Kolom: Keajaiban Curacao dan Eloy Room, 15 Kali Menolak Kalah

Menarik menyaksikan aksi Curacao, negara yang tak pernah ada dalam tradisi elite sepak bola elite, di dua laga penyisihan Piala Dunia 2026.

Bola.com, Jakarta - Ketika peluit panjang melawan Jerman berbunyi enam hari sebelumnya, sebagian mimpi Curacao seolah ikut runtuh bersama tujuh gol yang bersarang di gawang mereka.

Di Piala Dunia, angka 7-1 bukan sekadar skor.

Ia bisa berubah menjadi bayang-bayang.

Mengikuti pemain ke ruang ganti.

Ke bus tim.

Ke kamar hotel.

Bahkan ke dalam tidur mereka.

Dan kekalahan itu datang bukan dari sembarang lawan.

Yang berdiri di seberang lapangan adalah Jerman.

Empat kali juara dunia.

Salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola.

Sebuah bangsa yang selama puluhan tahun menjadikan disiplin, organisasi, dan mental juara sebagai bagian dari identitas permainannya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Curacao, Pulau Kecil di Karibia

Namun bagi Curacao, luka itu terasa lebih dalam karena mereka tidak memiliki waktu untuk lama menundukkan kepala.

Enam hari kemudian, ujian berikutnya sudah menunggu.

Kali ini lawannya adalah Ekuador.

Runner-up kualifikasi Amerika Selatan.

Datang ke Piala Dunia dengan sembilan belas pertandingan tanpa kekalahan.

Seolah dunia belum selesai menguji ketangguhan sebuah pulau kecil di Karibia.

Tetapi sejarah olahraga jarang dikenang karena mereka yang tidak pernah kalah.

Sejarah olahraga lebih sering dikenang karena mereka yang menolak menyerah setelah kalah.

Dan pada malam itu, seorang penjaga gawang bernama Eloy Room memilih jalan tersebut.

Jauh di Laut Karibia, Curacao adalah pulau yang lebih sering dikenal karena lautnya yang biru daripada sepak bolanya.

Orang-orang datang ke sana untuk menikmati pantai, matahari, dan warna-warni rumah yang menghadap laut.

Bukan untuk membicarakan taktik sepak bola.

Bukan untuk membahas peluang juara dunia.

Bukan pula untuk membicarakan pemain-pemain bernilai ratusan juta euro.

Terbentang Jurang

Di pulau kecil itu, anak-anak bermain bola di jalanan sempit, di lapangan-lapangan sederhana, dan di bawah matahari tropis yang menyinari Laut Karibia sepanjang tahun.

Sebagian besar mimpi mereka bahkan tidak pernah sampai ke layar televisi dunia.

Tetapi malam itu, mimpi-mimpi kecil dari sebuah pulau kecil berdiri di panggung terbesar yang pernah mereka lihat.

Penduduk Curacao hanya sekitar 156 ribu jiwa.

Jumlah itu bahkan lebih sedikit dibandingkan banyak kecamatan di Indonesia.

Sementara lawannya adalah negara berpenduduk lebih dari 18 juta jiwa dengan tradisi sepak bola yang jauh lebih mapan.

Di antara keduanya terbentang jurang pengalaman, sumber daya, dan peringkat FIFA.

Lebih dari lima puluh tingkat memisahkan mereka.

Di atas kertas, pertandingan ini tidak tampak seimbang.

Namun sepak bola tidak dimainkan di atas kertas.

Ia dimainkan oleh manusia.

Dan manusia memiliki kemampuan yang tidak terekam statistik.

Mereka bisa melawan prediksi.

Giliran Ekuador

Di GEHA Field at Arrowhead Stadium, tribun lebih banyak berwarna kuning.

Kuning Ekuador.

Sorak mereka lebih nyaring.

Jumlah mereka lebih banyak.

Seperti mewakili kenyataan yang juga terjadi di lapangan.

Ekuador lebih dominan.

Lebih kuat.

Lebih diunggulkan.

Lalu pertandingan dimulai.

Dan nyaris seketika petaka datang.

Baru tiga menit berjalan ketika kapten Ekuador, Enner Valencia, lolos dari pengawalan.

Ia tinggal berhadapan dengan Eloy Room.

Satu lawan satu.

Situasi yang hampir selalu berakhir dengan gol.

Sebagian penonton sudah berdiri.

