6 Kandidat Pengganti Liliyana Natsir untuk Dampingi Tontowi

oleh Teguh Iman Mulia diperbarui 31 Agu 2016, 09:05 WIB
Pengganti Liliyana Natsir (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta Pelatih kepala ganda campuran Pelatnas PBSI, Richard Mainaky, langsung dituntut berpikir keras setelah mengantar Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menyabet medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Dia harus bersiap menyiapkan calon untuk menggantikan Butet alias Liliyana Natsir. 

Advertisement

Pemain putri yang kini berusia 30 tahun tersebut mengisyaratkan segera gantung raket seusai mewujudkan impian terbesarnya merengkuh emas di ajang Olimpiade. Liliyana merasa sudah saatnya memberikan kesempatan kepada para pemain yang lebih muda. 

Richard menyatakan akan melakukan berbagai cara untuk membujuk supaya Liliyana menunda pensiun. Dia masih berharap Butet mendampingi Owi hingga Piala Sudirman pada Mei tahun depan. Apalagi, pada tahun depan juga bakal ada SEA Games. Hal krusial lain yang membuat Richard tak ingin Liliyana pensiun dalam waktu dekat adalah fantor Debby Susanto.

Pasangan Praveen Jordan tersebut juga bakal gantung raket karena ingin melepas masa lajang pada pengujung tahun ini. Keberadaan Liliyana pun semakin krusial untuk membimbing para juniornya.

Namun, bagaimanapun Richard tetap harus menyiapkan pasangan yang ideal untuk Tontowi Ahmad jika Liliyana pensiun sewaktu-waktu. Pemain tersebut setidaknya memiliki skill di depan net dan yang berpotensi sama baiknya dengana Liliyana.

Solusi termudah dari problem ini tentu saja mengambil satu dari beberapa pemain yang sudah ada di Pelatnas. PBSI bisa juga merekrut pemain dari klub-klub yang punya stok pemain bagus.  

Berikut ini Bola.com sajikan para pemain muda potensial yang berpotensi menggantikan Liliyana berpasangan dengan Tontowi Ahma: 

2 dari 7 halaman

Annisa Saufika

Annisa Saufika. (Bola.com/Adreanus Titus)

Annisa Saufika

Annisa layak menjadi salah satu kandidat untuk mendampingi Tontowi Ahmad setelah Liliyana pensiun. Melihat gaya permainan di depan net, Annisa lebih unggul jika dibandingkan pemain putri lain di sektor ganda campuran. Pemain berusia 24 tahun tersebut juga memiliki postur tubuh ideal, tak terlalu tinggi namun lihai melahap bola tanggung di depan net.

Pemain yang saat ini berpasangan dengan Alfian Eko Prasetyo tersebut pernah mencicipi peringkat 20 besar dunia pada 18 Februari 2015. Namun saat menikmati performa terbaik, Annisa justru mengalami cedera serius yang membuatnya harus menjalani masa pemulihan berbulan-bulan yang berdampak turunnya peringkat mereka hingga di di luar 60 besar.

Namun, Alfian/Annisa perlahan kembali menemukan permainan terbaik mereka. Posisi mereka pun saat ini naik ke peringkat 46 dunia (per 18 Agustus 2016).

Sejak 2013, Annisa sudah mengoleksi satu gelar juara BWF Grandprix (Selandia Baru Terbuka 2014) dan tiga kali menjadi runner-up yaitu di Vietnam, Bitburger Terbuka, dan Taiwan Terbuka. Sementara itu, di level International Challenge, Annisa sukses merebut dua gelar juara (Vietnam IC dan Osaka IC) dan satu kali menjadi runner-up (Malaysia IC).

Terakhir, Alfian/Annisa sukses melenggang hingga partai final Vietnam Terbuka 2016 sebelum dikalahkan pasangan nomor dua Malaysia Kian Meng Tan/Pei Jing Lai. Hal tersebut membuat performa Annisa di lapangan patut dimonitor dan diapresiasi.

