Diskusi Diego Simeone dengan Alfred Riedl soal Timnas Indonesia

oleh Bola diperbarui 02 Des 2016, 10:20 WIB

 

Bola.com, Jakarta - “Tulisan berikut ini adalah imaji belaka dan tidak benar-benar terjadi. Kesamaan nama dan tokoh adalah untuk kepentingan estetika tulisan.”

 

Dua jam pasca kemenangan Timnas Indonesia kontra Singapura 2-1 di Rizal Memorial Stadium, pengurus PSSI baru melakukan gebrakan fenomenal. Melalui bantuan kontak dan jaringan Erick Thohir, PSSI berhasil mendapatkan bantuan konsultasi dari Diego Simeone, juru latih Atletico Madrid.

Advertisement

Simeone diterbangkan PSSI ke Jakarta pasca kemenangan Atletico kontra Osasuna 3-0. Tiba di Jakarta, Senin malam (29/11/2016), El Cholo langsung dijamu makan malam oleh Alfred Riedl beserta seluruh staf pelatih timnas. Pertemuan berlangsung hingga larut tengah malam. Simeone dan Riedl berdiskusi hangat soal evaluasi taktik timnas.  

KickOff! Indonesia beruntung mendapat kesempatan eksklusif untuk mewawancarai Diego Simeone.
Berikut petikan wawancaranya:

Buenos noches Diego, como estas? (Selamat malam, apa kabar?)

Bien (baik).

Bisa diceritakan suasana diskusi dengan Alfred Riedl dan stafnya tadi?

Diskusi hangat dan membangun. Riedl Riedl, pelatih senior berpengalaman. Kehormatan bagi saya melihat keterbukaannya. Mengingat ide dan konsep saya amat subjektif. Ia yang lebih tahu kondisi skuad dan cara terbaik untuk menang. Kami berdiskusi banyak hal, seperti formasi 1-4-4-2, pressing style dan alternatif taktikal lainnya.

Anda sempat nonton pertandingan Timnas Indonesia. Komentar tentang permainan kami?

Jujur, level sepak bola Indonesia rendah. Tim bermain dengan intensitas pelan. Pemain kesulitan implementasi prinsip taktik sederhana. Mereka lakukan pressing seperti ayam tanpa kepala. Lari tanpa alasan kuat soal posisi, timing, arah dan kecepatan pressing.

Untungnya kecuali Thailand, kualitas lawan di Piala AFF 2016 serupa. Lawan Vietnam di semifinal, Indonesia berpeluang besar menang. Thailand berkualitas lebih baik dari kontestan lain. Indonesia bisa saja mengalahkan Thailand. Tetapi pemain Indonesia harus berdarah-darah plus beruntung untuk menang. Saya doakan itu terjadi.

Publik Indonesia mengkritik formasi 1-4-4-2 Riedl yang dianggap usang. Tanggapan Anda?

Salah kaprah besar. Saya rasa Anda (media) bertanggung jawab. Media selalu memberi stigma “usang” atau “modern”.

Pertama, formasi hanyalah deretan angka. Berangkat dari gim model, formasi adalah panduan dalam komunikasi bermain. Titik awal yang menolong seorang pemain memahami gerakan 10 rekannya pada tiap situasi. Dengan terprediksinya kawan, pemain cukup antisipasi lawan. Ini membuat pemain hanya pikirkan 11 orang lawan dan bola. Tentunya, lebih mudah ketimbang harus memikirkan 21 orang (10 kawan, 11 lawan) dan bola yang tak terprediksi.

Kedua, tujuan permainan sepak bola adalah menang, dengan cara cetak gol lebih banyak daripada lawan. Gim model dan formasi adalah alat untuk capai tujuan tersebut. Tugas pelatih adalah mempertimbangkan skuad dan berbagai faktor eksternal untuk mencari gim model dan formasi yang buat tim menang. Kalau formasi usang bisa bikin tim kita menang, mengapa tidak?

Ketiga, setiap gim model dan formasi memiliki plus minus. Tim yang bisa aplikasikan gim model dengan formasinya mendekati sempurna akan mengekspos kelebihan dan sembunyikan kekurangan. Buat pelatih, gim model dan formasi terbaik adalah yang dapat diimplementasi oleh skuad mendekati sempurna. Bukan sekedar kuno, usang, modern. Omong kosong! Jadi pilihan Timnas Indonesia bermain 1-4-4-2 bukan suatu persoalan.

