Finis ke-15 di GP Monako, Ini Komentar Rio Haryanto

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 30 Mei 2016, 08:10 WIB
Pebalap Manor Racing, Rio Haryanto, mengatakan balapan di Monte Carlo sangat sulit dan berat. (Manor Racing)

Bola.com, Monte Carlo - Balapan F1 GP Monako di sirkuit jalan raya Monte Carlo yang berlangsung dalam kondisi basah, Minggu (29/5/2016), diwarnai dengan sejumlah insiden. Pebalap Indonesia, Rio Haryanto, pun mengakui GP Monako tersebut sebagai race yang sulit dan berat.

Advertisement

Rio finis di urutan ke-15 pada balapan tersebut, alias tepat di belakang rekan setimnya di Manor Racing, Pascal Wehrlein. Gelar juara direbut pebalap Mercedes, Lewis Hamilton, yang mengungguli Daniel Ricciardo (Red Bull) yang menempati urutan kedua. Adapun sejumlah pebalap gagal menaklukkan lintasan yang basah dan sempit, antara lain Max Verstappen dan Kimi Raikkonen.

"Sebuah balapan yang sulit hari ini. Jelas, bagian pertama cukup rumit untuk semua orang dengan kondisi trek yang basah, tetapi sebenarnya ketika balapan berlangsung saya dapat menjaga kecepatan," kata Rio Haryanto, dalam rilis kepada bola.com.

"Saya cukup baik pada dua stint pertama. Kemudian, menjelang akhir, ada banyak traffic dan di bawah kondisi bendera biru saya harus berjuang keras untuk menjaga temperatur ban, jadi saya kehilangan lap time," imbuh Rio.

Balapan harus dimulai di belakang Virtual Safety Car karena kondisi lintasan yang sangat basah akibat hujan deras yang mengguyur Monte Carlo. Setelah hujan agak reda, sebagian besar pebalap berganti ke ban intermediate. Namun, sejumlah pebalap memilih bertahan dengan ban basah. Setelah lintasan kering, barulah paa pebalap kembali berganti ban.

Rio sebenarnya hanya memulai lomba dari posisi ke-19. Tetapi, dia mampu finis ke-15 karena banyak pebalap yang gagal merampungkan balapan karena crash.

"Meskipun menjadi hari yang berat, adalah sebuah kesempatan istimewa untuk bertanding di Grand Prix Monako pertama saya. Sekarang kami menantikan GP Kanada, di mana treknya lebih cocok dengan mobil kami," ujar Rio Haryanto.