3 dari 7 halaman

Gloria Emanuelle Widjaja

Gloria Emanuelle Widjaja (Bola.com/Adreanus Titus)

Gloria Emanuelle Widjaja

Gloria merupakan salah satu potensi terbaik yang dimiliki Indonesia di sektor ganda campuran selain Annisa Saufika. Postur menjulang 182 cm membuatnya cukup ditakuti di depan net yang menjadi spesialisasi kekuatan putri di ganda campuran.

Perempuan yang saat ini berusia 22 tahun tersebut awalnya dipasangkan dengan Edi Subaktiar. Pasangan tersebut sempat bermain baik dan menjadi juara di Macau Grand Prix Gold 2014 dengan mengalahkan pasangan terbaik Singapura Danny Bawa Chrisnanta/ Vanessa Neo. Namun, performa ganda campuran potensial tersebut menurun dan akhirnya dipisah. Gloria kini mulai dipasangkan dengan Riky Widianto. Meski belum tiga bulan dipasangkan dengan Riky, mereka tampil apik di Taiwan Terbuka Grand Prix Gold 2016, hingga menapak babak semifinal.

Pebulutangkis ganda campuran Indonesia, Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja, saat bertanding melawan pebulutangkis Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dalam Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Kamis (13/8/2

Apakah permainan Gloria saat ini sudah ideal? Yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Gloria adalah bagaimana bisa tetap luwes, terutama di depan net, meski postur tubuhnya sangat tinggi. Dengan postur tersebut, Gloria biasanya kesulitan mengantisipasi smash dan drop shot dari lawan. 

Dari segi pengalaman, pemain yang akrab disapa Glo tersebut sering tampil di ajang bergengsi bulutangkis dunia seperti di level grand prix gold dan super series. Tak disangka dengan banyak mencicipi turnamen besar, Gloria sempat merasakan peringkat 12 dunia bersama Edi Subaktiar. Dia layak menjadi pesaing Annisa menggantikan peran Liliyana sebagai partner Tontowi Ahmad mendatang.

4 dari 7 halaman

Melati Daeva Oktaviani

Melati Daeva Oktaviani (Bola.com/Adreanus Titus)

Melati Daeva Oktaviani

Melati Daeva yang berpasangan dengan Ronald Alexander perlahan namun pasti menjelma menjelma sebagai sala satu ganda campuran yang mulai diperhitungkan di kancah dunia.

Penampilan Melati Daeva terus menanjak bersama Ronald dan memiliki catatan apik di beberapa turnamen dunia. Pada 2015, ia telah menjadi juara di Taiwan Master dengan mengalahkan pasangan tuan rumah, Chang Ko Chi/Chang Hsin Tien.

Pasangan Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti (PBSI)

Sebelumnya, mereka dua kali menjadi runner-up di Selandia Baru Terbuka 2014 (dikalahkan Alfian Eko/Annisa Saufika) dan di kejuaraan Austria Terbuka 2015 (ditumbangkan pasangan pelatnas lainnya Edi Subaktiar/Gloria Emmanuel Widjaja).

Meskipun secara kualitas permainan Melati belum seimpresif dari Annisa dan Gloria, dia juga layak menjadi salah satu kandidat pengganti Liliyana. Yang jelas, saat ini pasangan Ronald/Melati berada di peringkat ke-19 dunia, lebih baik daripada Annisa dan Gloria.

Setidaknya dengan peringkat yang lebih baik ini bisa menjadi nilai plus Melati untuk diperhitungkan sebagai kandidat untuk mendampingi Tontowi.

5 dari 7 halaman

Shella Devi Aulia

Shella Devi Aulia (Bola.com/Adreanus Titus)

Shella Devi Aulia

Shella Devi Aulia menjadi pemain alternatif pengganti Liliyana setelah tampil cukup impresif dua turnamen terakhir yang diikutinya. Pemain kelahiran Bekasi 21 tahun silam yang saat ini dipasangkan dengan Hafiz Faisal tersebut mampu dua kali tampil sebagai semifinalis (Taiwan Terbuka dan Vietnam Terbuka 2016).