2 dari 3 halaman

Strategi 4-4-2 ala Atletico Madrid

Anda bisa menceritakan gambaran umum formasi 1-4-4-2?

Di dunia sepak bola, ada berbagai macam implementasi 1-4-4-2. Tapi secara umum, formasi 1-4-4-2 dengan lini belakang dan tengah sejajar (two banks of four) memiliki beberapa konsekuensi positif. Pertama, formasi ini mengcover area secara horizontal. Empat orang yang berdiri sejajar menjamin kompaksi dan kelebaran sekaligus. Kedua, formasi ini juga mengcover area secara vertical. Keberadaan dua striker di depan menjamin vertical presence untuk pressing.

Minusnya, formasi ini hanya menyajikan tiga lini. Bila jarak antar lini ideal saat bertahan adalah maksimal 10 meter, maka tim sulit untuk memiliki akses pressing jauh ke depan terhadap centerback lawan. Diperlukan transformasi dan transposisi untuk menambah lini jika ingin melakukan high pressing. Hal minus lain adalah ketiadaan pemain pelapis di ruang antar lini. Tentu, hal minus natural ini nothing, bila telah diantisipasi.

Banyak analis bicara soal kalah jumlah 2 Vs 3 di tengah, saat 1-4-4-2 kontra 1-4-3-3. Bagaimana penjelasan Anda?

Itu adalah fakta. Hanya, perlu diingat bahwa sepak bola dimainkan oleh dua tim dengan jumlah pemain sama. 11 lawan 11. Artinya jika suatu tim mengalami underload (kalah jumlah pemain) di suatu area, maka tim akan mengalami overload (menang jumlah pemain) di lokasi yang lain.

Dalam hal ini, formasi 1-4-4-2 secara natural akan manyajikan 2 Vs 3 kontra 1-4-3-3. Tetapi secara natural juga akan menyajikan situasi 2 Vs 1 di bawah dan 2 Vs 2 (4 Vs 4) di depan. Sebelum lawan bisa mengekspos menang jumlah 3 Vs 2 di tengah, mereka perlu memikirkan cara 2 centerback progresi bola kontra 2 striker kita. Selain itu pemain lain juga tidak statis, melainkan bergerak mengecil ciptakan kompaksi. Sehingga situasi natural tersebut tak terjadi.

Bagaimana cara Anda secara spesifik mengatasi situasi 2 Vs 3 tersebut?

Dengan positioning prima, situasi itu tidak eksis. Pertama, kedua striker bisa lakukan marking cover. Bola di centerback kanan, striker kiri press dengan menutup jalur passing ke dalam. Memaksa lawan passing ke pinggir. Striker kanan melakukan cover sambil berorientasi pada gelandang nomor 6 (jangkar) lawan. Kedua midfield four harus melakukan zonal defending narrow untuk fokus melindungi area sentral. Ketika empat gelandang berdiri sangat dekat, lawan kesulitan lakukan vertical pass ke depan. Itulah sebab situasi 2 Vs 3 sebenarnya tidak eksis.

Analisis Taktik Kick! Off Indonesia 1

Pada konteks Atletico Madrid, 1-4-4-2 kami tidaklah statis. Saat mainkan high pressing 1442 dapat bertransformasi menjadi 1-4-4-1-1, 1-4-1-3-2, dst tergantung lawan. Saat mainkan low block defending, kami sering bertransformasi menjadi 1-4-1-4-1 atau 1-4-4-2-0. Pada kasus 1-4-4-2-0, berarti Torres dan Griezmann sebenarnya telah menjadi gelandang. Sebab keduanya akan memiliki direct opponent gelandang bertahan lawan. Akhirnya, kami juga bertransformasi menciptakan menang jumlah pemain di suatu area!

Analisis Taktik Kick! Off Indonesia 2

3 dari 3 halaman

Yanto Basna Tidak Bermain Buruk

Timnas Indonesia terlihat bermasalah dengan duel 2 Vs 3 di tengah kontra Thailand di pertandingan pertama penyisihan Grup A Piala AFF. Menurut Anda kenapa hal itu bisa terjadi?

