Cerita di Balik Lagu Indonesia Raya dalam Proses Naturalisasi Otavio Dutra

oleh Aditya Wany diperbarui 25 Jul 2019, 22:35 WIB
Bek Persebaya, Otavio Dutra, yang masih menjalani proses jadi WNI mendapat panggilan ke TC Timnas Indonesia. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Surabaya - Otavio Dutra lega akhirnua telah mengantongi paspor Indonesia. Dia menjadi WNI setelah melewati proses naturalisasi sejak Februari dan melepas paspor Brasil miliknya.

Menariknya, Dutra mengaku sudah lama hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya dan butir-butir Pancasila yang menjadi dasar negara. Saat Bola.com mencoba mengetes, Dutra dengan percaya diri mampu menjawabnya.

Advertisement

"Indonesia Raya dan Pancasila itu dua hal dasar yang harus dihafal oleh orang Indonesia. Saya memang baru jadi WNI, tapi saya sudah lama hafal karena saya sudah lama tinggal di sini," kata Dutra kepada Bola.com.

Dutra mulai berkarier di Indonesia sejak 2010 dengan bergabung Persebaya 1927. Sejak saat itu, stoper berusia 35 tahun itu tak pernah pindah berkarier ke negera lain.

Dia tercatat membela beberapa klub lainnya, mulai Gresik United, Persipura Jayapura, dan Bhayangkara FC. Pemain jangkung itu juga mampu meraih dua gelar kasta tertinggi Indonesia, yaitu ISL 2014 dan Liga 1 2017.

Momen saat berkarier bersama Bhayangkara itulah yang cukup berpengaruh buatnya menghafal Indonesia Raya dan Pancasila. Sebab, klub itu berafiliasi dengan Polri dan berisikan pemain yang berstatus anggota kepolisian.

"Sejak 2017 saya mulai hafal Indonesia Raya. Banyak teman-teman yang menyanyikan lagu itu pada momen tertentu. Saya ikut bernyanyi kalau pada pertandingan lagu itu diputar," imbuh Otavio Dutra.

2 dari 2 halaman

Piala Presiden

Pemain Persebaya Surabaya, Otavio Dutra. (Bola.com/Aditya Wany)

Momen pertandingan yang dihiasi lagu Indonesia Raya adalah final Piala Presiden 2019. Duel Derbi Jatim antara Arema kontra Persebaya itu membuatnya ikut bernyanyi bersama pemain lokal lain.

Dutra juga termasuk pemain yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Sebagai pemain yang lahir dan besar di Brasil, dia cepar beradaptasi dan mempelajari bahasa baru.

"Saya cepat belajar Indonesia. Mungkin baru setahun di sini sudah lancar. Dulu waktu di Persebaya 1927, saya sering sekamar dengan pemain lokal. Jadi saya mudah belajar," ungkapnya.

Berita Terkait