Partisipasi Curacao, Haiti, dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Inspirasi Timnas Indonesia

Timnas Curacao, Timnas Haiti, dan Timnas Tanjung Verde mencatatkan pencapaian bersejarah dengan lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Bola.com, Jakarta - Timnas Curacao, Timnas Haiti, dan Timnas Tanjung Verde mencatatkan pencapaian bersejarah dengan lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Ketiga negara tersebut menjadi bagian dari kesebelasan kejutan yang berhasil menembus turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu.

Keberhasilan tersebut diraih melalui proses persaingan panjang melawan negara-negara lain dalam kualifikasi yang berlangsung ketat.

Curacao, Haiti, dan Tanjung Verde menunjukkan konsistensi sebagai negara berstatus non-unggulan dalam turnamen internasional.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Referensi Pengembangan Sepak Bola Nasional

Di Indonesia, CEO WOSPAC Indonesia, Benhard Sitorus, menilai capaian negara-negara tersebut dapat menjadi inspirasi Timnas Indonesia dan sepak bola nasional, terutama dalam pembangunan ekosistem pembinaan yang terstruktur untuk pemain muda.

WOSPAC Indonesia menjalankan program pengiriman pemain usia 13 hingga 14 tahun ke Spanyol untuk mengikuti kompetisi resmi.Program tersebut dirancang agar pemain muda dapat merasakan intensitas pertandingan kompetitif sejak usia dini.

Model pembinaan yang dijalankan WOSPAC menempatkan kompetisi sebagai bagian utama pengembangan pemain, bukan hanya pelatihan jangka pendek. Pemain juga diarahkan untuk memperoleh pengalaman menghadapi lingkungan sepak bola profesional di Eropa.

Konsep tersebut dirangkum dalam gagasan bertajuk "Jembatan Mengantar Mereka Jadi Hebat" yang menjadi dasar program pengembangan WOSPAC dengan pendekatan yang menggabungkan akademi, kompetisi, dan pendidikan formal dalam satu sistem pembinaan.

"Kesempatan itu harus bertemu momentum agar berhasil. Kami menciptakan dan menjaga bakat supaya tidak hilang. WOSPAC memberikan kesempatan untuk tetap bersekolah, meningkatkan kemampuan di akademi dan membentuk kepribadian anak. Sekolah dipastikan tidak terputus karena ada keselarasan dengan program latihan dan kompetisi," ujar Benhard.

Pemain Indonesia Punya Bakat, tapi Butuh Penyaluran

Benhard menjelaskan konsep status homegrown yang berlaku pada pemain yang berkompetisi dan terdaftar dalam periode tertentu di suatu negara. Aturan tersebut berkaitan dengan regulasi kompetisi di Eropa yang mengatur kuota dan pengembangan pemain lokal.

Dia juga menyoroti bahwa sistem tersebut dibuat untuk menjaga keseimbangan antara pemain lokal dan pemain asing dalam suatu kompetisi. Selain itu, regulasi tersebut turut memengaruhi struktur nilai dan kesempatan pemain di dalam kompetisi.

"Pada Mei 2026 ada satu anak usia 14 tahun yang kita titipkan di klub lokal, yaitu Martorell. Penampilannya dipuji CEO WOSPAC, Alex Bosacoma Sesma, dan disarankan main di usia 17. Kami yakin lebih banyak lagi anak Indonesia yang memiliki bakat tapi mereka butuh penyaluran, untuk tumbuh dan berkembang," ungkapnya.

"WOSPAC Indonesia menjadi solusi jangka panjang dan melengkapi program PSSI, bermitra dengan PSSI, menggandeng pihak swasta dan semua pihak terkait untuk mengirim dan menempa bakat lokal di akademi elit dunia demi kemandirian sepak bola Indonesia. Diperlukan kolaborasi strategis dalam membangun roadmap pembinaan usia dini berbasis model akademi dunia," tuturnya.

Video Populer

Foto Populer