Bos Honda: Morbidelli Punya Masa Depan Cerah di MotoGP

oleh Ahmad Fawwaz Usman diperbarui 01 Nov 2017, 13:36 WIB
Usai meraih gelar juara dunia Moto2 2017, Franco Morbidelli akan mencicipi kelas MotoGP pada musim depan. (Team EG 0,0 Marc VDS)

Jakarta Pembalap mufa Repsol Honda, Franco Morbidelli naik kelas musim depan ke MotoGP. Kepastian itu dia dapat usai menjadi juara dunia Moto2 2017.

Tak pelak, ini membuat bos Honda, Livio Suppo, bangga. Dia pun optimistis dengan masa depan Morbidelli.

Advertisement

Morbidelli dipastikan bakal jadi pembalap Marc VDS di MotoGP 2018. Ia menggeser posisi yang kini ditempati Jack Miller dan Tito Rabat di MotoGP 2017. Nantinya, ia akan berduet dengan Thomas Luthi.

Modal pembalap 21 tahun itu terbilang cukup bagus. Ia tampil memukau sepanjang Moto2 2017. Dari 17 balapan musim ini, ia sukses merebut 11 podium, delapan di antaranya berupa kemenangan.

Masalahnya, tampil hebat di kelas Moto2 bukan jaminan seorang pembalap bakal melesat saat naik kelas MotoGP. Rookie yang layak dijadikan contoh positif adalah pembalap Yamaha Tech 3, Johann Zarco. Meski belum genap semusim, ia hampir pasti mengamankan posisi keenam klasemen.

"Sulit memprediksi kinerja pendatang baru. Kami mengambil dua pembalap yang sudah menjadi juara dunia Moto2. Rabat memiliki masalah besar dengan motor MotoGP. Zarco sebaliknya. Ia merasa sangat baik di MotoGP," kata Suppo, dikutip Tuttomotoriweb.

"MotoGP adalah kelas yang rumit. Beberapa pembalap sering kali menderita di awal. Morbidelli tak hanya memiliki bakat yang murni, tapi juga pembalap yang sangat cerdas." 

 

2 dari 2 halaman

Antusias Morbidelli

Morbidelli sendiri mengaku sudah tak sabar ingin segera bersaing dengan Valentino Rossi dan kawan-kawan di MotoGP 2018. Itu karena ia tahu akan mendapatkan motor yang jauh lebih cepat dari yang ia tunggangi di Moto2.

"Saya membayangkan mesin ini sangat bertenaga. Tentu akan menjadi tantangan bagus. Motor ini pasti melaju dengan baik. Tapi hal pertama yang terlintas saat memikirkan MotoGP adalah kekuatan," ungkapnya.

Tekanan yang dirasakan pembalap kelahiran 4 Desember 1994 itu di MotoGP tentu jauh lebih besar dari Moto2. Namun, ia sudah memiliki cara untuk mengusir ketegangan. "Saya suka musik dan saya sering mendengarnya. Musisi favorit saya adalah Bob Marley. Jadi lebih kepada reggae. Tapi saya juga mendengarkan banyak genre berbeda."

Berita Terkait