Mentalitas dan Fisik Dinilai Jadi Penyebab Kegagalan Timnas Indonesia

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 17 Okt 2019, 08:30 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy, tampak kecewa usai dikalahkan Vietnam pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Selasa (15/10). Indonesia kalah 1-3 dari Vietnam. (AFP/Aditya Wany)

Bola.com, Solo - Timnas Indonesia hanya menjadi bulan-bulanan dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Dalam empat pertandingan beruntun anak asuh Simon McMenemy selalu kalah.

Tiga kekalahan Timnas Indonesia di antaranya didapat di kandang sendiri yakni 2-3 dari Malaysia, 0-3 dari Thailand, dan terbaru dipecundangi Vietnam 1-3 di hadapan pendukung sendiri di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (15/10/2019).

Advertisement

Saat melawat ke markas Uni Emirat Arab (UEA), tim Garuda dibenamkan lima gol tanpa balas. Kondisi memprihatinkan ini membuat Salahudin bersedih. Salahudin merupakan satu di antara pemain Timnas Indonesia ketika menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Salahudin menyebut Timnas Indonesia saat ini sedang mengalami krisis secara mental dan kondisi fisik. Situasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, atau bahkan saat masa kejayaan dua kali menjuarai SEA Games pada 1987 dan 1991.

"Semua bersedih performa Timnas Indonesia kenapa tidak seperti dulu lagi. Mental pemain harus diperbaiki. Kalau mau bagus, fisik dan mental harus siap," ungkap Salahudin saat ditemui Bola.com di Solo, Rabu (16/10/2019).

Pria yang saat ini membesut klub Persis Solo tak melihat adanya kesalahan penunjukan pelatih Simon McMenemy dan pemain yang ditunjuknya. Deretan pemain asing yang sudah dinaturalisasi pun dianggapnya bukan sebuah masalah.

"Tapi, jujur saja saya melihat Timnas Indonesia ini setiap babak kedua selalu habis fisiknya. Seperti lawan Malaysia dan Thailand bisa mengimbangi babak pertama, tapi kedodoran di paruh kedua," katanya.

Salahudin menceritakan pengalamannya dahulu saat berada di Timnas Indonesia saat SEA Games 1991 yang mempunyai metode latihan keras. Sosok Anatoli Polosin dalam memberikan latihan fisik begitu berat sebagai pondasi permainan tim.

"Ya memang harus dalam zona susah dulu, kemudian akan mudah di zona nyaman. Kalau metode latihan enak sekali ya sulit bersaing. Jika mental bagus tidak mudah mengeluh, latihan mau model seperti apa pun tidak masalah, yang akhirnya punya fisik prima," kata Salahudin.

2 dari 2 halaman

Tanggung Jawab Simon McMenemy

Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy, tampak lesu usai ditaklukkan Malaysia pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 di SUGBK, Jakarta, Kamis (5/9). Indonesia takluk 2-3 dari Malaysia. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Mantan pelatih Barito Putera dan Persiba Balikpapan ini juga punya pendapat sendiri soal nasib Simon McMenemy bersama Timnas Indonesia. Empat pertandingan dengan hasil negatif, bisa menjadi penilaian terhadap kinerja pelatih asal Skotlandia tersebut.

"Untuk Simon kalau memang tidak yakin lagi ya silakan mundur, kuncinya ada di Simon. Kemudian jika jadwal kompetisi yang disalahkan, itu bukan alasan. Saya dan pemain lain di Timnas Indonesia dulu juga demikian kondisinya," jelas Salahudin.