Tragis, 5 Pemain Top Indonesia yang Pensiun Dini di Usia Emas

oleh Ario Yosia diperbarui 01 Jul 2016, 07:00 WIB
5 Pemain Top Indonesia yang Pensiun Dini di Usia Emas. (Bola.com/Rudi Riana)

Bola.com, Jakarta - Cedera jadi momok yang menakutkan bagi pesepak bola profesional. Kesempatan mereka untuk unjuk gigi di lapangan bisa kandas gara-gara gangguan cedera.

Seorang pesepak bola mengalami cedera merupakan sesuatu yang lumrah. Sepak bola merupakan olahraga yang terhitung keras, benturan rawan terjadi saat pertandingan berlangsung.

Advertisement

Bukan sesuatu yang aneh jika seorang pemain harus absen beberapa pertandingan karena cedera yang menghinggapi mereka imbas  benturan di area teknik. Timbul persoalan jika cedera yang dialami masuk kategori parah.

Karier mereka sebagai aktor lapangan hijau bisa hilang sekejap, karena cedera yang membuat mereka tidak lagi bisa fit menjalani pertandingan-pertandingan tensi tinggi.

Tak hanya tim dibela yang menderita kerugian karena kehilangan pemain andalan, tetapi juga pemain itu sendiri. Ia terancam kehilangan mata pencarian karena absen dalam waktu lama.

Sejumlah pesepak bola top dunia tercatat harus menepi di usia emas gara-gara hantaman cedera. Sebut Marco van Basten, bintang timnas Belanda dan AC Milan, yang harus menerima kenyataan pahit gantung sepatu ketika berusia 31 tahun. Padahal, kala itu Basten sedang on-fire.

Di Indonesia, ada sejumlah pesepak bola yang mengalami nasib tragis layaknya Basten. Mereka juga terhitung pemain penting di Timnas Indonesia.

Bola.com mencatat sekurangnya ada lima pemain yang pensiun dini saat dirinya masih ada di level usia emas.  Siapa-siapa saja mereka?

2 dari 6 halaman

Mauly Lessy

Mauly Lessy (Getty Image)

Penampilan Muhammad Mauly Lessy menarik perhatian publik sepak bola nasional di Piala Tiger 2004. Stoper kelahiran Ambon, 7 Agustus 1975 menjadi tembok kokoh bagi Timnas Indonesia yang sulit ditembus lawan.

Bersama Charis Yulianto dan Jack Komboy, Lessy jadi pilihan utama Peter Withe di sektor pertahanan Tim Merah-Putih. Terpilihnya Lessy, agak mengejutkan mengingat sang pemain hanya bermain di klub semenjana, Persikota Tangerang.

Peter kepincut dengan Mauly Lessy, yang bisa bermain di dua posisi, sebagai gelandang jangkar sekaligus bek. Timnas Indonesia menembus laga final Piala Tiger 2004, sebelum takluk dari Singapura dengan agregat 1-5.

Selepas Piala Tiger 2004, Lessy diboyong Rahmad ke Persipura. Di sana ia sukses meraih gelar Liga Indonesia setelah mengalahkan Persija dengan skor 3-2 di partai puncak.

Sayang hantaman cedera lutut parah pada musim 2007-2008 membuat sang pemain kehilangan sinar kebintangan. Walau sempat sembuh dari cedera, ia kesulitan menemukan bentuk permainan terbaik. Selepas dari Persipura ia berulangkali kesulitan mendapatkan klub.

Pada musim 2009-2010, Lessy yang sudah berusia 35 tahun sempat diajak gabung Rahmad Darmawan ke Sriwijaya FC, namun di Tim Laskar Wong Kito ia lebih sering jadi pemain serep. 

Bagaimana dengan kiprah Lessy di Timnas Indonesia? Selepas bersinar di Piala Tiger 2004, namanya hampir tak diingat pelatih-pelatih yang menangani Tim Merah-Putih.

3 dari 6 halaman

Firmansyah

Firmansyah (Reuters)

Firmansyah, disebut banyak pengamat sebagai stoper terbaik pada pertengahan 2000-an. Pemain kelahiran Tangerang, 7 April 1980, itu memulai karier profesional di klub Persikabo Bogor pada 1998, sebelum akhirnya bersinar di Persikota Tangerang pada 2000-2007.

Rahmad Darmawan berjasa besar pada karier sang pemain. Walau usianya relatif muda, pelatih asal Lampung tersebut tak ragu-ragu menjadikannya jendral pertahanan di Persikota, yang mencuat sebagai kekuatan baru di pentas kompetisi kasta elite.

Firmansyah mulai menapaki karier Timnas Indonesia di SEA Games 2003. Sebelum akhirnya ia jadi pelanggan Tim Merah-Putih pada periode 2004-2007. Bersama Mahyadi Panggabean, Ilham Jayakesuma, Firman Utina, Boaz Solossa, ia jadi bagian revolusi skuat timnas ala Peter Withe di Piala Tiger 2004.

