Pasang Surut Karier Ponaryo Astaman: Metamorfosa dari PKT, PSM, dan Sriwijaya FC

oleh Abdi Satria diperbarui 15 Mei 2020, 23:15 WIB
Sriwijaya FC - Ponaryo Astaman (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Makassar - Ponaryo Astaman pantas masuk dalam jajaran gelandang terbaik yang pernah beredar di Liga Indonesia. Elegan saat memotong serangan lawan serta mobilitas tinggi dalam membantu serangan adalah kelebihan yang dimilikinya. Ia kerap jadi motivator rekan-rekannya di lapangan hijau. Itulah mengapa, ban kapten kerap diberikan kepadanya baik di klub maupun Timnas Indonesia.

Nama Ponaryo Astaman mulai mencuat ketika membawa PKT Bontang menembus final Liga Indonesia 1999-2000. PKT memang gagal juara. Tapi, berkat penampilannya sebagai penopang eks kapten Timnas Indonesia, Fakhri Husaini, di lini tengah, Ponaryo dipanggil memperkuat Timnas Indonesia U-23 untuk Sea Games 2001 di Malaysia.

Advertisement

Dalam ajang itu, Timnas Indonesia U-23 berhasil menembus semifinal sebelum dikandaskan Thailand 1-2 lewat babak perpanjangan waktu. Seperti diketahui, Thailand akhirnya meraih medali emas setelah mengalahkan Malaysia 1-0 di laga final.

Ponaryo beruntung sempat bermain satu tim dengan Fakhri pada awal karier profesionalnya.

"Bang Fakhri banyak memberi masukan kepada saya. Apalagi saat itu, statusnya adalah pemain sekaligus asisten pelatih. Saya banyak belajar darinya," kata Ponaryo yang memulai petualangannya bermain di klub luar Kalimantan dengan menerima tawaran PSM Makassar pada 2003.

Bersama PSM, penampilan Ponaryo berkembang dan matang. Berduet di lini tengah dengan Syamsul Chaeruddin yang dikenal sebagai pemain petarung, membuat Ponaryo lebih mudah berkreasi.

Terutama saat memanfaatkan ruang kosong di lini pertahanan lawan. Pada momen itu, ia bisa melepaskan tendangan keras yang kerap berbuah gol.

Cara bermain itu melekat pada diri Ponaryo. Golnya ke gawang Qatar di Piala Asia 2004 lahir lewat proses yang kerap dilakukannya bersama PSM. Berkat golnya itu, timnas Indonesia mengalahkan Qatar 2-1 sekaligus menjadi kemenangan perdana skuat Garuda di ajang tertinggi benua Asia itu. Satu gol lainnya dicetak Budi Sudarsono.

Tiga musim bersama PSM, pencapaian terbaik Ponaryo adalah membawa Juku Eja meraih runner-up dua musim beruntun, yakni 2003 dan 2004, plus pemain terbaik pada Liga Indonesia 2004.

Setelah membawa Juku Eja menembus 8 Besar Liga Indonesia 2005, Ponaryo Astaman mencoba peruntungannya bermain di luar negeri. Ia menerima tawaran Malacca Telekom, klub Liga Super Malaysia yang membutuhkan jasanya.

 

Video

2 dari 2 halaman

Trofi Juara Bersama Sriwijaya FC

Ponaryo Astaman

Selepas memperkuat Malacca Telekom, Ponaryo Astaman melanjutkan petualangannya dengan bergabung di Arema Malang pada 2007 hingga 2008 dan Persija Jakarta pada 2008 hingga 2009. Pencapaian Ponaryo pada dua klub itu terbilang datar.

Bersama Arema, Ponaryo hanya sempat tampil sampai 8 Besar Liga Indonesia 2007-2008. Hasil tak beda jauh ketika ia memerkuat Persija Jakarta pada Liga Super Indonesia 2008-2009 yang menerapkan sistem kompetisi penuh. Macan Kemayoran bertengger di peringkat tujuh klasemen akhir kompetisi.

Penantian panjang Ponaryo akan gelar di level klub akhirnya tercapai ketika ia memperkuat klub asal Palembang, Sriwijaya FC. Ia mengawalinya dengan menggenggam trofi juara Piala Indonesia 2010. Setahun kemudian, Ponaryo jadi bagian penting Sriwijaya meraih trofi juara Liga Super Indonesia musim 2011-2012.

Setahun kemudian, Ponaryo kembali ke Makassar memenuhi permintaan Sadikin Aksa, petinggi Bosowa Grup yang mengambil alih kepemilikan saham mayoritas PSM dari Medco Grup pada akhir 2013. Sejalan dengan faktor usia, penampilan Ponaryo tak lagi sebaik ketika pertama kali membela PSM pada 2003.

Pada periode 2013-2016, Ponaryo sempat dipinjamkan ke Persija. Sebelum pensiun, Ponaryo menghabiskan kariernya di Borneo FC. Kini, ia lebih dikenal sebagai komentar sepak bola di era Liga 1.

Berita Terkait