Sebagian lainnya mulai mengangkat tangan.

Mereka mengira tahu bagaimana kisah malam itu akan berjalan.

Tetapi Room bergerak.

Cepat.

Tenang.

Presisi.

Ujung jarinya menyentuh bola.

Tipis.

Bola Tidak Masuk

Sangat tipis.

Namun cukup untuk mengubah arah bola dan mungkin juga arah sejarah malam itu.

Bola meluncur melewati tiang.

Sorak kemenangan berubah menjadi desah kecewa.

Dan tanpa disadari siapa pun, penyelamatan itu ternyata menjadi kalimat pertama dari sebuah kisah yang akan dikenang Curacao selama bertahun-tahun.

Setelah itu, pertandingan berubah menjadi pengepungan.

Ekuador menyerang.

Terus menyerang.

Dan terus menyerang.

Mereka menguasai bola.

Mereka mengendalikan tempo.

Mereka menemukan ruang.

Mereka menciptakan peluang.

Di pinggir lapangan, Sebastian Beccacece berkali-kali memberi instruksi agar tekanan terus ditingkatkan.

Secara taktik, hampir semuanya berjalan sesuai rencana.

Yang tidak berjalan hanyalah hasil akhirnya.

Bola tidak mau masuk.

Gelombang Demi Gelombang

Sementara di sisi lain, pelatih veteran Curacao, Dick Advocaat, menyaksikan anak-anak asuhnya diterjang gelombang demi gelombang.

Pengalamannya membawanya ke berbagai turnamen besar.

Ia pernah menyaksikan tim-tim hebat.

Ia pernah melatih pemain-pemain besar.

Tetapi malam itu ia menyaksikan sesuatu yang bahkan tidak mudah dijelaskan oleh taktik.

Seorang penjaga gawang memainkan pertandingan terbaik dalam hidupnya.

Serangan demi serangan datang seperti ombak yang tidak mengenal lelah.

Dari sisi kanan.

Dari sisi kiri.

Dari tengah.

Dari bola mati.

Dari sundulan.

Dari tendangan jarak jauh.

Total dua puluh delapan percobaan dilepaskan Ekuador sepanjang pertandingan.

Lima belas di antaranya mengarah tepat ke gawang.

Dan lima belas kali pula Room berkata tidak.

Kadang dengan kedua tangannya.

Kadang dengan ujung jarinya.

Kadang dengan refleks yang nyaris mustahil.

Kadang hanya dengan keberanian menjatuhkan tubuhnya ke arah datangnya bola.

Satu penyelamatan.

Dua penyelamatan.

Lima.

Delapan.

Sepuluh.

Lalu jumlah itu terus bertambah.

Eloy Room Tidak Sedang Menjaga Gawang

Setiap kali Ekuador mengira mereka akhirnya menemukan jalan menuju kemenangan, Room muncul kembali.

Seolah malam itu ia sedang berdebat dengan takdir.

Dan menolak setiap argumen yang diajukan kepadanya.

Malam itu Eloy Room tidak sedang menjaga gawang.

Ia sedang menjaga kemungkinan bahwa bangsa kecil juga berhak dipercaya oleh sejarah.

Namun Curacao bukan sekadar tim yang bertahan hidup.

Mereka juga sesekali bermimpi.

Tahith Chong mencoba membawa bola keluar dari tekanan.

Juninho Bacuna berusaha menghubungkan lini tengah dengan lini depan.

Sherel Floranus sempat membuat Ekuador harus kembali waspada.

Ancaman mereka memang tidak banyak.

Tetapi keberanian mereka nyata.

Mereka tidak datang ke Piala Dunia hanya untuk menjadi korban.

Mereka datang untuk membuktikan bahwa mereka pantas berada di sana.

Dan kadang-kadang, dalam hidup maupun sepak bola, perbedaan antara bertahan dan menyerah sangatlah besar.

Sebelumnya Kebobolan 7 Gol

Enam hari sebelumnya, dunia melihat Curacao sebagai tim yang kebobolan tujuh gol.

Malam itu dunia melihat Curacao sebagai tim yang menolak kebobolan satu gol pun.

Dalam rentang waktu kurang dari seminggu, tidak ada yang berubah pada ukuran negara mereka.

Tidak ada yang berubah pada jumlah penduduknya.

Tidak ada yang berubah pada nilai pasar para pemainnya.

