Kisah Cak Irul, Jatuh Bangun Menjadi Loyalis Perseru

oleh Gatot Susetyo diperbarui 11 Des 2018, 09:15 WIB
Choirul Huda atau yang akrab disapa Cak Irul, tujuh tahun berjuang bersama Perseru. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Bola.com, Serui - Jika bicara tentang Perseru Serui, tak bisa dilepaskan dengan sosok ini. Dia adalah Choirul Huda. Meski ketenarannnya kalah dengan sang pemilik klub, Yance Banua, pria yang akrab disapa Cak Irul ini tahu betul sejarah panjang tim Cenderawasih Jingga.

Maklum, selama tujuh tahun, pria asal Lamongan yang tinggal di Kepanjen, Kabupaten Malang ini jadi saksi sejarah perjuangan Perseru. Kiprah Cak Irul diawali sebagai asisten pelatih Djoko Susilo di Persiwa Wamena.

Ketika klub milik John Banua yang juga adik kandung Yance Banua mulai merosot prestasinya, Cak Irul diboyong ke Serui untuk membangun kekuatan Perseru di Divisi Utama.

Advertisement

Dua musim berjuang di Divisi Utama, pada 2013 Perseru promosi ke ISL bersama Persik Kediri dan Persita Tangerang yang saat itu digelar di Solo, Jateng.

"Waktu di Wamena, saya dan Mas Djoko yang membangun. Di Perseru, saya sendirian. Sebenarnya Persiwa dan Perseru ini klub milik keluarga besar marga Banua. Saya banyak mengalami suka duka bersama Perseru," ungkap Choirul Huda.

Dari catatan Cak Irul, sebenarnya tiga kali klub yang bermarkas di Stadion Marora Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen ini, nyaris degradasi.

"Pertama 2014, ketika kami jadi debutan di ISL. Ketika itu pertandingan terakhir sebagai penentuan nasib berlangsung di Lamongan. Alhamdulillah, kami bisa mengalahkan Persela untuk bertahan di ISL," kenang Cak Irul.

ISL 2014 itu, Perseru bersaing dengan Persepam untuk menghindari ancaman degradasi. Persipura, sebagai saudara tua, 'membantu' Perseru dengan mengalahkan Persepam di Bangkalan, Madura. Musim itu, akhirnya Persepam dan Persiba Bantul terlempar ke jurang degradasi mewakili Wilayah Timur.

"Itu pengalaman pertama. Berikutnya, dua kali beruntun Liga 1 2017 dan 2018, Perseru juga selamat dari degradasi. Jadi saya sudah kebal dengan kondisi kritis tersebut," kata Choirul Huda.

 

2 dari 2 halaman

Alasan Betah di Perseru

choirul huda asisten pelatih Perseru Serui

Apa yang membuat Choirul Huda betah di Perseru?

"Klub ini milik keluarga. Jadi manajemen kekeluargaan yang diterapkan. Di klub ini status saya asisten pelatih. Tapi banyak pekerjaan yang saya lakukan. Ya jadi kitman, asisten, hingga sopir bus untuk mengantar pemain latihan. Saya ikhlas, karena Perseru saya anggap milik saya sendiri," papar Choirul Huda yang punya lisensi B-AFC ini.

Beberapa pelatih keluar masuk Perseru. Mulai Robby Maruanaya, Agus Sutiono, Hanafi, Yusack Sutanto, Agus Yuwono, I Putu Gede Swi Santoso hingga Wanderley Junior. Tapi Choirul Huda tetap bertahan di Perseru.

"Perseru ini klub kecil. Jangan tanya gaji saya, tidak etis menyebutnya. Saya betah karena ikut merasa memiliki. Bahkan, saya dipercaya bos sampai mengurus hal-hal penting. Misalnya, booking tiket pesawat hingga mencari hotel tim saat Perseru main tandang," katanya.

Hingga detik ini pun, Choirul Huda belum tahu sampai kapan tetap setia dengan Perseru.

Berita Terkait