Buntut Insiden Rossi-Marquez, MotoGP Ubah Regulasi Poin Penalti?

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 06 Jan 2016, 20:20 WIB
Perubahan poin penalti di arena MotoGP bakal menjadi satu di antara bahasan dalam pertemuan Komisi Grand Prix (GP) di Jenewa, Swiss. Hal itu terkait insiden antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di MotoGP Sepang 2015. (Motorcyclenews)

Bola.com, Jakarta Perubahan poin penalti di arena MotoGP bakal menjadi satu di antara bahasan dalam pertemuan Komisi Grand Prix (GP) di Jenewa, Swiss, 4 Februari 2016. Usulan perubahan regulasi itu mencuat sebagai buntut insiden antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di Sirkuit Sepang, Malaysia, 25 Oktober 2016.

Presiden Federation Internationale de Motocyclisme (FIM), Vito Ippolito, mengatakan agenda utama pada pertemuan di Jenewa, Swiss, tersebut untuk memutuskan stuktur masa depan MotoGP.

Advertisement

Selain usulan perubahan aturan poin penalti, banyak agenda lain yang akan dibicarakan, antara lain langkah banding Rossi ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), kontroversi tentang konspirasi, kesalahan Race Direction, hingga sejumlah aspek teknik. Menurut Ippolito, semuanya butuh respons cepat.

“Kami harus bicara dengan Race Direction. Satu di antara ide saya adalah untuk menilai berdasarkan kejadian yang spefisik, seperti melanggar batas kecepatan di pit-lane, melanggar aturan bendera biru, sesuatu yang tidak membutuhkan pembahasan panjang. Di kasus lain, seorang hakim tunggal bisa dibantu panel yang berisi orang-orang yang ahli,” ujar Ippolito, seperti dilansir GPOne, Rabu (6/1/2016).

“Kami masih memikirkan berbagai ide. Tujuannya menertibkan administrasi dan supaya suatu keputusan bisa keluar cepat dan lebih tepat,” imbuh dia.

Ippolito menambahkan, apa yang terjadi pada Rossi di akhir musim lalu sangat tidak adil.

“Saya merasa sistem sanksi poin penalti sangat tidak adil. Saya akan jelaskan mengapa itu tidak adil. Ambil contoh pada kasus Rossi. Jika penalti itu didapat apa awal musim, itu tidak masalah. Tetapi jika terjadi pada September di Misano, akan bermasalah karena penalti itu berlaku hingga 365 hari, kemudian dia kena 3 poin penalti. Hal itu membuatnya harus start dari posisi paling belakang karena akumulasi. Sistem ini menciptakan lingkaran yang harus dihentikan,” ujar Ippolito.