Masih Syok Dilepas Persebaya, Djanur Anggap Pemecatan Pelatih Jadi Budaya Sepak Bola di Indonesia

oleh Aditya Wany diperbarui 12 Agu 2019, 07:30 WIB
Wawancara eksklusif Bola.com dengan Djadjang Nurdjaman, yang dipecat Persebaya pada Sabtu malam (10/8/2019). (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Surabaya - Djadjang Nurdjaman secara resmi telah berpisah dan melepas jabatan pelatih kepala Persebaya. Dia dipecat oleh manajemen Bajul Ijo, Sabtu (10/8/2019), setelah dianggap melewati rentetan hasil buruk selama Shopee Liga 1 2019.

Pelatih yang akrab disapa Djanur itu dinilai sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas hasil buruk Persebaya. Tim berjulukan Bajul Ijo itu saat ini berada di peringkat ketujuh dengan 18 poin. Mereka mencatat empat menang, enam seri, dan tiga kalah.

Advertisement

Djanur total menjalani 42 pertandingan di berbagai ajang sejak resmi masuk Persebaya pada 25 Agustus 2018. Dia membawa klub yang berdiri sejak 1927 itu meraih 22 kemenangan, dan masing-masing 10 seri dan kalah.

Pemecatan Djanur dilakukan hanya sekitar empat jam setelah ia menemani Persebaya dalam pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu sore. Di laga pekan ke-13 itu, Persebaya ditahan 2-2 oleh Madura United.

Setelah turun dari bus, setiba di Apartemen Marina, Surabaya, Sabtu malam, Djanur diberi tahu bahwa kontraknya bersama Persebaya telah diputus. Manajer Persebaya, Candra Wahyudi, yang menyampaikan keputusan tersebut secara langsung.

Tak butuh waktu lama, Djanur langsung mulai mengepak barang-barangnya. Pelatih berusia 60 tahun itu memutuskan meninggalkan Surabaya. Minggu siang (11/10/2019), dia bertolak dari Bandara Juanda diantar dua pemain, kiper Imam Arief dan gelandang Alwi Slamat.

Djanur memilih langsung pulang menemui keluarganya, istri dan anak, yang berdomisili di Bandung.

Bola.com berkesempatan menemui pelatih yang pernah menjadi pemain dan pelatih Persib Bandung tersebut jelang keberangkatan ke Bandung. Dia dengan ramah meladeni wawancara eksklusif bersama Bola.com terkait pemecatan dari kursi pelatih Persebaya ini.

2 dari 4 halaman

Pelatih Jadi Korban

Pelatih Persebaya Surabaya, Djadjang Nurdjaman. (Bola.com/Aditya Wany)

Bagaimana kronologi manajemen memberi tahu Anda perihal pemecatan ini?

Saya jujur memang masih syok, tidak menyangka secepat itu. Saya baru turun dari bus, sampai di apartemen, manajer bilang sama saya bahwa saya harus berhenti. Pastinya saya kaget mendengar itu.

Saya juga tidak memaksa harus bertahan. Begitu manajer sampaikan, 'saya harus memecat coach Djanur', ya sudah saya menerima. Mungkin saya kaget, tidak menyangka secepat ini. Tapi, saya tidak akan membela diri. 

Saya memang kepikiran akan diberhentikan, tapi bukan setelah (melawan) Madura United ini. Mungkin saja setelah melawan Arema nanti (15 Juli 2019). Saat hasil buruk, jadi keputusan saya harus berhenti. Mau bagaimana lagi.

Anda sudah memprediksi itu?

Sinyal saya dipecat kan muncul saat penampilan tim ini menurun. Dalam situasi itu, paling gampang memang memvonis pelatih yang salah. Walau, sebenarnya apa yang saya lakukan di Persebaya tidak buruk-buruk amat.

Ini sudah menjadi budaya sepak bola Indonesia. Kalau di Eropa, rata-rata kontrak pelatih dua tahun, atau empat tahun. Dan itu pelatih diberi kesempatan, mereka juga tahu tidak ada yang instan. Budaya seperti ini, pelatih yang jadi korban.

Pelatih Persebaya, Djadjang Nurdjaman, saat mendampingi tim dalam sesi latihan. (Bola.com/Aditya Wany)
3 dari 4 halaman

Kekurangan Persebaya

Menurut Anda, apa masalah yang dimiliki skuat Persebaya sekarang?

Saya masih menyoroti buruknya penyelesaian akhir tim ini. Berkali-kali dalam pertandingan sebenarnya kami bisa menciptakan banyak peluang membahayakan. Sayang, kebanyakan gagal berbuah gol.

Saya sudah kepikiran bahwa masalah ini harus segera diselesaikan. Saya juga buat rencana akan berbuat apa ke depan untuk melakukan pembenahan dan perbaikan. Tapi, sekarang saya sudah keluar.

Jadi, Anda sudah menyiapkan rencana untuk putaran kedua Liga 1?

Iya. Yang agak jadi penyesalan adalah saya punya harapan pada tim ini di putaran kedua. Kalau saya bertahan sampai putaran kedua, insyaallah saya bisa membawa tim ini bangkit. Saya punya harapan bisa memperbaiki tim.

Belum lagi, nanti akan ada, di antaranya David (da Silva). Mungkin juga ada pembenahan pemain di beberapa posisi. Saya bisa mengubah penampilan tim. Tapi, ya itulah. Saya divonis lebih dulu jadi biang keterpurukan Persebaya.

4 dari 4 halaman

Reaksi Keluarga

Pelatih Persebaya Surabaya, Djadjang Nurdjaman, tengah memberikan instruksi dalam sesi latihan. (Bola.com/Aditya Wany)

Bagaimana respons keluarga mendengar kabar pemecatan ini?

Keluarga selalu mendukung saya apa pun keputusannya. Mereka pasti sayang sama saya. Makanya saya buru-buru pulang. Belakangan ini, mereka terus memantau komentar-komentar Bonek. Satu pun tidak ada, katanya, yang menyalahkan saya. ‘Mereka (Bonek) juga rasional’, katanya.

Bagaimana dengan pemain Persebaya?

Kebanyakan pemain malah belum tahu. Saya juga belum ketemu pemain sampai sekarang. Mereka juga mungkin bangun siang dan segala macam. Biasa pemain bola. Apalagi kan Iduladha. Beberapa harus salat id.

Baru Imam, Alwi, sama Rohim, yang menemui saya. Imam dan Alwi yang mengantar saya ke bandara. Mereka berdua saja. Tapi, ada juga pemain yang menelepon saya. Rendi misalnya.

Apa rencana Anda ke depan? Sudah ada bayangan menangani klub lain?

Kalau boleh saya ingin istirahat dulu sampai akhir musim ini. Sebenarnya putaran kedua tidak lama. Saya pikir lebih baik istirahat dulu. Tapi, tidak tahu juga situasinya.

Saya belum punya bayangan mau ke klub mana. Meski, nanti pasti banyak orang yang mengira saya ke klub ini atau itu, tapi saya belum kepikiran. Hikmahnya, saya bisa berkumpul dengan keluarga.

Bagaimana mengisi aktivitas selama di Bandung nanti?

Aktivitas saya di Bandung banyak. Bisa kumpul-kumpul dengan mantan Persib juga. Komunitasnya cukup aktif. Kami bisa main tenis, bulutangkis, dan main bola.