Andik Vermansah: Liga Malaysia Bisa Kejam pada Pemain Asing

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 24 Jul 2016, 10:30 WIB
Andik Vermansah tidak kaget bila klub-klub Malaysia bisa kejam terhadap pemain asing. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Selangor - Liga Malaysia dikenal kejam pada pemain asing. Tidak sedikit legiun impor yang memperkuat klub Malaysia Super League atau kasta di bawahnya menjadi korban keganasan manajemen klub lantaran dianggap tidak memberikan kontribusi maksimal.

Pemain yang pernah jadi bagian Sriwijaya FC, Osas Saha, merasakan sendiri hal itu. Osas diberhentikan Penang FA pada pekan kedua Juli lalu karena dinilai gagal memberikan performa terbaik.

Hal ini mengundang pemain asing Selangor FA asal Indonesia, Andik Vermansah, angkat suara. "Saya tidak kaget perihal itu. Malaysia, bukan tempat yang ramah bagi pemain asing. Klub-klub Malaysia bisa langsung memecat Anda jika dinilai tak sesuai dengan harapan mereka," ujar Andik.

Advertisement

Eks ikon Persebaya 1927 itu menilai sangat wajar bila klub-klub Malaysia bisa kejam terhadap legiun asingnya. Sebab, mereka memberikan semua fasilitas serta gaji tinggi untuk pemain asing.

"Pemain asing di sini dibayar mahal untuk bekerja keras. Tapi, terkadang upaya kerasnya tidak berhasil, karena satu pemain tidak bisa bekerja sendirian. Terkadang merasa tidak fair, tapi itulah fakta yang bisa menimpa siapa saja," katanya.

Namun pemain asal Jember, Jatim, itu meyakini klub-klub di Malaysia dalam memecat pemain atau pelatih tidak asal, juga bukan berdasarkan suka dan tidak, melainkan berpatokan pada data.

"Klub di sini sangat profesional. Mereka tidak akan memecat seorang pemain tanpa alasan yang jelas. Meski kejam, pemain asing yang dicoret tak perlu khawatir gajinya tak dilunasi karena setiap pemain yang di berhentikan, seluruh haknya tetap diberikan," ujar Andik.

2 dari 2 halaman

Jacksen Tiago jadi korban

Kejamnya klub-klub di Malaysia bisa ia pahami karena tuntutan suporter di Malaysia juga lebih kuat. Mereka akan terus menekan klub jika ada pemain asing yang dinilai tidak maksimal. Melalui media sosial, mereka akan "menghabisi" pemain asing serta klubnya.

Hal inilah yang seringkali membuat klub-klub di Malaysia berlaku seperti itu pada pemain asing atau pelatih asing. Kejadian sama pernah dialami Jacksen F. Tiago. Di masa persiapan awal musim, mantan pelatih Persipura Jayapura itu pernah jadi sasaran tembak kelompok suporter.

Kejadian berulang saat Malaysia Premier League bergulir. Jacksen pun harus rela ditepikan oleh manajemen, salah satunya karena kuatnya desakan suporter.

Jacksen F. Tiago memuji Andik Vermansah yang sukses beradaptasi dengan gaya bermain kompetisi Malaysia. Andik kini membela Selangor FA. (Facebook)

Pemain 24 tahun ini mengakui seorang pemain asing di Malaysia harus bekerja lebih keras ketimbang pemain lokal. Sebab mereka selalu dituntut bermain bagus di setiap pertandingan karena itu, selama tidak cedera, pemain asing seperti dirinya tetap berlatih di waktu libur, dan beristirahat yang cukup agar selalu bugar.

Baginya, hal itu juga belum cukup. Seorang pemain asing harus bisa beradaptasi cepat dengan tim. Jika gagal, nasibnya tak akan lama. Sebab bermain secara individu sebagus apa pun tidak akan terlihat jika tak mampu mendongkrak prestasi tim.

"Jadi kita harus pandai-pandai menempatkan diri, mempelajari kultur klub, dan menjalin komunikasi dengan baik sehingga kita bisa bekerja sama dengan baik," jelas pemain kelahiran 23 November 1991.

Andik Vermansah bukannya tak khawatir ia bernasib sama dengan pemain impor lainnya. Itulah mengapa ia sangat disiplin dalam mengatur waktu. "Saya selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya supaya terhindar dari hal-hal buruk yang bisa menimpa saya," tuturnya.