Kala itu pelatih asal Inggris tersebut memilih meninggalkan sejumlah pemain pelanggan Tim Garuda dan menggantikannya dengan bakat-bakat muda yang diyakini mendongkrak performa Timnas Indonesia di perhelatan akbar antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Benar saja, tampil memesona sejak fase penyisihan Timnas Indonesia menembus partai final. Sayangnya, Indonesia takluk dari Singapura yang kala itu mulai memberdayakan pemain naturalisasi. Semenjak itu, Firmansyah selalu jadi pelanggan timnas.

Bahkan setelah Peter Withe lengser pasca kegagalan di Piala Tiger 2007, ia tetap menjadi pilihan utama Ivan Kolev. Sayangnya petaka menimpa sang bek, saat membela Timnas Indonesia dalam uji coba melawan PSIS Semarang jelang perhelatan Piala Asia 2007.

Ia cedera robek bantalan persendian kaki kanan dan kehilangan kesempatan berlaga di persaingan elite Asia di hadapan publik sendiri. Setelah menjalani proses penyembuhan cedera hampir setahun, Firman sempat mencoba kembali ke gelanggang.

Namun, ia gagal kembali ke level terbaik penampilannya karena trauma cedera. Pada 2008, saat berumur 28 tahun, ia memutuskan berhenti total dari dunia sepak bola profesional dan fokus meneruskan kuliah.

Sejak 2010 ia menjalani karier baru sebagai pegawai negeri di PDAM di Kota Bekasi. Ia sempat beberapa kali ditawari kontrak oleh klub-klub profesional, namun Firmansyah memilih menolak. "Masa saya sudah lewat di dunia sepak bola," kata pemain yang total 21 kali membela Timnas Indonesia tersebut.

4 dari 6 halaman

Ilham Jayakesuma

Ilham Jayakesuma (Istimewa)

Ilham Jayakesuma menjelma jadi striker top Tanah Air pada awal 2000-an. Torehan dua gelar Top Scorer Indonesia musim 2002 dan 2004 mempertegas kehebatan penyerang kelahiran Palembang, 19 September 1978 tersebut. Ia sedikit dari pemain lokal yang bisa menembus persaingan penyerang elite yang dikuasai pemain asing.

Ilham mencuri perhatian ketika mengantar tim kuda hitam Persita Tangerang menembus final Liga Indonesia musim 2002, sebelum dikalahkan Petrokimia Putra 0-1. Kala itu Tim Pendekar Cisadane yang diarsiteki Benny Dollo, tidak dihitung sebagai kandidat juara karena hanya dihuni sedikit pemain top.

Ilham mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak Piala Tiger 2004 dengan torehan tujuh gol. Lantaran penampilannya yang memukau di kompetisi kasta elite Indonesia klub asal Malaysia, MMPJ Selangor, merekrutnya pada tahun 2006.

Kepindahan Ilham ke Negeri Jiran jadi malapetaka bagi kariernya. Saat tampil di Liga Super Malaysia ia dihantam cedera lutut berat, yang membuatnya diputus kontrak di setengah musim kompetisi.

Ilham, kembali ke Persita. Semusim bermain di sana penampilannya merosot tajam. Ia hanya mengoleksi 4 gol dari 25 penampilan. Di pengujung musim ia mulai lebih sering menepi karena cedera kambuhan.

Pada musim 2008-2009 ia digaet Persisam Samarinda. Di sana ia juga gagal menunjukkan performa terbaik dan akhirnya didepak. Ilham semenjak itu kerap berpindah-pindah klub. Ia sempat bermain di Persita, Mitra Kukar, dan Sriwijaya FC.

Di klub-klub tersebut ia lebih sering jadi penghias bangku cadangan karena cedera kambuhan. Di Timnas Indonesia, semenjak Peter Withe lengser pasca Piala AFF 2006, Ilham tak pernah lagi dipanggil untuk membela Tim Garuda. 

Seusai membela Sriwijaya FC 2011-2012, Ilham memutuskan pensiun sebagai pemain profesional di usia 33 tahun. Malang benar nasib yang dialami Ilham, karena ia sejatinya dengan kemampuan yang dimiliki ia potensi yang besar masuk deretan striker legendaris Indonesia.

5 dari 6 halaman

Muhammad Nasuha

M. Nasuha (Bola.com/Peksi Cahyo)

Muhammad Nasuha, harus menerima kenyataan pahit karier sepak bolanya berakhir cepat gara-gara cedera lutut kirinya pecah saat membela Persib Bandung di Indonesia Super League 2010-2011. Padahal, saat itu ia tengah berada di level terbaik.

Nasuha, yang bermain di posisi bek sayap kiri, tampil memesona di Piala AFF 2010. Indonesia menembus laga puncak turnamen, sebelum akhirnya kalah agregat 4-2 dari Malaysia.