Tidak ada yang berubah pada peringkat FIFA mereka.

Yang berubah hanyalah cara mereka merespons kekalahan.

Dan sering kali dalam sejarah olahraga maupun sejarah bangsa-bangsa, itulah perbedaan yang paling menentukan.

Bukan seberapa keras seseorang jatuh.

Melainkan seberapa cepat ia bangkit.

Mungkin itulah sebabnya kisah Curacao terasa begitu dekat bagi banyak bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

Sebab bangsa-bangsa tidak selalu diuji ketika mereka menang.

Mereka diuji ketika kalah.

Ketika diremehkan.

Ketika dianggap terlalu kecil untuk berhasil.

Terlalu lemah untuk bertahan.

Terlalu jauh untuk diperhitungkan.

Berdiri Sendiri

Sejarah Indonesia sendiri tidak dibangun dari kemenangan yang datang begitu saja.

Ia dibangun oleh orang-orang yang berkali-kali jatuh, lalu memilih berdiri kembali.

Dan karena itu, kisah Curacao terasa akrab.

Bukan karena kesamaan ukuran negara.

Melainkan karena kesamaan pengalaman manusia.

Ketika peluit panjang akhirnya dibunyikan, papan skor masih menunjukkan angka yang sama seperti saat pertandingan dimulai.

0-0.

Bagi sebagian orang itu hanyalah hasil imbang.

Satu poin.

Satu statistik.

Satu catatan kecil dalam klasemen.

Tetapi bagi Curacao, malam itu terasa seperti kemenangan.

Karena itu adalah poin pertama mereka sepanjang sejarah Piala Dunia.

Bagi negara berpenduduk 156 ribu jiwa itu, satu poin tersebut jauh lebih besar daripada nilainya.

Ia adalah pengakuan.

Bahwa mereka layak berada di panggung ini.

Bahwa mereka bukan sekadar pelengkap.

Bahwa mereka ada.

Namun kisah paling indah malam itu justru datang setelah pertandingan selesai.

Ketika para pemain mulai meninggalkan lapangan dan sorak-sorai stadion perlahan mereda, Room mengambil sebuah kaus.

Lalu ia mengangkatnya tinggi-tinggi.

 

Ini Bukan Tentang Rekor

Di atas kaus itu tertulis satu nama.

Jairzinho Pieter.

Sahabat.

Rekan setim.

Sesama penjaga gawang.

Seorang pemain yang meninggal dunia secara mendadak saat menjalankan tugas negara pada tahun 2019.

Saat itulah malam tersebut berubah makna.

Ini bukan lagi kisah tentang rekor.

Bukan lagi kisah tentang statistik.

Bukan lagi kisah tentang lima belas penyelamatan.

Melainkan kisah tentang kesetiaan.

Tentang kenangan.

Tentang orang-orang yang telah pergi tetapi tetap hidup dalam perjuangan mereka yang masih bertahan.

Ketika lampu stadion mulai meredup dan para penonton berjalan meninggalkan kursinya, angka 0-0 masih menyala di layar raksasa.

Besok dunia akan melanjutkan turnamen.

Akan ada gol-gol baru.

Akan ada pahlawan-pahlawan baru.

Akan ada kemenangan yang lebih besar.

Mungkin bahkan akan lahir juara dunia baru.

Tetapi di sebuah pulau kecil di Karibia, malam itu akan dikenang jauh lebih lama.

Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, Curacao pulang bukan dengan kemenangan.

Melainkan dengan sesuatu yang terkadang lebih sulit diperoleh.

Keyakinan bahwa mereka pantas berada di sana.

 

Menyelamatkan Keyakinan

Lima belas kali Eloy Room menyelamatkan bola.

Tetapi yang sesungguhnya ia selamatkan malam itu jauh lebih besar daripada sebuah gawang.

Ia menyelamatkan keyakinan bahwa ukuran tidak selalu menentukan nasib.

Bahwa bangsa kecil tidak harus meminta izin untuk bermimpi.

Bahwa harapan masih memiliki tempat di tengah dunia yang terlalu sering mengagungkan angka.

Dan ketika seluruh dunia mengira Curacao akan jatuh, mereka tetap berdiri.

Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Azis Subekti

*) Pemerhati dan penulis sepak bola yang juga nggota DPR RI Fraksi Gerindra

Video Populer

Foto Populer