AI Grok Milik Elon Musk Jadi Sorotan Usai Hasilkan Konten Seksual Anak di X

Heboh AI Grok milik Elon Musk munculkan konten seksual anak di platform X.

Bola.com, Jakarta - Elon Musk kembali menghadapi sorotan publik. Kali ini, kontroversi muncul dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) miliknya, xAI, setelah chatbot Grok diduga memproduksi gambar yang memuat seksualisasi anak.

Insiden terjadi saat Grok merespons perintah pengguna, menghasilkan konten yang memperlihatkan anak-anak di bawah umur mengenakan pakaian minim. Materi ini sempat beredar di lini masa platform X selama periode liburan, memicu kecaman dari banyak pengguna.

Dalam respons otomatis kepada pengguna, Grok menyatakan bahwa tim "sedang segera memperbaiki" masalah ini, seperti dilaporkan CNBC, Sabtu (3-1-2026).

Chatbot itu juga menekankan bahwa konten seksual anak ilegal dan dilarang, serta mengingatkan risiko pidana bagi perusahaan yang sengaja memfasilitasi atau lalai menangani materi serupa.

Namun, pernyataan tersebut bukanlah pernyataan resmi dari xAI, melainkan respons internal yang dibuat oleh chatbot.

Staf teknis xAI, Parsa Tajik, kemudian mengonfirmasi adanya masalah dan menyatakan pihaknya akan memperketat sistem pengamanan.

"Hai, terima kasih sudah melaporkannya. Tim sedang mempertimbangkan untuk memperketat pengamanan kami lebih lanjut," tulisnya di X.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 3 halaman

Kontroversi Berulang dari Grok

Insiden ini juga menarik perhatian pejabat di India dan Prancis yang dilaporkan akan melakukan penyelidikan. Sementara itu, Federal Trade Commission (FTC) AS menolak memberikan komentar.

Masalah ini diyakini terkait dengan fitur "Edit Gambar" di X, yang memungkinkan pengguna mengubah foto orang lain melalui perintah teks, tanpa perlu persetujuan pemilik asli.

Kasus ini bukan kali pertama Grok menuai kritik. Pada Mei 2025, chatbot tersebut sempat mengeluarkan komentar kontroversial tentang isu "genosida kulit putih" di Afrika Selatan.

Dua bulan kemudian, Grok kembali menimbulkan kontroversi dengan posting komentar anti-Semit dan pujian terhadap Adolf Hitler.

Kendati sering menuai kritik, xAI tetap menjalin kemitraan strategis, termasuk dengan Departemen Pertahanan AS untuk mengintegrasikan Grok ke dalam platform AI agents bulan lalu.

3 dari 3 halaman

Sebarkan Informasi Tidak Akurat

Selain kontroversi konten seksual, Grok disebut-sebut menyebarkan informasi keliru terkait insiden penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, Australia.

Tragedi yang terjadi saat perayaan Hanukkah ini menewaskan belasan orang.

Grok memberikan konteks yang tidak relevan dan keliru, mencampuradukkan fakta, termasuk menyebut video warga yang melumpuhkan pelaku penembakan sebagai rekaman lama, atau menyamakan foto korban dengan sandera Israel di Gaza.

Ketika ditanya pengguna, Grok bahkan mengaitkan video baku tembak dengan dampak Topan Tropis Alfred, menunjukkan ketidakakuratan dalam interpretasi data.

Meski setelah beberapa klarifikasi chatbot menyadari kesalahannya, insiden ini menimbulkan kekhawatiran soal kemampuan AI untuk menangani informasi sensitif secara tepat.

 

Sumber: merdeka.com

Video Populer

Foto Populer