Kolom Piala Dunia 2026: Momok Aib Gijon pada Laga Austria dan Aljazair

Austria kontra Aljazair dan banyak laga akhir penyisihan Piala Dunia 2026 jadi kehilangan makna gegara regulasi tim peringkat tiga terbaik.

Bola.com, Jakarta -  Empat puluh empat tahun lalu, Aljazair menjadi korban salah satu pertandingan paling memalukan dalam sejarah Piala Dunia. Mereka menyaksikan dari kejauhan ketika Jerman Barat dan Austria memainkan laga yang kemudian dikenal sebagai Disgrace of Gijon atau aib Gijon.

Kemenangan 1-0 Jerman Barat sudah cukup mengantar kedua negara Eropa itu lolos ke babak berikutnya, sementara Aljazair yang sebelumnya membuat kejutan dengan menaklukkan Jerman Barat harus tersingkir. Setelah gol tercipta pada menit ke-11, pertandingan praktis berhenti dimainkan. Kedua tim saling mengoper bola tanpa intensi menyerang hingga peluit panjang berbunyi.

Peristiwa itulah yang kemudian mendorong FIFA mengubah aturan. Sejak Piala Dunia 1986, seluruh pertandingan terakhir di fase grup selalu dimainkan secara bersamaan dalam grup tersebut agar tidak ada lagi tim yang bisa menyesuaikan hasil berdasarkan pertandingan lain.

Ironisnya, pada Piala Dunia 2026, Aljazair kembali berada di persimpangan yang menghidupkan kembali bayang-bayang Gijon!

Nikmati liputan eksklusif Piala Dunia 2026 di Bola.com. Kami menyajikan berbagai liputan menarik, unik, dan analisis yang konferhensif dengan datang langsung ke Amerika Serikat. Klik link ini!

 

Jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, peliput Piala Dunia 2026. (Multimedia KLY)

Video Menarik Piala Dunia 2026

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Format Baru

Austria dan Aljazair memasuki pertandingan terakhir Grup J dengan situasi yang nyaris identik. Keduanya sama-sama kalah dari Argentina dan menang atas Yordania. Austria berada di posisi kedua hanya karena unggul selisih gol. Hasil imbang sudah cukup membawa Austria lolos sebagai runner-up grup. Bagi Aljazair, kemenangan memastikan posisi kedua, tetapi hasil seri pun sangat mungkin cukup untuk membawa mereka lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.

Sekilas tidak ada yang janggal. Namun persoalan muncul ketika kedua tim mengetahui seluruh hasil grup lain sebelum mereka bertanding.

 Format baru Piala Dunia dengan 48 peserta membuat delapan peringkat ketiga terbaik ikut lolos ke babak 32 besar. Untuk mengakomodasi sistem tersebut, FIFA telah menyusun 495 kemungkinan bagan babak gugur 32 besar bahkan sebelum turnamen dimulai. Artinya, ketika pertandingan Austria melawan Aljazair dimulai, kedua tim sudah mengetahui dengan pasti siapa calon lawan mereka jika finis sebagai runner-up maupun sebagai peringkat ketiga terbaik.

Inilah perbedaan mendasar dengan Aib Gijon. Dahulu dua tim cukup mengetahui hasil dalam grup mereka. Kini, berkat format baru dan bagan pertandingan yang telah dipublikasikan, peserta bahkan dapat menghitung jalur menuju fase gugur berdasarkan hasil seluruh grup.

Lawan Lebih Ringan

Dalam skenario tertentu, Austria justru berpotensi memperoleh lawan yang lebih ringan apabila lolos sebagai peringkat ketiga dibanding sebagai runner-up grup. Jika salah satu dari Kroasia atau Republik Demokratik Kongo gagal meraih hasil positif di grup lain, Austria bahkan memiliki insentif untuk menghindari kemenangan demi berpindah jalur babak gugur.

Alih-alih menghadapi Spanyol sebagai juara Grup H, mereka berpeluang bertemu Swiss atau mungkin saja Kolombia yang di atas kertas dianggap lebih bersahabat.

Aljazair pun menghadapi dilema yang tidak jauh berbeda. Negara yang empat dekade lalu menjadi korban persekongkolan kini justru berada dalam posisi di mana hasil imbang dapat menguntungkan kedua tim sekaligus. Yang berpotensi menjadi korban kali ini adalah Korea Selatan, bahkan Iran, bergantung pada hasil grup lain yang telah lebih dahulu selesai dimainkan. Agak menyedihkan situasinya.

Dalam konferensi pers menjelang pertandingan, pelatih kedua tim sama-sama menegaskan bahwa mereka tetap akan bermain untuk menang. Namun, sejarah mengajarkan bahwa persoalannya bukan semata soal niat pelatih atau integritas pemain. Sistem kompetisilah yang seharusnya tidak memberikan insentif bagi sebuah tim untuk menghitung hasil selain kemenangan.

 

Posisi Relatif Terkunci

Beberapa pertandingan pada fase grup kali ini memang telah memunculkan pertanyaan serupa. Australia dan Paraguay sama-sama memperoleh hasil yang menguntungkan melalui pertandingan imbang. Mesir dan Iran juga menutup laga dengan skor yang mengamankan posisi keduanya. Bahkan kekalahan Jerman dari Ekuador dipandang sebagian pengamat sebagai langkah yang membuka peluang memperoleh jalur babak gugur yang lebih menguntungkan.

Faktor lain yang ikut memperbesar peluang tersebut adalah penggunaan rekor pertemuan (head-to-head) sebagai penentu utama klasemen sebelum selisih gol. Dalam beberapa grup, situasi ini membuat posisi tim sudah relatif terkunci sejak pertandingan kedua. Akibatnya, laga terakhir lebih banyak menjadi ajang menghitung konsekuensi hasil dibanding benar-benar memperebutkan posisi klasemen.

Empat puluh empat tahun lalu, FIFA belajar bahwa pertandingan terakhir dalam satu grup tidak boleh dimainkan pada waktu yang berbeda. Format simultan menjadi jawaban atas aib Gijon.

Ruang Memilih Lawan

Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa persoalannya kini tidak lagi hanya berada di dalam satu grup. Selama sebuah tim dapat mengetahui konsekuensi menang, seri, bahkan kalah terhadap jalur babak gugur sebelum pertandingan dimulai, godaan untuk memainkan strategi di luar semangat kompetisi akan selalu ada.

 Mungkin Gijon tidak akan pernah terulang dalam bentuk yang sama. Namun selama desain turnamen masih memberikan ruang bagi tim untuk memilih lawan ketimbang mengejar kemenangan, bayang-bayang Gijon tidak pernah benar-benar pergi. Dan ketika kepentingan komersial selalu mengalahkan upaya menyempurnakan sportivitas, sepak bola akan terus berisiko kehilangan satu hal yang paling berharga, yaitu pertandingan yang benar-benar dimainkan untuk dimenangkan.

Salam sepak bola

 

Hardani Maulana

*) Pemerhati sepak bola yang juga founder Labbola

Video Populer

Foto Populer