Boaz Solossa-Lerby Eliandry tidak cukup disiplin melindungi sektor tengah dan memaksa lawan passing ke pinggir. Hal lain adalah midfield four Indonesia tidak cukup compact melindungi area tengah. Padahal area tengah adalah lokasi dimana Thailand memiliki keunggulan jumlah pemain. Jika mereka lebih narrow, Thailand akan memprogresi via pinggir.

Problem terbesar adalah empat gelandang Indonesia sangat man oriented. Terutama Andik. Ia sering dekat ke fullback/wingback lawan saat bola masih di tengah. Ia buka gap untuk lawan terima passing vertikal di ruang antar lini. Thailand ekspos area itu dengan striker No.9 drop atau gelandang serang No.18 bergeser.

Ini juga terjadi di dua laga lainnya. Tak heran Indonesia sering kebobolan dari sisi kanan. Andik Vermansah pemain hebat saat penetrasi solo dan counter attack, tapi perlu memperbaiki cara bermain bertahannya.

Publik mencaci bek Yanto Basna bermain buruk kontra Thailand dan Filipina?

Kontra Thailand, Yanto Basna membuat blunder pada gol pertama. Selanjutnya ia tampil tak jelek. Publik hanya melihat ujung kejadiannya saja. Ia kelihatan buruk, karena selalu terkena situasi kalah jumlah, akibat buruknya midfield defending. Justru di pertandingan terakhir kontra Singapura, ia bermain buruk karena selalu membuat pelanggaran tak perlu. Saat menang, banyak hal salah menjadi benar!

Analisis Taktik Kick! Off Indonesia 3

Apa yang perlu diwaspadai Timnas Indonesia saat bertanding kontra Vietnam?

Vietnam bukan tim istimewa. Mereka bermain 1-4-4-2 statis. Saat melakukan build up, mereka bermain dengan fullback rendah. Empat bek mereka berdiri nyaris sejajar. Sebenarnya, tak banyak yang mereka bisa lakukan, bila empat gelandang Indonesia memilih lebih  pasif. Keempat bek Vietnam hanya akan lakukan pasing horizontal tak berbahaya. Hanya saja, bila Andik Vermansah tak sabar dan segera mempressing bek kiri Vietnam, hancurlah Indonesia.

Seperti biasa akan terbuka gap untuk lawan lakukan vertical passing di ruang antar lini. Pada konteks Vietnam, rotasi antara striker kiri Vietnam dan sayap kiri berkombinasi dengan gelandang kiri amat mulus. Terkadang operan vertikal akibat gap itu diterima oleh striker kiri yang turun. Atau sayap kiri yang masuk ke dalam. Bisa dikatakan itulah satu-satunya ancaman untuk Indonesia.

Sebaliknya bila empat gelandang Indonesia disiplin narrow menjaga daerah, maka melihat kualitas Vietnam, mereka akan memainkan long ball. Sesuatu yang lebih mudah diantisipasi bek Indonesia. Selain itu dengan narrow, Indonesia menyisakan ruang untuk fullback lawan naik. Jika ini terjadi, Boaz Solossa dan Lerby Eliandry bisa manfaatkan situasi counter attack 2 Vs 2 di ruangan besar.

Apa nasihat Anda untuk pemain Timnas Indonesia?

Pesepak bola top level selalu disiplin dalam taktik permainan. Kunci memenangkan permainan adalah disiplin taktik. Hal berikutnya adalah “telur besar”. Bermain dengan antusiasme dan nyali untuk buktikan kalian punya “telur besar”. Ada kalanya taktik tak berjalan atau pemain salah aplikasikan taktik. Pada situasi itu hanya “telur besar” yang bisa menjaga permainan tetap pada jalur kemenangan.

Muchas Gracias Diego, hasta lavista.

Con gusto! Salam “telur besar”!

 

Ganesha Putera

@ganeshaputera

Co Founder kickoffindonesia.com Pusat Kepelatihan Sepak bola

“Tulisan di atas ini adalah imaji belaka dan tidak benar-benar terjadi. Kesamaan nama dan tokoh adalah untuk kepentingan estetika tulisan.”