2 Penyebab PSM Kalah di Markas Tampines Rovers

oleh Abdi Satria diperbarui 13 Feb 2020, 13:15 WIB
Pemain PSM Makassar, Asnawi Mangkualam Bahar, berusaha melewati kawalan pemain Tampines Rovers dalam laga perdana Grup H Piala AFC 2020 di Stadion Jalan Besar, Singapura, Rabu (12/2/2020). (Bola.com/Abdi Satria)

Bola.com, Makassar - PSM Makassar mengawali kiprah di Grup H Piala AFC 2020 dengan kekalahan 1-2 dari tuan rumah Tampines Rovers di Stadion Jalan besar, Singapura, Rabu (12/2/2020). Kekalahan ini belum menutup peluang Juku Eja ke babak selanjutnya. Tapi, kalau tidak cepat  berbenah, bisa jadi target minimal lolos ke semifinal zona Asean sulit tercapai.

Seperti musim lalu, PSM Makassar praktis hanya mengandalkan sisi teknis untuk menentukan nasibnya sendiri. Berharap dukungan militan dari belasan ribu suporternya sudah pasti tidak terjadi. PSM kembali bermarkas di luar Makassar.

Advertisement

Pada tahun lalu, mereka memilih Stadion Pakansari Bogor untuk menjamu lawan di Piala AFC. Kini Juku Eja menjadikan Stadion Madya Senayan, Jakarta sebagai markas baru.

Pada Piala AFC 2019, PSM yang dilatih Darije Kalezic tak pernah kalah saat fase grup. Wiljan Pluim dkk. tercatat menang 4 kali dan 2 kali bermain imbang dalam enam partai. PSM gagal ke final setelah disingkirkan oleh Becamex Binh Duong karena aturan gol tandang dengan agregat 2-2.

Kembali pada laga kontra Tampines, pelatih PSM Bojan Hodak tanpa sungkan mengakui skuatnya memang layak kalah. Terkait hasil ini, mantan pelatih PSM Makassar, Raja Isa, menilai kekalahan Juku Eja dari Tampines terjadi karena dua faktor, yakni kondisi lapangan dan strategi rotasi pemain ala Hodak.

Soal lapangan, Raja Isa menyebut PSM terlambat beradaptasi dengan rumput sintetis. "Saya melihat, permainan PSM baru berkembang di babak kedua," ujar Raja Isa kepada Bola.com, Kamis (13/2/2020) pagi.

Raja Isa juga menyoroti strategi Hodak yang memainkan empat pemain bertipe penyerang dalam waktu bersamaan, yakni Ferdinand Sinaga, Yacob Sayuri, Giancarlo Rodrigues dan Osas Saha. Dengan hanya mematok dua pemain di tengah, Rizky Pellu dan Ahmad Agung di tengah, Tampines leluasa mengusai lini ini.

"PSM terlihat kewalahan meredam variasi serangan Tampines yang melakukan serangan dari dua sisi sayap dan membuat kemelut di kotak penalti PSM," kata Raja Isa.

Menurut Raja Isa, Tampines juga memanfaatkan kecerobohan pemain PSM Makassar yang kerap melakukan pelanggaran tidak perlu seperti Asnawi Mangkualan dan Ahmad Agung. Ia merujuk pelanggaran yang dilakukan PSM mencapai angka 27 kali berbanding 8 kali yang dilakukan oleh Tampines.

Video

2 dari 2 halaman

Rotasi Pemain

PSM saat meladeni Tampines Rovers di Stadion Jalan Besar, Singapura, dalam laga pertama Grup H Piala AFC 2020 (12/2/2020). (Bola.com/Abdi Satria)

Rotasi pemain yang dilakukan Hodak juga dinilai jadi penyebab kekalahan PSM. Rasyid Bakri, Bayu Gatra dan Leo Guntara yang tampil baik saat PSM Makassar mengalahkan Bhayangkara pada laga ujicoba harus duduk di bangku cadangan.

Keputusan Hodak berdampak pada penampilan skuatnya. Lini tengah PSM baru berkontribusi setelah Rasyid masuk menggantikan Ahmad Agung. Yang fatal adalah Roni Beroperay yang menggantikan peran Leo membuat blunder sehingga penyerang Tampines, Jordan Webb, mencetak gol pertama.

Hal senada dikatakan Andi Coklat, pentolan suporter PSM. "Terlalu dini menurunkan pemain yang belum sehati. Lini tengah PSM memang jadi titik lemah sehingga Tampines leluasa mengembangkan permainan," terang Coklat.

Meski begitu, Coklat mengakui secara individu, pemain PSM terbilang lumayan.

Raja Isa dan Coklat yakin Hodak dan skuat asuhannya belajar banyak dari kekalahan ini. "Saya yakin Hodak sudah memikirkan strategi yang tepat buat laga kedua melawan Shan United di Stadion Madya (26/2/202). Masih banyak waktu untuk berbenah," tegas Raja Isa.

Berita Terkait