Andritany Ardhiyasa Butuh Waktu buat Atasi Trauma Cedera

oleh Ario Yosia diperbarui 14 Sep 2019, 05:45 WIB
Kiper Timnas Indonesia, Andritany Ardhiyasa, mengamati rekannya saat melawan Malaysia pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di SUGBK, Jakarta, Kamis (5/9). Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Jakarta - Sosok Andritany Ardhiyasa jadi sorotan di dua laga Kualifikasi Piala Dunia 2022. Sang kiper banyak melakukan blunder saat Timnas Indonesia kalah dari Malaysia dan Thailand.

Saat Timnas Indonesia bersua Malaysia, sang kiper asal Persija Jakarta ini melakukan blunder fatal yang berakibat dua gol terakhir Tim Negeri Jiran. Tim asuhan Simon McMenemy sempat unggul 2-1 di paruh pertama pertandingan, sebelum akhirnya menutup laga dengan kekalahan menyakitkan 2-3.

Advertisement

Terakhir, kala menghadapi Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (10/9/2019) malam, ia kembali melakukan dua kali blunder yang berujung lesakan gol Supachok Sarachat buat kubu lawan.

Gol pertama Thailand bermula dari kesalahan Andritany melakukan umpan saat transisi bertahan ke menyerang. Selanjutnya, ia kembali melakukan kesalahan dengan melakukan tekel ke Supachok Sarachat di area penalti. Theerathon Bunmathan sukses menjadi eksekutor penalti buat Tim Gajah Putih. Thailand menang 3-0 atas Timnas Indonesia.

Usai laga perdana, kritik tajam menghujam Andritany. Sang kiper menyadari kinerjanya yang kurang memuaskan jadi perbincangan hangat, mulai dari pundit, suporter, hingga netizen. Akun Instagram pribadi pemain berusia 27 tahun tersebut banjir hujatan.

Mantan kiper Timnas Indonesia era 2000-an yang kini jadi pelatih kiper klub PSIS Semarang,I Komang Putra, angkat bicara soal performa Andritany yang mengecewakan bersama Timnas Indonesia.

"Dari kacamata saya sebagai seorang mantan kiper, saya melihat ada sesuatu yang aneh dari Andritany. Ia seringkali salah dalam mengambil keputusan dan juga melakukan kesalahan elementer dari sisi teknik," ujar Komang saat dijumpai Bola.com di Green Hotel, Bekasi, Kamis (12/9/2019) malam.

Maksud Komang kesalahan elementer adalah aksi Andritany belakangan kerap memamerkan aksi potong bola dengan kaki saat merebut atau menghalau bola dari pemain lawan.

Fakta membuktikan Andritany memegang peranan penting atas terjadinya gol kedua Thailand lewat penalti Theerathon Bunmathan pada menit ke-65. Sebelum wasit menunjuk titik putih, kiper Persija Jakarta itu melanggar Supachok Sarachat.

Maksud hati merebut bola tanggung dari Supachok menggunakan kakinya, tekel tersebut malah mengenai kaki Supachok. Lantaran tekel itu, Supachok kehilangan keseimbangan dan bola keluar lapangan.

Wasit Ma Ning asal China yang membelakangi kejadian tersebut, cukup jeli melihat tekel Andritany sebagai sebuah pelanggaran. "Semestinya ia tidak perlu menghalau dengan kaki, dan saya yakin ia tahu hal tersebut. Tapi yang terjadi sebaliknya. Terlihat kalau Andritany bermain dalam kondisi trauma. Maksud saya trauma cedera," ujar mantan kiper yang kerap dijuluki dengan nama insial IKP.

Sebelumnya aksi potong kaki Andritany yang berujung fatal bukan kali ini saja terjadi. Ketika Timnas Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia pada partai pertama Grup G (5/9/2019), mantan kiper Sriwijaya FC itu melakukan aksi yang serupa.

Ketika itu, pertandingan memasuki menit ke-96 saat kedua negara masih bermain 2-2. Andritany mencoba memotong bola umpan mendatar Matthew Davies dari sisi kanan dengan kakinya.

Saat berusaha untuk menghalau bola, Andritany Ardhiyasa terlihat ragu karena ada dua pemain di depannya. Ia membiarkan bola lewat begitu saja yang kemudian disambar Mohamadou Sumareh untuk mencetak gol kemenangan Malaysia.

"Semestinya dia berani maju untuk menutup ruang. Namun, terlihat Andritany tidak berani melakukan hal itu,"

 

2 dari 2 halaman

Semestinya Diistirahatkan Dulu

Kiper Timnas Indonesia, Andritany Ardhiyasa, saat latihan di SUGBK, Jakarta, Senin (12/11). Latihan ini persiapan jelang laga Piala AFF 2018 melawan Timor Leste. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Menurut I Komang Putra menurunnya performa Andritany dipicu rasa khawatir berlebihan. Ia takut kontak fisik akan membuatnya cedera. Sang pemain dua kali didekap cedera pada dua tahun terakhir.

"Dia jadi lebih lebih berhitung dalam bertindak. Dan itu berefek langsung pada performanya," kata Komang.

Andritany mengalami cedera retak penyangga mata ketika membela Timnas Indonesia U-23 melawan Uzbekistan pada turnamen PSSI Anniversary Cup 2018, medio Mei 2018. Permasalahan itu membuatnya harus menepi selama dua bulan.

Setahun kemudian, Andritany kembali berkutat dengan cedera. Kali ini, tangan kirinya patah saat memperkuat Persija melawan Borneo FC pada leg pertama babak semifinal Piala Indonesia, 26 Juni lalu. Harus masuk meja operasi untuk penyembuhan, ia baru bisa beraksi pada Agustus 2019.

Dua cedera itu menghajar dua elemen penting bagi seorang kiper, kepala dan kaki. Karena dua cedera itu pula, ia sekarang jadi lebih aktif menggunakan kaki ketimbang tangan, yang merupakan privilege penjaga gawang.

Menurut I Komang Putra, Andritany butuh waktu untuk mengatasi traumanya. Dan hal itu merupakan hal wajar di dunia sepak bola. Dengan kata lain semestinya sang penjaga gawang diistirahatkan sementara dari Timnas Indonesia, fokus memperbaiki penampilan di level klub. "Memang semestinya Andritany tak dipanggil dulu sebelum kembali pulih dari traumanya," kata Komang.

Berita Terkait