Kesamaan Nasib Alfred Riedl - Kiatisuk usai Bentrok di Piala AFF

oleh Aning Jati diperbarui 23 Des 2016, 07:30 WIB

Bola.com, Jakarta - Tidak bisa dimungkiri, Alfred Riedl dan Kiatisuk Senamuang adalah sosok penting di balik keberhasilan Timnas Indonesia dan Thailand melaju hingga final Piala AFF 2016. Dari buah pemikiran strategi keduanya, mereka mampu membawa tim yang dilatih tampil di partai puncak turnamen paling elite di Asia Tenggara itu.

Sejak fase penyisihan grup, Alfred Riedl dan Kiatisuk Senamuang sudah bentrok. Pelatih beda generasi ini beradu taktik untuk jadi pemenang dalam setiap pertemuan yang dijalani kedua tim.

Hasilnya, Alfred, yang lebih senior dalam hal rekam jejak melatih dipaksa mengakui keberhasilan Kiatisuk Senamuang setelah di laga final dalam dua leg, 14 dan 17 Desember 2016, Thailand menang dengan agregat gol. 

Thailand sukses jadi juara kelima kalinya sedangkan Indonesia lagi-lagi harus puas jadi runner-up, juga untuk kelima kalinya sejak bergulirnya Piala AFF edisi perdana pada 1996.

Advertisement

Sebelum bersua lagi di partai puncak, Timnas Indonesia yang dibesut Alfred Riedl menyerah 2-4 di penyisihan Grup A. Alfred bisa "membalas" kekalahan dari Kiatisuk itu saat menumbangkan Thailand 2-1 di leg pertama final. Namun, Kiatisuk kembali membawa Thailand unggul, kali ini dengan skor 2-0, pada leg kedua final. 

Dari situ terlihat bila pertemuan Alfred Riedl versus Kiatisuk Senamuang di Piala AFF 2016 selalu intens. Namun, kondisi berbeda terjadi seusai Piala AFF 2016. Keduanya kini bisa dikatakan senasib.

Alfred Riedl dan Kiatisuk Senamuang sama-sama memiliki masa depan yang masih menggantung perihal jabatan sebagai pelatih kepala timnas.

Seperti diketahui, kontrak Alfred disebut-sebut berakhir seiring tuntasnya Piala AFF 2016 karena pelatih asal Austria itu hanya dikontrak untuk menukangi Timnas Indonesia di turnamen dua tahun sekali itu. Hanya, tidak diketahui pasti, kapan durasi kontrak itu berakhir.

2 dari 2 halaman

Masa Depan Kiatisuk Senamuang

Sementara Kiatisuk, kontraknya dengan Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) berakhir pada Februari 2017. Ia diketahui menerima perpanjangan kontrak pada akhir Mei 2016 dengan tugas menangani timnas Thailand senior dan U-23, khususnya di kualifikasi Piala Dunia putaran ketiga serta Piala AFF 2016.

Namun hingga kini, nasib keduanya di kursi panas pelatih kepala timnas masih simpang-siur. PSSI melalui Wakil Ketua Umum, Joko Driyono, menyebutkan nasib Alfred Riedl diputuskan dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada 7 Januari 2017 atau sehari jelang Kongres Tahunan PSSI.

Alfred belakangan juga terlihat bimbang dengan berujar untuk tetap ingin melatih. Sebelumnya, ia sempat mengungkapkan keinginan untuk pensiun selepas berkiprah di Piala AFF 2016 bersama Timnas Indonesia. Tetapi, rupanya ia punya rencana baru.

Pelatih 67 tahun itu mengungkapkan bila ia punya tiga rencana terkait masa depannya, yakni ia bisa saja pensiun, bertahan melatih Timnas Indonesia, atau tetap jadi pelatih namun untuk timnas negara lain. "Saya belum 100 persen pensiun," ujarnya setibanya di Jakarta dari Thailand akhir pekan lalu.

Setali tiga uang, masa depan Kiatisuk Senamuang juga belum jelas. Presiden FAT, Somyot Poompunmuan, sudah menjanjikan pertemuan dengan mantan striker The War Elephants itu pada awal Januari 2017.

Belakangan sepak bola Thailand diramaikan rumor pendekatan FAT terhadap pelatih kelas dunia, Alejandro Sabella. Pelatih Lionel Messi dkk. di timnas Argentina pada Piala Dunia 2014 itu diisukan bakal menggantikan Kiatisuk. 

Banyaknya lamaran dari pelatih internasional yang berminat jadi pelatih timnas Thailand juga mengancam posisi Kiatisuk mengingat FAT terang-terangan butuh pelatih kelas dunia untuk membawa sepak bola mereka meninggalkan ASEAN ke level yang lebih tinggi.

Kendati sudah dibantah sang presiden, dengan berujar FAT tidak punya maksud memecat atau menggantikan Kiatisuk, semua kemungkinan masih bisa saja terjadi hingga kesepakatan resmi terjalin.

Menarik dinanti bagaimana kelanjutan masa depan karier kepelatihan Alfred Riedl dan Kiatisuk Senamuang. Dua pelatih yang menancapkan prestasi di regional Asia Tenggara.