dan aspal baru membuat arah performa sulit diprediksi.

Bola.com, Jakarta - MotoGP Mandalika 2026 membawa satu persoalan teknis yang kembali menjadi perhatian Ducati. Michelin menghadirkan ban dengan konstruksi casing yang diperkuat untuk menghadapi karakter Sirkuit Mandalika yang dikenal panas, abrasif, dan memiliki sejumlah bagian berkecepatan tinggi.

Ban dengan konstruksi tersebut bukan hal baru dalam kalender MotoGP. Michelin menggunakannya di beberapa sirkuit dengan tuntutan tinggi, tetapi karakter casing yang lebih kaku dalam sejumlah kesempatan justru membuat Ducati harus bekerja lebih keras untuk menemukan setelan yang tepat.

Mandalika bahkan memiliki catatan tersendiri bagi Ducati dalam penggunaan ban tersebut. Musim lalu, motor pabrikan GP25 kesulitan memaksimalkan potensinya, sementara Fermin Aldeguer yang mengendarai GP24 justru mampu tampil impresif.

Situasi tahun ini berpotensi berbeda karena lintasan Mandalika telah menggunakan aspal baru. Perubahan permukaan tersebut membuat pengaruh ban Michelin menjadi lebih sulit diprediksi, termasuk apakah Ducati kembali menghadapi persoalan serupa atau justru mampu menemukan solusi.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Ban Michelin Berkonstruksi Kaku Uji Adaptasi Ducati

Michelin membawa ban dengan konstruksi casing yang diperkuat untuk menjawab tuntutan Sirkuit Mandalika. Temperatur tinggi, karakter aspal yang abrasif, serta layout sirkuit yang cepat membuat ban harus mampu menahan beban dan panas dalam kondisi balapan.

Konstruksi tersebut juga lazim digunakan Michelin di Grand Prix Thailand, Brasil, dan Austria. Pada MotoGP Jepang pekan lalu, Michelin turut menyediakan satu pilihan ban dengan casing lebih kaku, meski spesifikasinya tidak sepenuhnya identik dengan yang digunakan di Mandalika.

Dari sisi karakteristik, casing yang lebih kaku dirancang untuk meningkatkan aspek keselamatan dalam kondisi tertentu. Namun, konsekuensinya dapat berupa cengkeraman yang sedikit lebih rendah dibandingkan ban standar sekaligus mengubah respons motor dan sensasi yang dirasakan pembalap.

Ducati menjadi salah satu pabrikan yang paling menarik untuk dipantau karena rekam jejaknya dengan ban tersebut. Mereka memang mampu meraih kemenangan di Thailand dan Austria musim lalu, tetapi GP25 justru kesulitan di Mandalika, sementara Aldeguer dengan GP24 mampu tampil dominan.

Aspal Baru Mandalika Bisa Mengubah Segalanya

Performa Ducati dengan ban casing lebih kaku juga belum sepenuhnya konsisten pada musim ini. Aprilia justru mampu memanfaatkannya dengan baik, sedangkan Ducati beberapa kali menghadapi kesulitan, meski Marc Marquez tetap mampu menjaga kecepatannya di sejumlah seri.

Marquez hampir merebut podium di Thailand dan memiliki pace untuk bersaing di barisan depan saat tampil di Austria. Di Jepang, pembalap Ducati tersebut akhirnya mampu meraih kemenangan dengan ban kompon keras (hard) yang menggunakan konstruksi lebih kaku.

Alex Marquez menilai karakter aspal baru Mandalika dapat menjadi faktor pembeda pada akhir pekan ini. Menurut pembalap Gresini tersebut, kondisi permukaan lintasan bisa membantu pembalap mendapatkan performa optimal dari ban Michelin.

"Menurut saya, aspal baru sangat membantu kami dan memang benar bahwa kompon bannya cukup lunak di Motegi, jadi hal itu juga membantu kinerja casing tersebut," ucap Alex Marquez dikutip dari Crash.

"Namun, casing yang dibawa ke sini berbeda dibandingkan dengan yang ada di Motegi. Jadi, hasilnya bisa saja berbeda," sambung Alex Marquez.

Sumber: Crash

Video Populer

Foto Populer