Kisah Dramatis Timnas Qatar: Negara Diblokade, Tanpa Suporter, hingga Dilempari Sepatu

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 02 Feb 2019, 19:00 WIB
Gelandang Qatar, Ahmed Fathy, mengibarkan bendera usai mengalahkan Jepang pada laga final Piala Asia 2019 di Stadion Zayed Sports City, Abu Dhabi, Jumat (1/2). Qatar menang 3-1 atas Jepang. (AFP/Karim Sahib)

Bola.com, Jakarta - Rombongan Timnas Qatar pulang pada Sabtu (2/2/2019), setelah laga final Piala Asia 2019 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun, mereka tidak bisa langsung meninggalkan Abu Dhabi menuju Doha, ibu kota Qatar.

Almoez Ali dkk. pulang ke Doha melalui Oman, karena tidak ada penerbangan langsung dari Qatar dan tuan rumah Piala Asia 2019. Seperti diketahui, sudah dua tahun Qatar diblokade negara-negara tetangga di wilayah teluk, termasuk Arab Saudi, Bahrain, dan UEA.

Advertisement

Krisis diplomatik Qatar dimulai pada 5 Juni 2017. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Maladewa, tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Pemutusan hubungan tersebut termasuk penarikan duta besar, memberlakukan larangan perdagangan dan perjalanan.

Penyebabnya, Arab Saudi dan negara-negara lain telah menilai kantor berita yang bermarkas di Qatar, Al Jazeera memiliki kertekaitan dengan teroris. Qatar juga dituduh mendanai organisasi teror dan memiliki hubungan dengan Iran.

Di Piala Asia, Qatar justru mempermalukan dua negara yang memutuskan hubungan diplomatik tersebut, yakni Arab Saudi dan UEA. Qatar mengalahkan Arab Saudi 2-0 pada babak penyisihan Grup E. 

UEA lebih parah. Qatar mampu mempermalukan tuan rumah pada babak semifinal dengan skor 4-0. Tak hanya itu, pada pertandingan melawan UEA di semifina. Pada pertandingan ini, pemain Qatar dilempari botol dan sepatu oleh suporter UEA.

UEA mencoba menjegal Qatar dengan memprotes ke AFC, terkait status dua pemain naturalisasi Qatar, Almoez Ali dan Bassam Al Rawi.

Ali merupakan striker berusia 22 tahun lahir di Sudan, sementara bek Bassam Al Rawi lahir di Baghdad, Irak. Mereka dinilai tidak memenuhi syarat untuk bermain untuk Qatar dengan alasan tempat tinggal.

Keduanya tidak hidup terus menerus di Qatar selama lima tahun setelah usia mereka di atas 18 tahun. Namun, protes itu tidak diterima oleh AFC. AFC menyatakan status kedua Ali dan Al Rawi sah. 

 

2 dari 2 halaman

Pesta Warga Qatar

Asosiasi Sepak Bola Qatar, Sabtu, mengumumkan kepada penggemar dan warga untuk berkumpul di Doha Corniche untuk menyambut para pemain Qatar.

Warga Qatar juga tidak bisa memberi dukungan langsung ke UEA. Mereka meluapkan kegembiraan dengan merayakan di jalan-jalan raya, dengan mobil mewah mereka dan atribut negara.

"Ini adalah gelar pertama yang kami raih dan terlepas dari semua tekanan yang diberikan pada tim ini, pemain membuktikan mereka adalah pahlawan," kata seorang suporter Qatar, Ahmed al-Kaabi.

Gelar di Piala Asia ini membuka harapan bagi Timnas Qatar untuk bersaing di Piala Dunia. Seperti diketahui, Qatar akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

"Hari ini kami membuat sejarah, kami harus sangat bangga dengan prestasi ini," kata pelatih Qatar, Felix Sanchez.

"Ini satu langkah lagi menuju Piala Dunia 2022. Qatar adalah tim yang sangat kompetitif di Piala Dunia."

 Sumber: Al Jazeera

Berita Terkait