Hasil tersebut membuat Hafiz Faisal/Shella Devi Aulia saat ini bercokol di peringkat 31 dunia. Itu merupakan peringkat terbaik sejak mereka dipasangkan oada 2012. Selama dipasangkan dengan Hafiz, Shella sudah bermain sebanyak 110 kali, 74 di antaranya berbuah kemenangan.

Rekor tersebut membuat penampilan Shella layak diperhitungkan. Terlebih selama latihan di Pelatnas Cipayung ia juga telah dipasangkan dengan pemain selain Hafiz. Hal itu tentu menambah variasi pola dan kreativitas Shella.

Melihat umurnya yang lebih muda dari para pesaing lainnya, Shella bisa jadi kandidat menjanjikan untuk menggantikan Liliyana. 

6 dari 7 halaman

Ni Ketut Mahadewi Istirani

Ni Ketut Mahadewi Istirani (Bola.com/Adreanus Titus)

Ni Ketut Mahadewi Istirani

Ni Ketut saat ini memang bermain di sektor ganda putri bersama Anggia Shitta Awanda. Namun, jauh sebelumnya ia sering dimainkan di nomor ganda campuran.

Dia pernah dipasangkan dengan Kevin Sanjaya, Ade Yusuf, dan pada Juni lalu tampil bersama Rian Agung Saputra di Malaysia Masters 2016. Hal tersebut justru membuat Ni Ketut menjadi pemain yang serba bisa dan variatif.

Ganda puteri Indonesia, Anggia Shitta Awanda/Mahadewi Istirani Ni Ketut melakukan selebrasi usai mengalahkan Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan (Korsel) di 16 besar BCA Indonesia Open 2016, Jakarta, Kamis (2/6/2016). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Saat tampil di ganda putri, ia banyak diandalkan di depan net. Rally juga menjadi kekuatan Ni Ketut selama bermain di ganda putri. Daya tahan tubuh Ni Ketut dinilai baik dan kemampuannya masih mungkin berkembang mengingat usianya ini belum menginjak 22 tahun.

Pasangan Ni Ketut/Anggia saat ini bercokol di peringkat 19 dunia nomor ganda putri dan digadang-gadang sebagai penerus pasangan Nitya Krishinda/Greysia Polii. Bukan tak mungkin Ni Ketut bisa menjadi Zhao Yunlei-nya Indonesia yang mampu bermain rangkap di sektor ganda campuran sekaligus ganda putri dengan sama bagusnya,   

7 dari 7 halaman

Rosyita Eka Putri Sari

Rosyita Eka Putri Sari (Bola.com/Adreanus Titus)

Rosyita Eka Putri Sari

Rosyita posisinya sama dengan Ni Ketut, kini tampil di sektor ganda putri. Namun, saat di klubnya PB Djarum, ia pernah bermain di ganda campuran berpasangan dengan Muhammad Rian Ardianto.

Rosyita cukup perkasa saat bermain di ganda putri, terbukti bersama Della Destiara Haris mampu menjadi juara di kejurnas PBSI tahun lalu. Pasangan tersebut kini menempati peringkat 20 besar dunia, tepat satu setrip di bawah pasangan Ni Ketut Mahadewi/Anggia Shitta Awanda.

Della Destiara Harris/Rosyita Eka Putri Sari mengukuhkan diri sebagai juara nasional ganda putri 2015.

Prestasi apa yang sudah ditorehkan Rosyita bersama Della? Mereka sudah dua kali menjadi kampiun Vietnam Terbuka pada 2014 dan 2016. Selain itu, mereka juga sukses merebut gelar juara di Malaysia International Challenge 2015.

Gelar tersebut membuat Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rexy Mainaky kagum. Ia menilai Rosyita memiliki mental permainan paling bagus dibandingkan pemain yang seumuran dengannya. Dengan program latihan yang tepat dan bimbingan khusus, bukan tak mungkin Rosyita bisa jadi kandidat potensial untuk menggantikan Liliyana Natsir yang juga terkenal tomboy dan garang di lapangan.