Nasuha, yang sebelumnya bermain di Persikota Tangerang, bukan terhitung pemain beken. Namanya mulai dikenal setelah digaet Rahmad Darmawan ke Sriwijaya FC pada musim 2007-2008.

Ia jadi bagian tim dobel gelar (Liga Indonesia dan Piala Indonesia) Laskar Wong Kito. Nasuha juga punya peran besar terhadap dua gelar Piala Indonesia musim 2008-2009 dan 2009-2010.

Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, yang ingin melakukan penyegaran, menggaetnya setelah melihat performanya yang kinclong di pentas kompetisi domestik. Nasuha membuktikan kalau ia punya kualitas serta pantas membela Tim Merah-Putih.

Publik tentu masih ingat bagaimana Nasuha berhasil membawa timnas  lolos ke final Piala AFF 2010 dengan kepala diperban usai berbenturan dengan salah satu pemain Filipina. Di final, Nasuha juga mencetak satu gol di leg kedua walau akhirnya gagal memberikan gelar perdana bagi Tim Merah Putih di Piala AFF karena takluk dari Malaysia dengan agregat 2-4.

Selain gol tersebut, Nasuha pernah mengukir gol indah dari tendangan  jarak jauh ke gawang Turkmenistan pada kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia, tahun 2011. Satu golnya itu membantu Timnas mengalahkan Turkmenistan 3-0.

Saat dihinggapi cedera di Persib, Nasuha menepi hampir dua tahun dari kemeriahan sepak bola nasional. Ia menata kembali kariernya dengan bermain di klub Divisi I, Cilegon United, pada musim 2014.

Sayang, ia kembali bernasib sial dihantam cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL). Sang pemain harus kembali menepi. Hingga kapan Nasuha bisa kembali pulih tidak diketahui. Dibantu mantan mentornya, Rahmad Darmawan, dan sejumlah pengusaha Nasuha sempat menjalani rangkaian operasi.

Ia saat ini masih menjalani proses penyembuhan cedera dan amat berharap bisa kembali bermain. "Saya tidak mau menyerah dengan keadaan. Saya ingin kembali bermain bola," ujar pemain yang kini berusia 31 tahun ini saat dijumpai Bola.com setahun silam.

6 dari 6 halaman

Reffa Mony

Reffa Mony (Istimewa)

Nama Reffa Arvindo B. Mony mencuat ke permukaan saat dirinya masuk daftar pemain proyek mercusuar pelatnas jangka panjang PSSI di Uruguay berlabel, Sociedad Anonima Deportiva (SAD). Ia jadi angkatan pertama tahun 2008.

Dengan postur tinggi menjulang (178 cm), Reffa diprediksi bakal jadi bek tengah masa depan Timnas Indonesia. Benar saja, saat di SAD performanya menonjol.

Ia didapuk sebagai kapten SAD Indonesia dan berkontribusi besar membantu timnya menempati posisi ke-7 di putaran kedua (Torneo de Honor) kompetisi Quinta Division U-17 yang diikuti 16 klub  Uruguay pada 2011. Bareng Syamsir Alam, ia sempat dipinjam klub elite Uruguay, Penarol.

Bersama beberapa bintang-bintang SAD lainnya, Reffa kembali ke Tanah Air pada 2011. Ia memilih bergabung dengan klub Divisi Utama, Persis Solo musim  2011-2012. Di musim berikutnya Reffa digaet ke Pelita Bandung Raya (PBR) di ISL 2013.

Di klub asal Bandung, awal bencana itu datang. Reffa harus menepi dari kompetisi karena mengalami cedera pada bagian yang paling menjadi momok seluruh pemain. Ya, Reffa harus meninggalkan gelanggang karena cedera lutut parah.

Butuh setahun lebih baginya untuk menyembuhkan cedera sekaligus menghilangkan rasa trauma pasca cedera.

Selama cedera dan masa pemulihan, Reffa banyak menghabiskan waktu di kampus. Maklum, ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas DR. Soetomo, Surabaya.

Setelah sembuh dari cedera pada pertengahan 2014, Reffa tak langsung kembali ke lapangan. Ia lebih memilih untuk mendaftar tes masuk TNI AD dari jalur sepak bola dan lolos menjadi TNI AD.

Setelah jadi TNI, Reffa kini terdaftar sebagai anggota tim PS AD.  Kini, ia bertugas di Pontianak, Kalimantan Barat.

Ia sempat diminta bergabung ke tim PS TNI pada turnamen Piala Jenderal Sudirman, hanya ia kesulitan mendapatkan posisi inti. Sekarang, Reffa yang baru berusia 24 tahun ini memutuskan fokus berdinas di kesatuannya.

Apa yang dialami Reffa Mony tragis rasanya. Ia layu sebelum sempat berkembang dan menunjukkan kualitas terbaik sebagai pesepak bola.